Hilangnya Daerah Kekuasaan, Lemahkan ISIS di Suriah dan Irak

Arpan Rahman    •    Sabtu, 04 Nov 2017 18:09 WIB
isis
Hilangnya Daerah Kekuasaan, Lemahkan ISIS di Suriah dan Irak
Tank milik Pemerintah Suriah yang melakukan operasi di Kota Deir el-Zour (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Beirut: Kehilangan wilayah, kelompok militan Islamic State (ISIS) telah terusir dari lebih dari 96 persen bagian besar Irak dan Suriah yang pernah mereka kuasai. Sekaligus menghancurkan tujuan ISIS buat menciptakan 'khilafah' di wilayah ini.
 
Militer Suriah, pada Jumat 3 November, mengumumkan pembebasan kota Suriah timur Deir el-Zour. Sementara Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengumumkan kemenangan merebut kembali kota Qaim di perbatasan, daerah perkotaan terakhir yang strategis di Irak.
 
Militan masih berjuang di pertarungan terakhir wilayah Suriah dan gurun di sepanjang perbatasan Irak-Suriah. Tiga tahun lalu, mereka dengan sengaja menghapus garis batas itu, menjatuhkan bendera yang menandai perbatasan.
 
Sejak saat itu, ISIS telah kehilangan infrastruktur, sumber daya, rute pasokan, kekuasaan atas lebih dari 8 juta orang, dan -- yang terpenting -- administrasi wilayah yang berdekatan. Kelompok ekstremis tersebut mungkin masih terbukti menjadi tantangan besar selama berbulan-bulan karen menjelma pemberontakan klandestin.
 
Apa yang hilang dalam 11 bulan terakhir, dan apa yang tersisa, berikut lansiran Fox News, Sabtu 4 Novemberr 2017:
 
QAIM
 
Pertarungan terakhir militer Irak melawan ISIS bergolak di Qaim, sisi barat provinsi Anbar di sepanjang perbatasan Suriah. Operasi dimulai di sana pada pekan terakhir Oktober. Di hari Jumat, Irak mengatakan bahwa pihaknya sekarang mengendalikan kota tersebut dan persimpangan perbatasan terdekat dengan Suriah.
 
Penyeberangan di Lembah Sungai Efrat digunakan ISIS untuk memindahkan para pejuang dan pasokan antarkedua negara saat kelompok tersebut menguasai hampir sepertiga wilayah Irak.
 
DEIR EL-ZOUR
 
Pemerintah Suriah mengumumkan, pada Jumat, bahwa pihaknya telah menguasai sepenuhnya Deir el-Zour. Di sana pasukannya dan puluhan ribu warga sipil telah dikepung oleh militan ISIS selama hampir tiga tahun.
 
Jenderal Ali Mayhoub, juru bicara tentara Suriah, menyebutnya sebagai kemenangan strategis. Tercatat lokasi Deir el-Zour di persimpangan jalan yang menghubungkan wilayah timur, utara, dan tengah Suriah.  Perannya penting dalam mendistribusikan minyak provinsi tersebut.
 
RAQQA
 
Raqqa, ibu kota de facto grup ISIS, jatuh ke pasukan pimpinan Kurdi pada 17 Oktober, empat bulan setelah operasi rebut kembali dimulai. Kota ini merupakan pusat operasi kelompok tersebut, dan pengmbilalihannya merupakan pukulan simbolis utama.
 
Ini kota pertama yang jatuh ke tangan ISIS, pejuang asing berbondong-bondong ke Raqqa. Koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) memperkirakan 40.000 pejuang dari Eropa, Afrika Utara, dan Asia pernah masuk ke wilayah ISIS.
 
MAYADEEN
 
Pada 14 Oktober, Pemerintah Suriah berkata, pasukan dan pejuang sekutunya merebut kota Mayadeen, di tepi barat Sungai Efrat. Kota ini menjadi tempat berlindung bagi pemimpin kelompok militan ISIS untuk berperang di Raqqa dan Deir el-Zour ke utara dan Irak ke timur.
 
