Tantangan bagi Merkel di Pemerintahan Baru Jerman

Fajar Nugraha    •    Selasa, 26 Sep 2017 17:15 WIB
politik jerman
Tantangan bagi Merkel di Pemerintahan Baru Jerman
Kanselir Jerman Angela Merkel kembali memimpin negaranya (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Berlin: Kanselir Jerman Angela Merkel kembali berkuasa, namun ada tantangan membentang di depan. Partai Christian Democrats (CDU) yang dipimpin Merkel tidak mampu mengendalikan kursi parlemen secara penuh.
 
 
Blok konservatif Merkel memang melemah, namun setidaknya suara mereka masih lebih besar dibandingkan partai sayap kanan yang anti-Islam, Alternative for Germany (AfD). Hal pemilu kali ini bisa dianggap sebagai yang terburuk dialami oleh CDU sejak Perang Dunia II.
 
Isu imigran yang masuk ke Jerman, menjadi senjata bagi AfD untuk menusuk melakukan serangan. 8,5 persen suara dari CDU hilang dalam pemilu dan beralih ke sayap kanan.
 
Bahkan tantangan muncul dari Partai Bavarian CSU, yang selama ini menjadi rekan CDU. Mereka menyuarakan perubahan agar pemerintah berpihak lebih ke sayap kanan.
 
Dengan agenda anti-Islam dan xenofobia, AfD berhasil meraih ratusan ribu suara dari wilayah tengah sayap kanan. Kandidat dari AfD, Alexander Gauland meraih dukungan besar dengan retorika beracun namun ampuh diterima oleh pendukung dari partai yang meraih 13 persen suara parlemen itu.
 
 
Sangat beracunnya retorika yang diketengahkan Gauland, bahkan membuat mantan pemimpin partainya, Frauke Petry, mundur pada Senin 25 September. Menurutnya apa yang dibawa oleh AfD saat ini 'terlalu ekstrem'.
 
Merkel tentunya sulit untuk melakukan koalisi dengan AfD. Tetapi ada beberapa skenario koalisi yang bisa dibentuk.
 
Skenario pertama adalah 'Koalisi Jamaika' (warna bendera Jamaika, kuning, hijau, hitam). Kuning menandakan warna Free Democratic Party (FPD) dan Hijau melambangkan Partai Hijau. Kemudian skenario kedua adalah koalisi 'Hitam-Merah' antara CDU dengan Social Democratic Party (SDP).
 
Namun ada kekurangan dari masing-masing skenario ini. 'Koalisi Jamaika' bukan tipikal yang 'tengah'. Pemimpin FDP, Christian Lindner adalah sosok yang tidak akan berkompromi terhadap disiplin fiskal di zona Eropa. Hal ini bisa memicu kesulitan dari hubungan Prancis-Jerman. Secara keseluruhan, FDP akan menjadi jangkar yang skeptis terhadap Eropa.
 
Sementara Partai Hijau menegaskan kebijakan menentang perubahan iklim dan menginginkan dihentikannya mobil dengan bahan bakar hingga 2030. 
 
Skenario koalisi Hitam-Merah ditentang oleh pimpinan SDP, Martin Schulz. Di lain pihak, kondisi ini bisa membuat AfD merebut posisi parti koalisi, yang bisa membuat suaranya semkin lantang.
 
Terlebih lagi, meski meraih suara 20 persen, menjadi pemegang peran kedua dari CDU dinilai dapat mengikis suara dukungan dari kelompok sayap kiri.



(FJR)