Direktur CIA Pilihan Trump Ingin Eksekusi Snowden

Arpan Rahman    •    Senin, 21 Nov 2016 12:50 WIB
edward snowden
Direktur CIA Pilihan Trump Ingin Eksekusi Snowden
Edward Snowden saat ini masih dalam pelariannya (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Washington: Dokumen rahasia negara Amerika Serikat (AS) yang dibocorkan oleh Edward Snowden sempat menyita perhatian publik. Pemerintah AS merasa ditelanjangi di muka dunia.
 
Darnyell M Wint, salah satu pendiri 'Pemuda Amerika untuk Kebebasan' organisasi di University of South Florida, sarjana ilmu politik dalam hubungan internasional lulusan University of South Florida, memaparkan opininya di The Libertarian Republic, Minggu (20/11/2016). 
 
Berikut, petikannya:
 
Surat kabar Jerman Der Spiegel mewawancarai Presiden Obama, pada Jumat 18 November, dan bertanya apakah ia akan mengampuni pembocor dokumen Edward Snowden. 
 
"Saya tidak bisa mengampuni seseorang yang belum pernah dibawa ke depan pengadilan dan membela dirinya sendiri, jadi itu bukan sesuatu yang akan saya komentari pada saat ini," jawab Obama.
 
Snowden didakwa dengan pencurian, "komunikasi yang tidak sah dari informasi pertahanan nasional," dan "komunikasi yang disengaja atas informasi rahasia komunikasi intelijen untuk orang yang tidak berhak," menurut pengaduan pidana pemerintah Amerika Serikat (AS) versus Edward J. Snowden.
 
"Jika menyangkut posisi Obama tentang grasi untuk Snowden, itu hak prerogatif Presiden, tapi jawaban Obama mungkin sedikit menyesatkan. Ini menunjukkan bahwa tangannya terikat sampai Snowden diajukan ke pengadilan," tulis Wint.
 
Menurut putusan Mahkamah Agung yang berlaku sejak tahun 1886, "Kekuatan grasi yang diberikan oleh Konstitusi pada Presiden tidak terbatas kecuali dalam kasus pemakzulan. Ini meluas ke setiap pelanggaran yang dikenal dalam hukum, dan dapat dilaksanakan setiap saat setelah dibentuk komisi, baik sebelum proses hukum yang diambil atau selama ketergantungan mereka, atau setelah hukuman dan putusan. Kekuasaan tidak tunduk pada kontrol legislatif."
 
Jadi tidak ada pembatasan konstitusional yang menghalangi Obama untuk mengampuni Snowden. Blog The Pardon Power mencatat bahwa Obama "hanya memberikan grasi dan keringanan hukuman bagi orang-orang yang telah dihukum."
 
Obama menyatakan dalam wawancara bahwa Snowden "mengangkat beberapa kepentingan yang sah," tapi dia "tidak mengikuti prosedur dan praktik dari komunitas intelijen kami."
 
Beberapa individu sangat berpengaruh mengambil posisi ekstrem dalam soal keamanan melebihi privasi. Ambil contoh, Direktur CIA pilihan Trump, Mike Pompeo, yang mengatakan pada C-SPAN bahwa Snowden "harus dibawa kembali dari Rusia dan dikenakan proses hukum, dan saya pikir hasil yang tepat akan membuat dia diberi hukuman mati."
 
Dalam sepucuk surat pada 2014, ia meminta Kongres untuk "meluluskan pengembalian sebuah koleksi hukum dari seluruh metadata, lalu menggabungkan dengan informasi keuangan dan gaya hidup yang tersedia secara umum menjadi komprehensif, sebagai basis data yang mudah dicari."
 
Pompeo menentang semua hambatan hukum yang membatasi kemampuan NSA untuk memata-matai warga Amerika. Menurut sebuah artikel Wall Street Journal, Pompeo menulis bahwa "Apa yang dibutuhkan adalah peningkatan mendasar atas kemampuan pengawasan Amerika."
 
Serikat Kebebasan Sipil Amerika (ACLU) merilis sebuah pernyataan yang mengatakan "posisi anggota Kongres, Pompeo, pada pengawasan massal dan Teluk Guantanamo juga meningkatkan keprihatinan serius dalam kebebasan sipil tentang privasi dan proses hukum."



(FJR)