Mengapa Laut China Selatan Diperebutkan?

Willy Haryono    •    Kamis, 08 Sep 2016 16:20 WIB
laut china selatan
Mengapa Laut China Selatan Diperebutkan?
Aktivitas reklamasi Tiongkok di Kepulauan Spratlys di Laut China Selatan. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Vientiane: Laut China Selatan menjadi fokus dalam KTT ASEAN di Vientiane, Laos, Kamis (8/9/2016). Sengketa perairan yang dimulai sejak era 90-an ini masih bergulir hingga sekarang. 

Tiongkok mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, bahkan di perairan yang dekat dengan beberapa negara tetangga. Klaim sepihak itu didasarkan atas sembilan garis putus atau nine-dashed line Tiongkok dari peta versi mereka sendiri yang dibuat pada 1940-an. 

Filipina dan beberapa negara Asia Tenggara geram dengan klaim Tiongkok. Sejumlah pakar menyebut Laut China Selatan yang memiliki luas sekitar tiga juta kilometer per segi adalah perairan rawan konflik. 

Pengadilan Arbitrase Internasional (PCA) mengeluarkan putusan terkait Laut China Selatan pada Juli, dengan menyatakan klaim Tiongkok di Laut China Selatan tak berdasar. 

Berikut empat pertanyaan kunci seputar seluk beluk Laut China Selatan versi kantor berita AFP

1. Ada apa saja di Laut China Selatan dan siapa yang memperebutkannya?

Sebagian besar Laut China Selatan adalah perairan kosong -- ratusan pulau kecil, batuan dan karang yang secara alami tidak dapat menyokong permukiman manusia. 

Kepulauan yang cukup signifikan di Laut China Selatan termasuk Paracels di utara dan Spratlys di selatan. 

Namun negara-negara yang mengelilingi perairan tersebut -- Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei Darrusalam, Taiwan dan Tiongkok -- sama-sama mengklaim, setidaknya sebagian dari Laut China Selatan. 


Kapal Tiongkok berlayar di Kepulauan Spratlys, Laut China Selatan. (Foto: AFP)

2. Jika tidak ada apa-apa di sana, mengapa diperebutkan?

Sejumlah ilmuwan meyakini dasar laut di perairan tersebut mengandung minyak, gas dan mineral. Negara mana pun yang menguasai Laut China Selatan dapat memanfaatkan sumber daya tersebut untuk kesejahteraan negara.

Laut China Selatan juga merupakan area potensial untuk penangkapan ikan, yang dapat menyokong kebutuhan pangan yang kian meningkat di negara-negara Asia. 

Namun nilai utama dari Laut China Selatan adalah posisinya yang strategis. Kapal-kapal dari sektor perdagangan dengan nilai lebih dari USD5 triliun per tahun melewati Laut China Selatan. Komoditas perdagangan tersebut meliputi material mentah, produk jadi dan minyak dalam jumlah besar.

Beijing menganggap Laut China Selatan sebagai halaman belakang mereka sendiri, sebuah perairan bebas di mana angkatan lautnya dapat berlayar tanpa gangguan apapun. 

Tiongkok juga memandang penguasaan Laut China Selatan sebagai langkah strategis untuk melemahkan pengaruh Amerika Serikat (AS) di kawasan. 

3. Bagaimana perkembangan konflik Laut China Selatan sejauh ini?


Kapal Tiongkok di perairan dekat Kepulauan Paracels, Laut China Selatan. (Foto: AFP) 

Selama bertahun-tahun, para negara pengklaim telah membangun infrastruktur di beberapa karang dan pulau kecil untuk mengukuhkan klaim. Program reklamasi Tiongkok di Laut China Selatan merupakan yang paling agresif dibanding negara lainnya. 

Serangkaian foto satelit memperlihatkan sejumlah pulau artifisial di Laut China Selatan, di perairan yang dulunya hanya ada terumbu karang. Sejumlah arsitektur juga dibangun di pulau-pulau artifisial itu, termasuk landasan pacu yang dapat digunakan untuk pesawat besar. 

Negeri Tirai Bambu bersikukuh tujuan dari pembangunan itu semata untuk perdamaian, namun AS dan negara lainnya curiga Beijing hendak mengklaim keseluruhan Laut China Selatan yang dapat mengancam kebebasan bernavigasi. 

Washington mengatakan Laut China Selatan adalah perairan internasional yang dapat dilayari kapal dari semua negara. Tiongkok menilai sikap AS sebagai sebuah provokasi dan memintanya untuk tidak ikut campur dalam urusan perairan kawasan.

4. Apa isi dari putusan pengadilan internasional mengenai Laut China Selatan?


PCA mengeluarkan putusan mengenai Laut China Selatan. (Foto: AFP)

PCA menyatakan sembilan garis putus atau nine-dashed line di Laut China Selatan tidak berdasar, sehingga Tiongkok tidak berhak mengklaim sumber daya yang ada di sana. Putusan PCA merupakan kemenangan besar bagi Filipina, yang melayangkan gugatan terkait klaim Tiongkok ke PCA pada 2013. 

Pengadilan yang berada di Den Haag itu juga menyatakan bahwa pulau-pulau artifisial tak berpenghuni yang dibangun Tiongkok di Laut China Selatan tidak memiliki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sejauh 200 mil laut. Putusan PCA semakin memperkecil luas area yang diklaim Tiongkok. PCA juga menyebut Tiongkok telah banyak melanggar hukum dan merusak ekosistem Laut China Selatan.

Namun Tiongkok bertekad mengabaikan putusan PCA, dan justru mengumumkan akan adanya "hukuman" bagi siapapun yang berani menangkap ikan di Laut China Selatan. Tiongkok juga melanjutkan proses reklamasi.


(WIL)

Visi Misi Hillary-Trump Saling Bertentangan

Visi Misi Hillary-Trump Saling Bertentangan

5 minutes Ago

Debat kandidat calon Presiden AS Hillary Clinton dan Donald Trump di Hempstead, New York, berlangsung…

BERITA LAINNYA