Perlawanan Sengit Alexei Navalny untuk Menumbangkan Putin

Arpan Rahman    •    Rabu, 29 Mar 2017 08:18 WIB
politik rusia
Perlawanan Sengit Alexei Navalny untuk Menumbangkan Putin
Alexei Navalny. (Foto:AFP)

Metrotvnews.com, Moskow: Perjalanan hidup aktivis Alexei Navalny ini telah menjelma menjadi sebuah kampanye nasional, dengan diwarnai penangkapan jajaran stafnya dan ribuan pendukungnya dari jalanan, seiring harapan menjadi calon presiden Rusia.

Suatu hari, Navalny sampai di kota Siberia yang beku, Tomsk. Ia hendak berkampanye untuk mendepak Presiden Rusia Vladimir Putin. Ternyata koordinator kampanye lokalnya -- seorang perempuan -- mendapati dirinya terkunci di apartemennya sendiri.

Koordinator itu, Kseniya Fadeyeva, dapat membobol lubang kuncinya, tapi tetap tak bisa membuka pintu. Dia kemudian memanggil teman-temannya, dan ternyata diketahui pintu itu telah disegel dari luar dengan semacam lem. Saat melangkah ke halaman, Fadayeva dan teman-temannya melihat sebuah mobil yang dicorat-coret dengan cat merah marun, bannya disobek, dan pipa knalpotnya disumpal menggunakan busa.

Fadeyeva, 25, menelepon sesama koordinator, Alyona Khlestunova, 21, hanya untuk mengetahui bahwa dia juga terkurung di rumahnya. Sebatang logam tajam juga menggembosi ban mobil pacar Khlestunova.

Navalny, yang mengumumkan pada Desember tahun lalu bahwa ia akan menantang Putin dalam pemilihan Maret mendatang, adalah kritikus presiden paling vokal. Vandalisme di Tomsk, pada Jumat 17 Maret 2017, tampak seperti masalah standar pelecehan kepada para aktivis, siapa pun yang berada di baliknya.

Tapi perang suci Navalny melawan korupsi pemerintah jelas lebih dramatis dalam sepekan terakhir. Protes yang ia dorong pada Minggu 26 Maret 2017, berdesir dari pantai Samudera Pasifik, delapan zona waktu dari Moskow, mulai dari Siberia ke ibu kota sampai ke St Petersburg, dengan 60.000 demonstran turun di 82 kota, lapor sebuah stasiun radio Moskow independen Ekho Moskvy. 

Lebih dari 1.000 orang ditawan di Moskow, termasuk Navalny sendiri, menurut OVD-Info yang secara luas memantau sejumlah penangkapan politik. (Polisi Rusia menyebut angka berkisar 600 orang.) Pada Senin 27 Maret 2017, sebuah pengadilan di Moskow memvonis Navalny hukuman 15 hari penjara karena melanggar aturan demonstrasi.

Jalan panjang Navalny untuk menggulingkan Putin dalam kotak suara diiringi kampanye nasional, lengkap dengan penangkapan terhadap stafnya dan demonstrasi oleh para pendukungnya. Bulan lalu, Navalny memulai tur regional ke segala penjuru Rusia dan, pada 17 Maret, dari Siberia ke Wolga, diawali dengan membuka kantor kampanyenya di Tomsk. 

Turun ke lapangan, ia mendekati rakyat Rusia dari pesisir ke pesisir. Di Tomsk, gerbang ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkenal dengan politik liberal, Navalny bertemu sejumlah relawan kampanyenya.

“Berapa banyak dari Anda telah memikirkan mau pindah ke negara lain?” tanya Navalny. Hampir setengah dari mereka yang hadir, yang nyaris semuanya berusia di awal 20-an, mengangkat tangan. Navalny tampak terkejut.

“Hei, Tomsk harusnya sudah lama menjadi Berkeley-nya Rusia, berbagai perusahaan dibuka di mana-mana dan kerumunan anak muda bergaya mutakhir berjalan santai sambil membawa minuman kopi," katanya, seperti dikutip Bloomberg, Selasa 28 Maret 2017.

Tim pendukung Navalny menggunakan WhatsApp dalam berkomunikasi dengan kalangan milenium Rusia. “Kampanye kita adalah semua tentang organisasi mandiri,” kata ketua tim kampanye, Leonid Volkov. “Ini seperti sebuah mesin bertenaga uap dalam fiksi ilmiah. Anda temukan gigi, ia membawa sebuah tuas kecil, kita rangkai bersama-sama, dan hey, itu mulai bergerak.”

“Apakah saya satu-satunya di ruangan yang tidak tahu mesin uap itu apa?” kata Navalny, yang akan berumur 41, pada Juni nanti.

Protes pada akhir pekan menyiratkan dahaga untuk menentang Kremlin lewat arus kebangsaan yang luas di sejumlah daerah di Rusia.

