Pesan Kim Jong-Un dalam Tes Rudal Korut Terbaru

Arpan Rahman    •    Jumat, 15 Sep 2017 15:11 WIB
rudal korut
Pesan Kim Jong-Un dalam Tes Rudal Korut Terbaru
Kim Jong-Un terus mengejutkan dengan uji coba rudal dan nuklir (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Seoul: Peluncuran rudal terbaru Korea Utara (Korut) benar-benar tidak dapat diduga.
 
Termasuk di benak Katie Stallard, koresponden untuk kawasan Asia di Sky News. Apa isi pesan dari pemimpin Korut, Kim Jong Un, melalui berbagai aksi uji coba misil dan nuklir? Stallard mengutarakan opini seperti dilansir Jumat 15 September 2017, berikut:
 
Sumber intelijen Korea Selatan (Korsel) telah melaporkan pergerakan kendaraan peluncur Korut, awal pekan lalu. Sementara ada spekulasi sebuah tes akan diluncurkan berjangka waktu bertepatan dengan hari libur nasional pada 9 September.
 
Seandainya itu terjadi, akan diartikan sebagai tanda unjuk kekuatan oleh Kim Jong-Un. Sebuah isyarat, pada ulang tahun berdirinya negara tersebut, berada di bawah kepemimpinannya -- dia memiliki senjata. Nuklir, sebagaimana diceritakannya kepada warga negaranya, adalah satu-satunya hal yang berarti demi mengamankan kelangsungan hidup mereka.
 
Malah, seperti sekarang. Empat hari setelah Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengeluarkan keputusan sanksi terkuatnya, uji coba akan dilihat sebagai pernyataan perlawanan Korut: penolakan keras terhadap tindakan yang diberlakukan oleh masyarakat internasional.
 
Ketika mencoba untuk menafsirkan pesan yang tepat dari setiap rudal yang diluncurkan, kita seharusnya tidak kehilangan pesan yang lebih besar dan jernih yang harus dipikirkan oleh rezim Kim berulang kali.
 
Kim memberitahu kita langsung ke mana arahnya --- dia mencoba mengembangkan senjata nuklir, guna menjangkau daratan Amerika Serikat (AS), dan dia hampir sampai.
 
Ini adalah kebijakan yang ditandatanganinya. Dikenal sebagai "Byungjin", yang menyerukan pengembangan senjata nuklir dan ekonomi secara simultan.
 
Tidak ada misteri di sini. Terlepas dari kemungkinan bagaimana perkembangan ekonomi sesuai dengan pencapaian senjata yang membuat sanksi terus meningkat, selanjutnya bisa memiskinkan bangsanya.
 
Agaknya bagian itu dimaksudkan sebagai urusan belakang. Yang kurang jelas adalah motif Kim.
 
Alasan yang dikemukakan oleh para pejabat Korut, dan beberapa diantaranya telah ditujukan kepada saya, adalah bahwa negara-negara tanpa senjata nuklir justru rentan terhadap perubahan rezim yang dipimpin oleh AS.
 
Mereka mengutip contoh Libya dan Irak, serta nasib Muammar Khadafi dan Saddam Hussein. Semuanya hancur-lebur hilang lenyap.
 
Lewat argumen ini, senjata nuklir -- dengan kemampuan mengancam AS secara langsung -- adalah wahana demi memastikan berlanjutnya sebuah rezim yang menurut warga Korut berada dalam ancaman konstan dari "agresor imperialis" yang bermusuhan.
 
Kabar baiknya adalah jika ini berupa motivasi, mereka akan sangat tidak mungkin sungguh-sungguh memakai senjata mereka.
 
Rezim, yang terutama -- terkait dengan lestarinya kekuasaannya sendiri tentu tidak akan memicu konflik -- yang hampir pasti akan memastikan kematiannya.
 
Bahaya yang akan muncul, bila Kim percaya bahwa dia memiliki kekebalan hukum; aliansi AS dengan Korsel dan Jepang melemah; dan kemampuannya untuk menyerang wilayah Amerika -- hanya satu hal. Yakni, akan menghalangi mereka dari campur-tangan untuk mencegah penyatuan kembali semenanjung Korea melalui kekerasan.
 
Pada tahap ini, kita tidak dapat mengetahui maksud sebenarnya Kim. Yang kita tahu adalah bahwa meskipun ada hukuman dan sanksi internasional, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan program nuklir atau misilnya secara sukarela.
 
Tetap ada lebih banyak peluncuran rudal Korut yang akan datang.



(FJR)