Beri Korea Utara Pilihan: Berdamai atau Dimusnahkan

Arpan Rahman    •    Senin, 10 Jul 2017 12:57 WIB
korea utara
Beri Korea Utara Pilihan: Berdamai atau Dimusnahkan
Pemimpin Korut Kim Jong-un menggunakan teropong memantau peluncuran misil antarbenua Hwasong-14, 4 Juli 2017. (Foto: KCNA VIA KNS)

Metrotvnews.com, Washington: Uji coba rudal Korea Utara (Korut) pada 4 Juli 2017 -- tepat di Hari Kemerdekaan Amerika Serikat -- telah memicu kemarahan diplomatik di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Saat pemimpin Korut Kim Jong-un semakin tidak rasional, masyarakat internasional harus menyampaikan pesan tenang namun tegas: "Bukan urusan kami bagaimana Anda menjalankan negara Anda -- tetapi jika Anda mengancam kekerasan, maka Korut akan hancur menjadi abu."

Pesan di atas diutarakan ames S. Robbins, anggota Dewan Kontributor AS dan penulis buku This Time We Win: Revisiting the Tet Offensive. Ia juga mengajar di National Defense University dan the Marine Corps University serta bertugas sebagai asisten khusus untuk Menteri Pertahanan di pemerintahan George W. Bush. Opininya, yang dilansir MyCentralJersey dalam bagian USA Today, Senin 10 Juli 2017, berlanjut sebagai berikut:

Pesan itu dipungut dari film fiksi ilmiah anti-nuklir tahun 1951, The Day the Earth Stood Still. Dalam konteks kontemporer, orang Korut adalah Bumi, dan kita adalah alien.

The Day the Earth Stood Still menjadi film yang berisi pesan awal mengenai perlombaan mengembangkan senjata nuklir di era Perang Dingin. Di dalamnya, alien Klaatu yang bijak dan sangat rasional mendarat di Washington sebagai utusan dari luar angkasa, ditemani robot penghancur bernama Gort.

Klaatu mencatat bahwa umat manusia (seperti Korut) telah "menemukan jenis energi atom yang belum sempurna" dan "bereksperimen dengan roket." Alien itu mengamati bahwa "di tangan peradaban yang matang, teknologi roket dan energi atom tidak akan dianggap sebagai senjata agresi."

Hal itu juga berlaku bagi negara adidaya yang sudah berpengalaman, yang menerima paradigma pencegahan nuklir. Tapi, Klaatu melanjutkan, "kami tidak memercayaimu dengan kekuatan seperti itu. Kita tahu potensi perkembangan ini, dan kita terganggu ketika benda itu ada di tangan anak-anak." Atau dalam kasus kontemporer, di tangan seorang diktator muda yang tidak stabil.

Alien Klaatu mewakili pengalaman kehancuran mereka sendiri dengan senjata pemusnah massal (WMD). Setelah negeri alien mengalami kiamat, mereka membangun kembali peradaban mereka dan membentuk tentara polisi galaksi bergaya Gort demi mengidentifikasi dan memadamkan agresi, seperti visi tulen PBB. 

Dengan begitu, mereka bisa terlibat dalam perdagangan antarplanet yang damai (layaknya globalisasi) tanpa takut mengalami kiamat lain. 

"Kami tidak berpura-pura mencapai kesempurnaan," Klaatu menyatakan, "tapi kami punya sistem -- dan akhirnya berhasil."

Tidak seperti beberapa film bertemakan perdamaian lainnya, The Day the Earth Stood Still tidak berkhotbah dengan bentuk cinta tanpa syarat. Klaatu memperjelas bahwa manusia Bumi "tidak memiliki pilihan lain" selain usulan dari alien untuk mengakhiri penelitian pemusnah massal. Jika tawaran ditolak, maka "planet bumi harus dimusnahkan."

Berdamai atau Hancur



Washington sudah mengambil garis retorik keras melawan Pyongyang di masa lalu. Selama bertahun-tahun, itulah kebijakan AS bahwa "tidak bisa menerima" Korut memiliki kemampuan nuklir. 

Tapi, begitu Pyongyang mulai menguji senjata nuklir, kita menerimanya. Ya, sudah ada sanksi dan pernyataan dan gertakan, tapi program senjata Korut terus berlanjut, bahkan makin cepat. Pelajaran abad ke-21 yang dipetik oleh dinasti Kim adalah, jika Anda tidak ingin berakhir layaknya Saddam Hussein atau Moammar Gadhafi, teruslah kembangkan nuklir.

Para pembuat kebijakan AS dulu mungkin telah menghibur diri mereka dengan anggapan bahwa tidak masalah jika mereka membiarkan ambisi nuklir Pyongyang karena Korut kekurangan sistem pengiriman yang dapat mengancam AS dan dunia. 

Namun sekarang Republik Rakyat Demokratik Korea mempercepat laju program misilnya dan telah menguji rudal balistik antarbenua (ICBM), yang oleh Kim disebut "hadiah buat bajingan Amerika." Sederhananya, memproklamirkan hal ini tidak dapat diterima karena kurangnya kredibilitas Pyongyang.

Kita sekarang berada dalam posisi analog alien yang terwakili dalam film 66 tahun silam. Kita mengatakan bahwa risikonya terlalu besar bagi negara-negara bandel dan proliferator lainnya untuk memiliki kekuatan nuklir yang hebat. Kita memiliki peradaban superior, dan negara-negara seperti Korut diperkenankan berpartisipasi.

Tapi jika mereka terus melawan dunia ini, mereka harus berhadapan dengan Gort versi kita. Presiden Donald Trump dan masyarakat internasional dapat menyampaikan kata-kata terakhir kepada Klaatu Pyongyang sebelum meninggalkan Bumi: "Pilihan Anda sederhana. Bergabunglah dengan kami dan hidup dalam damai. Atau ikuti ambisi Anda sekarang -- dan hadapilah pemusnahan. Kami akan menunggu jawaban Anda. Keputusan itu ada pada Anda. "

 


(WIL)