Mantan PM Malaysia Sebut Islam Utamakan Rekonsiliasi

Fajar Nugraha    •    Rabu, 25 Nov 2015 10:00 WIB
konferensi icis
Mantan PM Malaysia Sebut Islam Utamakan Rekonsiliasi
Wamenlu A.M Fachir di pelaksanaan Konferensi ICIS (Foto: Dok.Kemlu)

Metrotvnews.com, Malang: Mantan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi menyebut bahwa Islam selalu mengutamakan rekonsiliasi dan harmonisasi. Hal tersebut disampaikannya dalam konferensi ulama internasional (ICIS).

"Islam adalah agama penuh rahmat yang senantiasa membawa nilai-nilai kebaikan dan saling memaafkan, oleh karenanya Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin akan selalu mengambil jalan rekonsilisasi dan harmonisasi dibandingkan jalan kekerasan," sebut Badawi, dalam Konferensi Ulama, Cendekiawan Muslim, Ulama, dan Sufi se-dunia ke-4 (International Conference of Islamic Scholars/ICIS) di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang (24/11/2015), dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri yang diterima Metrotvnews.com, Rabu (25/11/2015).

Badawi turut berbagi pengalaman mengenai Islam Hadhari yang diterapkan sejak masa kepemimpinannya di Malaysia. Menurutnya, Islam Hadhari bertujuan untuk menciptakan nilai-nilai moderasi, harmonisasi sosial, dan pembangunan ekonomi.

Ditambahkan bahwa Islam Hadhari didasarkan atas 10 prinsip dasar (Dasa Sila), antara lain kepercayaan kepada Allah, pemerintahan yang adil, kualitas kehidupan yang baik, serta pembangunan ekonomi menyeluruh yang dilakukan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan perbaikan sistem keuangan dan perdagangan negara.

Sementara mantan Menlu RI Hassan Wirajuda menegaskan pentingnya Muslim untuk menyelesaikan masalahnya sendiri serta mengakhiri tindakan kekerasan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam seperti yang dilakukan oleh Al Qaeda dan ISIS.

"Guna mencegah tindakan ekstremisme, radikalisme dan terorisme Pemerintah dan Ulama berperan penting dalam mempromosikan Islam moderat melalui dialog lintas agama dan intra agama Islam," sebut Hassan.

Tokoh agama dari Spanyol, Prof. Abdus Samad Antonio Romero, menegaskan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan pengikutnya untuk berperang satu sama lain. Justru, Islam mengajarkan ta’aruf (saling kenal), ta’awun (bekerjasama) dan ta’ayusy (koeksistensi) di dalam kehidupan beragama. Oleh karena itu, Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin seharusnya dapat menjadi sebuah panduan etika global (global ethics).
 
Adapun Direktur European Network against Racism di Belgia, Dr. Michael Privot mengatakan bahwa langkah yang dapat diambil untuk mengatasinya antara lain dengan mendorong Indonesia untuk berbagi pengalaman dan best practices dalam penerapan Islam moderat dan toleransi beragama di Indonesia ke seluruh dunia terutama negara-negara di Eropa; mencatat pengalaman tersebut dan menerjemahkannya ke dalam teks terbitan bahasa Inggris; serta menguatkan jaringan Ulama dari berbagai kawasan termasuk Eropa. Ini berguna untuk mengatasi Islamofobia.

ICIS ke-4 diselenggarakan atas kerjasama International Conference of Islamic Scholars (ICIS), Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, JATMAN dan Kementerian Luar Negeri. Konferensi diikuti oleh 65 tokoh agama dan ulama berpengaruh dari 34 negara, 500 ulama dari seluruh Indonesia, para akademisi dan para Duta Besar negara sahabat. Konferensi ICIS sebelumnya telah dilaksanakan tiga kali pada 2004, 2006 dan 2008.
 


(FJR)

Pelaku Serangan London Tak di Bawah Kendali ISIS

Pelaku Serangan London Tak di Bawah Kendali ISIS

9 hours Ago

Tidak ada bukti bahwa pelaku serangan, Khalid Masood tergabung dalam kelompok radikal mana pun…

BERITA LAINNYA