“Saya tidak suka diam di ceruk kecerdasan liberal. Inilah mengapa saya berkeliling ke banyak daerah,” kata Navalny dalam sebuah wawancara di malam turnya ke Siberia. “Bahkan, saya punya lebih banyak lagi untuk dikatakan kepada orang-orang lain daripada para pendengar tradisional saya di Moskow saja.”

Pesan Navalny adalah: Korupsi merupakan “sebuah pilar dari rezim politik (Rusia).”

Kampanye Navalny mungkin terkesan idealistik, terlebih karena hukuman pidana mencegah dirinya untuk mencalonkan diri di pemilihan umum presiden. Setidaknya itulah pandangan Vyacheslav Volodin, ketua Duma, majelis rendah parlemen federal Rusia. Juru bicara Putin, Dmitry Peskov, pun secara terbuka menyetujui bahwa Navalny tidak bisa maju dalam pilpres.


Navalny di Moskow, 26 Maret 2017. (Foto: Kommersant/Getty)

Unjuk Rasa Ilegal

Navalny menerima vonis lima tahun penjara dengan status ditunda (suspended sentence) pada Februari atas kasus penipuan di pengadilan banding, setelah Mahkamah Agung membatalkan putusan sebelumnya, yang disebut tidak sah oleh Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR). Keputusan pencalonannya dalam pilpres akhirnya tergantung pada bagaimana Komisi Pemilu Pusat Rusia (CEC) dan pengadilan menafsirkan konstitusi dan hukum pemilu. Dalam pemerintahan Putin, kedua institusi itu secara ketat dikendalikan Kremlin.

Jika ia diizinkan mencalonkan diri, barangkali hanya untuk meningkatkan tingkat keikutsertaan warga dan membantu keabsahan kemenangan Putin. Sebuah kemenangan yang hampir dapat dipastikan, mengingat tingkat kepuasan Putin berkisar 84 persen di bulan lalu, menurut Levada Center, sebuah lembaga survei independen dan organisasi penelitian, yang mengontrol semua stasiun televisi nasional.

Namun ketika Navalny diizinkan maju mencalonkan diri jadi wali kota Moskow pada 2013, Kremlin mendapat kejutan yang tidak menyenangkan. Ia memenangkan lebih dari 27 persen suara, hampir memaksa pilkada itu berlanjut ke putaran kedua.

Belum ada keputusan yang dibuat, menurut beberapa pejabat Kremlin saat ini dan mantan pejabat terkait kemunculan kembali Navalny. Tetapi mereka umumnya sepakat pencalonannya akan dihalangi pada akhirnya. Blokade diperlukan untuk menghindari mengirim sinyal buruk bagi elite politik dan pengusaha bahwa penentangan terhadap pemerintah dapat ditoleransi. Jika toleransi diberikan, maka Navalny akan semakin populer dan berpotensi menang dalam pilpres 2024. Namun pada tahun itu, Putin sudah tidak boleh maju lagi beradasarkan aturan konstitusi saat ini. Putin telah berkuasa sejak 1999.

Peskov menyebut aksi protes sebagai “provokasi dan kebohongan,” mengatakan pihak penyelenggaraannya menipu para peserta untuk bergabung dalam “unjuk rasa ilegal.” Kremlin “menghormati posisi rakyat sipil, hak mereka bersuara, tapi hanya jika hal itu dilakukan dalam format yang sesuai dengan hukum,” katanya.

“Kami khawatir bahwa seseorang akan terus memanfaatkan rakyat yang aktif secara politik demi tujuan pribadi,” kata Peskov, tanpa menyebut nama Navalny.

Bahkan jika Navalny dilarang maju tahun depan, jaringan kantor kampanye yang ia dirikan di seluruh negeri adalah aset kuat dalam dirinya sendiri. Ketidakpuasan sudah menggelegak dalam diri seluruh rakyat, yang baru mulai pulih dari resesi. Bila menjauh dari jalan-jalan utama Tomsk, Anda akan menemukan diri Anda berada di trotoar yang terlihat seperti permukaan gletser, berdiri di atas es setebal 10 inci, menghitam oleh knalpot mobil, yang perlahan-lahan mencair pada musim semi akibat diterpa terik matahari.

Itu tidak luput dari perhatian Navalny, yang mengangkat topik tersebut dengan relawan kampanyenya pada kunjungan mereka ke kota ini. Mengaduk sentimen anti-Moskow, ia membandingkan kondisi jalan-jalan rusak Tomsk dengan miliaran rubel yang dipompa ke ibu kota Rusia.

“Apakah Anda tahu berapa anggaran tahunan Tomsk?” ia bertanya ke arah massa.

“Tiga belas miliar rubel!” seseorang berteriak menjawab.