Mayadeen juga merupakan poin utama dalam perebutan menguasai provinsi Deir el-Zour yang kaya minyak. Washington telah mengkhawatirkan kemajuan pasukan Suriah dan pejuang sekutu menuju perbatasan Irak dapat membantu Iran memperluas pengaruhnya di wilayah tersebut dan membangun sebuah "koridor Syiah" lewat hubungan darat dari Irak ke Lebanon, dan sampai ke Israel. Iran mendukung milisi yang bertempur di samping militer Suriah.
 
HAWIJA
 
Butuh waktu 20 hari membebaskan Hawija, yang dirampas ISIS sebagai daerah perkotaannya yang penting di Irak.
 
Pasukan Irak bertempur di samping Peshmerga Kurdi guna merebut kembali kota di provinsi Kirkuk yang kaya minyak pada 10 Oktober. Ratusan pejuang ISIS dan keluarga mereka menyerah kepada pasukan Kurdi.
 
Jatuhnya kota juga menghilangkan faktor pemersatu untuk Peshmerga dan polisi militer dan federal Irak bersama sekutu milisi Syiah mereka. Membuka jalan bagi ketegangan yang terjadi di antara bekas sekutu tersebut.
 
TAL AFAR
 
Kota ini dibebaskan pasukan Irak didukung koalisi, 30 Agustus. Mengakhiri kehadiran ISIS di Irak utara. Ribuan militan ISIS dan keluarga mereka menyerahkan diri kepada pasukan Irak dan Kurdi saat kota tersebut jatuh, contoh pertama penyerahan massal militan ISIS yang takluk dari militer.
 
Berbeda dengan pertempuran sembilan bulan merebut Mosul, kemenangan militer cepat di Tal Afar menjadi tanda pertama dari kerugian medan perang yang telah melemahkan ISIS sebagai kekuatan militer konvensional, menurut koalisi tersebut.
 
MOSUL
 
Pasukan Irak mengumumkan kemenangan di Mosul pada 10 Juli. Sementara bentrokan berlanjut di antara kelompok-kelompok kecil militan ISIS di terowongan di bawah kota tua selama berminggu-minggu setelahnya. Hilangnya Mosul secara efektif mematahkan dukungan khalifah.
 
Kota terbesar kedua di Irak, Mosul merupakan pusat pertemuan pimpinan ISIS. Kota terbesar di bawah kendali militan dan merupakan lokasi penting untuk membuat bom mobil, peledak, dan mortir yang lebih kecil. Militan menggunakan warga sipil sebagai perisai demi mencegah pabrik senjata tidak menjadi target serangan udara koalisi.
 
Apa yang tersisa
 
Kota Boukamal di Suriah adalah pusat kota besar terakhir di tangan ISIS. Kelompok ini juga tersebar di sepanjang perbatasan Suriah-Irak di desa-desa di provinsi Hassakeh dan Deir el-Zour di Suriah timur.
 
Ada juga sel ISIS kecil di provinsi Niniwe, Anbar, dan Salahudin, Irak, di mana pemerintah pusat tidak memiliki kendali yang kuat selama bertahun-tahun.
 
Di sepanjang garis tipis di perbatasan kedua negara, militan masih hadir di wilayah yang terletak di sebelah barat Sungai Efrat menuju gurun Suriah, antara provinsi Deir el-Zour dan Homs. Juga kehadiran sedikit militan ISIS di dekat Damaskus.
 
Dalam sebuah pengarahan, pekan lalu, Jenderal Joseph Dunford, ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengatakan sejumlah kecil pemimpin ISIS "mencoba memanfaatkan pemberontakan lokal" di Afrika dan Asia karena mereka kehilangan wilayah di Irak dan Suriah.
 
Kelompok militan dan afiliasi lokal di Mesir, Libya, wilayah Sahel di Afrika, dan Filipina terus menantang pihak berwenang, melakukan serangan reguler.



(FJR)