Kuba di Tangan Pemimpin Baru Tanpa Berbau Castro

Fajar Nugraha    •    Senin, 12 Mar 2018 18:05 WIB
kuba
Kuba di Tangan Pemimpin Baru Tanpa Berbau Castro
Miguel Diaz-Canel calon pengganti Raul Castro sebagai Presiden Kuba (Foto: AFP).

Havana: Kuba dalam persimpangan di mana keluarga Castro tidak akan lagi menjadi penguasa.
 
Setelah selama enam dekade Fidel Castro dan diikuti adiknya Raul Castro berkuasa di negara sosialis itu, sampai tiba pada masa pergantian.
 
Pada Minggu 11 Maret 2018, warga Kuba memberikan suara bagi perwakilan mereka yang akan mengisi perwakilan daerah dan nasional. Ini adalah langkah final dalam pergantian pemimpin dan rencana Raul Castro mundur sebagai Presiden Kuba pada 19 April mendatang.
 
Nama Miguel Mario Diaz-Canel Bermudez menjadi sosok paling kuat untuk menggantikan posisi Raul Castro yang saat ini sudah berusia 86 tahun. Diaz-Canel saat ini menjabat Wakil Presiden pertama Kuba.
 
Prestasinya bisa dikatakan cukup mentereng. Pria berusia 57 tahun itu juga menjadi anggota politbiro Partai Komunis Kuba (PCC) sejak 2003.


Miguel Diaz-Canel memberikan suara dalam pemilu parlemen (Foto: AFP).

 
Kuliah di Central University of Las Villas pada 1982, Diaz-Canel mengambil jurusan teknik elektro. Kemudian di tahun yang dirinya bergabung dengan Angkatan Bersenjata Revolusi Kuba. Pada awal April 1985 dia mulai mengajar di almamaternya dan pada 1987 merampungkan misi internasional di Nikaragua sebagai Sekretaris Pertama untuk 'La Unión de Jóvenes Comunistas (UJC)' (Persatuan Komunis Muda) di Villa Clara.
 
Baru pada 1993, pria yang memiliki dua anak ini mulai bekerja untuk Partai Komunis Kuba (PCC) dan setahun kemudian terpilih sebagai Sekretaris Pertama wilayah Villa Clara. Pada 2003 Diaz-Canel terpilih sebagai anggota parlemen mewakili wilayah Provinsi Holguin dan dipromosikan sebagai anggota politbiro di tahun yang sama.
 
Kariernya terus menanjak hingga pada Mei 2009 Diaz-Canel menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi. Posisi itu dia tinggalkan untuk menjabat Wakil Presiden Kuba pertama pada 22 Maret 2012.
 
Sosok yang dikenal pengikut garis keras doktrin Marxisme dan Leninisme ini, merupakan tokoh pertama yang lahir setelah revolusi Kuba mampu mencapai jabatan wakil presiden.
 
 
Menjaring kaum muda
 
Meskipun usianya 57 tahun, Diaz-Canel menjadi harapan baru Partai Komunis Kuba untuk menarik perhatian kalangan muda.
 
Gebrakan yang dilakukannya adalah mencoba untuk membuka kebebasan pers dan internet. Selama ini, negara selalu melakukan monopoli terhadap media selama 58 tahun terakhir.
 
Namun ada topik yang dihindari oleh Diaz-Canel, salah satunya adalah reformasi politik dan ekonomi. Selain itu dirinya juga enggan mengomentari hubungan Amerika Serikat (AS) yang sudah dibuka oleh Raul Castro dengan mantan Presiden AS Barack obama.


Bersama warga Kuba dalam pemilu parlemen (Foto: AFP).

 
Masih belum diketahui secara pasti kebijakan apa yang akan dikeluarkan oleh Diaz-Canel apabila benar-benar menjadi pengganti Castro.
 
Meskipun ada perubahan warga, warga Kuba saat memberikan suaranya pada Minggu, mengharapkan Diaz-Canel bisa melakukan reformasi dramatis. Meskipun ada beberapa reformasi yang dilakukan Raul Castro, pemerintah Kuba tetap mempertahankan monopoli dari sebagai aktivitas ekonomi. Hingga saat ini perekonomian Kuba berjalan stagnan dan tidak produksi.
 
Kaum muda Kuba pada umumnya tidak menyukai kekurangan mereka mendapatkan kesempatan ekonomi. Selain itu, pengawasan ketat dari negara menjadi keluhan mereka.
 
Jebakan ekonomi Kuba
 
Transisi yang akan berlangsung di Kuba akan memperlihatkan bagaimana sosok di lingkaran luar keluarga Castro akan menjadi pemimpin.
 
Bidang ekonomi akan menjadi utama seketika Diaz-Carnel naik sebagai pemimpin. Segera dia akan diharapkan pada masalah sistem mata uang ganda yang dianut Kuba.
 
Isu lain yang harus menjadi perhatian Diaz-Canel adalah modernisasi sektor energi dan diversifikasi kontrak ekonomi yang ditandatangani pada 2016 yang memiliki nilai USD87 miliar. Bencana juga memegang peranan penting, setelah Badai Irma pada 2017 merusak panen tebu.
 
Tetapi, terlepas dari sosok Diaz-Canel yang jauh dari stigma keras seperti Castro bersaudara, pada dasarnya dia akan menjadi orang yang menjalankan kebijakan. Namun, kebijakan ini tetap akan dibuat di politbiro. Nantinya semua akan tergantung bagaimana Diaz-Canel bisa mempengaruhi politbiro untuk menjalankan semua kebijakannya.

Miguel Diaz-Canel menjadi harapan baru untuk Kuba (Foto: AFP).

 
Jaga ambisi
 
Miguel Diaz-Canel bukanlah sosok satu-satunya yang dipersiapkan untuk menggantikan Raul Castro. Ada beberapa nama lain yang sebelumnya memiliki peluang.
 
Di antara nama yang muncul antara lain Carlos Lage. Politikus Kuba berusia 66 tahun itu pernah menjabat Wakil Presiden kedua Kuba. Selain itu adapula Felipe Perez Roque yang sempat menjabat sebagai menteri luar negeri. 
 
Keduanya akhirnya dipecat oleh Raul Castro karena dinilai olehnya terlalu ambisius. Castro juga menuduh mereka telah melakukan kolaborasi dengan agen intelijen Spanyol dan menyebut sebagai pemimpin yang sudah sakit.
 
Diaz-Canel sepertinya menyadari hal ini dan melakukan pergerakan hati-hati dalam pemerintahan. Saking hati-hatinya, setiap komentar yang disampaikan ke publik sangatlah membosankan.
 
Dengan sikapnya ini, patut diperhatikan apa peran dan kekuasaan yang akan didapat di antara para tokoh-tokoh tua di partai. Meskipun banyak yang melihat perannya akan menjadi jembatan antara generasi tua dengan generasi muda, yang tentu dipenuhi dengan tantangan.
 
Jika dia memang terpilih, Diaz-Canel mungkin saja akan mengikuti aturan yang sudah dijalankan sejak Fidel dan Raul Castro berkuasa. Tetapi yang jelas dia akan menjadi sipil pertama yang akan memimpin Kuba dan di saat bersamaan membutuhkan dorong militer dalam menjalankan kekuasaannya.


(FJR)