“Maka kau tahu berapa banyak yang mereka habiskan baru-baru ini ke dalam jalan lingkar di Moskow? Dua belas miliar,” kata Navalny, mengacu pada demam proyek infrastruktur yang marak di ibu kota. Dia mengatakan dalam kerumunan, bahwa pihak berwenang tidak memanfaatkan potensi intelektual dari kota-kota seperti Tomsk.

Sekitar 15 menit pertemuan berlangsung, polisi datang mengumumkan tentang ancaman bom, dan seluruh bangunan harus dievakuasi. Para peserta mencemooh imbauan, dan Navalny melanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Akhirnya, seorang kolonel menudingnya tidak mematuhi perintah.

“Kami akan bersedia dievakuasi, tapi pelan-pelan. Biasanya kapten yang terakhir meninggalkan kapal," jawab Navalny, mengulur waktu evakuasi selama 10 menit. Dia akhirnya meminta massa untuk pergi, tapi setelah ia berkata kepada polisi, “Di masa depan Rusia, Pak Kolonel, Anda akan menangkap penjahat, bukannya melakukan pekerjaan omong kosong ini.”

Navalny berjuang untuk menang, bahkan dalam kejadian kecil tersebut.


Navalny saat ditangkap di Moskow, 27 Maret 2017. (Foto: Kommersant/Getty)

Jawara di Dunia Maya

Dia "sangat bagus untuk massa di internet, namun tidak bagus bagi pemirsa televisi,” kata ilmuwan politik lokal Artyom Dankov, menyimpulkan kesannya dalam kunjungan ke Tomsk. Navalny dilarang tampil di TV nasional, dan hanya 47 persen orang Rusia tahu siapa dia. Sebagian besar dari mereka memandang dia dengan kecurigaan, menurut Levada Center. 

Pemerintah Rusia sangat berhati-hati agar tidak mengambil risiko meningkatkan popularitasnya. Jubir pemerintah mencoba selalu menghindari menyebutkan nama Navalny ketika mengomentari dirinya. Para politikus oposisi bercanda bahwa ia adalah Lord Voldemort Rusia, sebuah ironi mengingat siapa lagi yang mau bertanding untuk memenangkan gelar itu dalam pandangan mereka.

Kremlin telah terobsesi dengan legitimasinya sejak protes besar-besaran di Alun-alun Bolotnaya di Moskow yang menentang hasil pemilu 2011, kata ilmuwan politik Abbas Gallyamov, yang sudah berkonsultasi dengan beberapa pemerintah daerah selama kampanye pemilu.

“Rezim otoriter peduli soal legitimasi, bahkan lebih dari yang rezim demokratis lakukan. Karena mereka tahu bahwa hanya 3 persen dari populasi mengambil bagian dalam protes jalanan biasanya cukup untuk menggerakkan penegak hukum beralih ke pihak mereka,” kata Gallyamov, mengacu pada ambang batas yang dikutip dalam beberapa penelitian.

Navalny menjadi pemimpin utama di Bolotnaya, popularitasnya didorong protes dan terobosan investigasi dalam aset multi-miliar dolar yang diduga dikumpulkan para pejabat senior pemerintah. Protes itu tenggelam karena tertutup invasi Rusia ke Krimea, yang memompa dukungan bagi Putin. Terjadi demoralisasi oposisi, mereka dicap sebagai pengkhianat dan agen-agen asing. Kremlin juga menekan melalui serangkaian hukuman kejam, membatasi protes publik, dan memaksakan denda besar dan hukum penjara bagi mereka yang menentang kekuasaan.

Kini, kemenangan populis mulai memudar di tengah sanksi Barat dan perihnya ekonomi Rusia, menyisakan Kremlin berjuang agar menemukan agenda alternatif yang meyakinkan untuk mengkonsolidasikan konstituen dan menawarkan oposisi sebuah jendela kesempatan, kata Gallyamov.

Pandangan Navalny dipengaruhi lingkaran ilmuwan politik dan wartawan yang terinspirasi haluan liberal di Amerika Serikat (AS). Dalam kampanye saat ini, ia  bergeser ke kiri, berbicara soal tiga kali lipat upah minimum, dan mengalokasikan dana lebih untuk perawatan kesehatan dan pendidikan. (Dia sudah agak melunakkan retorika anti-imigran, yang sejak lama terdengar asing di kuping banyak pendengarnya di antara kaum intelektual.) Di atas segalanya, Navalny menyerukan, semangat Rusia untuk beraksi memberantas korupsi.

