Normalitas Terorisme

Arpan Rahman    •    Rabu, 24 May 2017 18:07 WIB
teror manchester
Normalitas Terorisme
Polisi Inggris di sekitar lokasi serangan di Manchester Arena (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Manchester: Di Benua Eropa, hari-hari berduka menyusul serangan teroris telah menjadi rutinitas. Duka-cita bisa membantu menyembunyikan perasaan tidak berdaya, tapi apakah para politisi harus berbuat lebih banyak demi mencegah kekerasan semacam ini?
 
Pertanyaan itu diutarakan kolumnis Felix Steiner untuk menyinggung serangan bom bunuh diri di Manchester, Inggris. Berikut, opini Steiner seperti dilansir Deutsche Welle, Selasa 23 Mei 2017:
 
Sekali lagi, terorisme menargetkan pusat kota Eropa. Serangan menyasar orang-orang yang hanya mencoba bergembira, orang-orang yang keluar rumah di waktu yang baik. Serangan bunuh diri ini, sekali lagi, diakui Islamic State (ISIS) sebagai tanggung jawabnya, bahkan sebelum polisi mengumumkan sesuatu ke publik.
 
Pilihan tempat untuk menyerang -- Manchester Arena -- nampaknya sangat mengerikan saat ini: sebuah konser musik pop. Ini berarti di kalangan korban banyak anak-anak dan remaja. Mereka yang dapat mengingat saat-saat remaja, atau yang memiliki anak seusia para korban, tahu persis betapa menariknya jenis pertunjukan ini bagi kaum muda. 
 
Mereka tahu betapa bahagianya dan kayanya imajinasi anak-anak ini saat mereka pulang. Dan kemudian mereka jatuh ke tangan pembunuh brutal, tidak ada kasus teroris di planet ini yang bisa membenarkan tindakan serupa. Seberapa gilanya orang yang secara sadar menargetkan korban tersebut?
 
Media mengalami syok
 
Berurusan dengan serangan teroris sudah menjadi seperti pengalaman deja vu (berulang kembali). Semua gerai berita mengusung berita utama yang sama: "Kronologi terorisme," "Apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui." Lalu ada saksi mata yang tidak berarti dan hanya voyeuristik: "Orang-orang mulai berteriak dan kemudian mereka melarikan diri" -- apa lagi yang mereka lakukan? 
 
Banyak reaksi dari dunia musik dan politisi: Mereka ingin menunjukkan kesedihan mereka, tapi mereka tampak pamrih -- seolah-olah mereka akan mengarahkan gerakan. Sejak dini hari, orang-orang telah mencuit di Twitter, untuk apa yang nilainya: Pikiran semua orang ada beserta para korban. Dan semua negara beradab menunjukkan solidaritas mereka dengan Inggris. Apapun itu sebenarnya maknanya.
 
Perlu juga disebutkan bahwa Menara Eifel di Paris menjadi gelap pada Selasa 23 Mei malam. Tentu saja inilah simbol kesedihan yang akan ditayangkan di semua gerai berita keesokan harinya. Sama seperti foto-foto perdana menteri Inggris di lokasi serangan dan urusan peringatan di Manchester yang akan digelar. Semua menunjukkan bahwa Eropa, yang telah menjadi target reguler teroris militan, sekarang memiliki rutinitas mapan untuk mengatasi kejutan tersebut. Inilah ritual yang berfungsi untuk menyembunyikan fakta bahwa tidak ada jawaban yang mudah atau cepat dan efektif dalam menjunjung perjuangan melawan terorisme. Dan tidak ada jawaban seperti itu yang bisa ditemukan.
 
Seolah tak ada yang terjadi
 
Dan besok, kehidupan di Eropa akan berlanjut seolah-olah tidak ada yang terjadi. Orang-orang masih akan menghadiri konser, pergi ke pusat perbelanjaan, pertandingan sepak bola atau, di Jerman, pergi ke Majelis Gereja Protestan. 
 
Mereka mungkin merasa tidak nyaman -- tapi mereka tetap akan berduyun-duyun datang. Dan ini karena mereka telah menerima kemungkinan terorisme seperti hal biasa. Ekstremis sayap kanan akan melihat ini sebagai tanda kelemahan dan terus mengeluh soal melarang segenap Muslim dari Eropa. Tapi orang lain menganggapnya sebagai tanda kekuatan dan keteguhan hati, karena orang tidak terintimidasi atau terbawa perasaan oleh terorisme.
 
Tapi masih ada lebih banyak tindakan yang bisa dilakukan oleh politisi, ada pilihan lain: Misalnya dengan melakukan kontrol ketat, dan jika perlu melarang, semua tempat ibadah di mana teroris telah mengalami radikalisasi. 
 
Ini sebenarnya ada di seluruh Eropa. Atau, seperti yang didemonstrasikan secara pragmatis, pada Minggu 21 Mei, di Arab Saudi oleh Donald Trump: Dia memiliki sebuah kontrak yang ditandatangani oleh lebih dari 50 kepala negara -- di atas semuanya, Raja Arab Saudi -- demi mencegah pendanaan ISIS secara langsung di negara-negara mereka. 
 
Mungkin ini tidak banyak mencegah serangan teroris di kota-kota Eropa -- yang masih harus dilihat lebih jauh. Tapi jelas lebih pintar daripada tidak melakukan apa-apa, atau seperti membiarkan pengeboman yang bodoh di kota-kota Timur Tengah di mana, tentu saja, warga sipil juga bermukim.



(FJR)