“Mungkin terasa mirip penonton konser minta penyanyi menyanyikan hits-nya yang terlaris,” kata Navalny. “Tapi saya tahu bahwa seorang politikus yang tahu bagaimana mengalahkan korupsi dapat memenangkan pemilu.” Dia membuka kampanye dengan merilis video berdurasi 50-menit, mengekspos aset miliar dolar yang diduga dikumpulkan Perdana Menteri Dmitry Medvedev. Video itu ditonton 12,4 juta kali di YouTube hingga Senin 27 Maret pagi di Moskow. Kantor perdana menteri membantah tuduhan tersebut.

Virus yang Berguna

Di pihak Kremlin, kampanye pemilu 2018 akan dijalankan sebuah tim baru yang dipimpin wakil kepala staf Putin, Sergey Kiriyenko. Ia adalah mantan politikus liberal dan sekutu Boris Nemtsov. Seperti banyak liberal lainnya, Kiriyenko akhirnya berbaris di belakang Putin. Nemtsov, pemimpin oposisi terkemuka, ditembak mati di luar Kremlin pada 2015.

Tiga tahanan politik dibebaskan dalam beberapa pekan terakhir dan Navalny diperbolehkan berkeliling Rusia dan mendirikan jaringan regional kantor kampanye. Navalny menertawakan ide ini dalam wawancara. Banyak dari stafnya diawasi di bawah investigasi kriminal dan dibatasi dalam gerakan mereka di seluruh negeri.

Navalny memainkan peran layaknya virus, yang membuat lembaga negara mengawasinya, kata Konstantin Belyakov, anggota dewan kota Tomsk dari partai berkuasa pimpinan Putin, Rusia Bersatu .

“Sebuah virus yang berguna, selama itu tetap terkendali,” katanya. Jika tidak, Navalny bisa “menggoyahkan seluruh sistem dan berubah menjadi semacam tumor,” ucap dia.Sebelum terjun ke politik, Belyakov pernah bekerja sebagai pengembang perangkat lunak medis.

Belyakov berkata, basis Navalny terdiri dari warga Rusia yang terlalu muda buat mengingat era tahun 1990-an. Para pendukung Putin seperti dia melukiskan dekade tersebut tebagai salah satu zaman gelap penuh pelanggaran hukum, ketidakamanan, dan kemiskinan ekstrem -- semua itu terjadi di saat bersamaan, meskipun penggambaran Kremlin soal itu terlalu berlebihan. Kerumunan massa dalam protes di Moskow akhir pekan kemarin memang terdiri anak-anak muda, banyak pelajar dan mahasiswa. Secara demografis, belum terlihat mengerti tentang masa silam.

"Tapi saya berpikir bahwa mimpinya menjadi presiden tidak akan pernah terwujud dalam situasi saat ini," ungkap Belyakov. “Dia lebih baik menyalurkan energinya ke arah stabilisasi.” Stabilitas dan stabilisasi adalah istilah-istilah Kremlin dan sebuah pilar dari sistem penilaian Putin.

"Kita perlu menciptakan mesin propaganda yang akan mengalahkan televisi," tutur Volkov, ketua tim kampanye Navalany. Ia mendesak kalangan lebih kecil, tetapi lebih beragam dari usia dan latar belakang, di Kemerovo, ibu kota wilayah pertambangan Kuzbass, sehari setelah kunjungan ke Tomsk.

Wilayah ini melahirkan hasil pemilu ala Korea Utara. Dalam pemilihan gubernur lalu, petahana Aman Tuleyev, gubernur terlama di Rusia dan sekutu setia Putin, mendapat 93,5 persen suara, dengan jumlah pemilih 92 persen.

Sekali lagi, tampaknya popularitas Navalny di dunia maya yang menarik pendukung di Kemerovo. Kirill Yefanov, mahasiswa teknik tambang, mengaku mengembangkan minat dalam politik oposisi, ketika mempersiapkan diri untuk ujian sekolah. Ia beralih dari TV ke internet. Dia mulai membaca tulisan anti kemapanan seperti Kamikaze D sebelum terpukau atas postingan dan penyelidikan Navalny.

“Perubahan nyata muncul ketika ayah saya marah karena urusan Ukraina,” kata Yefanov. “Dia mulai mengatakan bahwa semua orang Ukraina adalah Nazi dan bahwa Amerika bermaksud menghancurkan Rusia. Saya tidak setuju pandangan ini.” Yefanov sudah menandatangani kontrak kerja sebagai sukarelawan kampanye Navalny.

Kepada pendukungnya, Navalny beralih ke soal baru yang diadopsi dari retorika kaum sayap kiri, menekankan niatnya menaikkan upah minimum hingga 25.000 Rubel (setara USD440) per bulan.

"Berapa banyak dari Anda yang mendapatkan kurang dari itu?" tanyanya. Setidaknya setengah dari yang hadir mengangkat tangan mereka. Dia terkejut ketika mengethauiberapa gaji yang biasanya diterima para penambang di wilayah Kemerovo. "Inilah bencana moral, ketika orang-orang yang bekerja di bawah tanah dibayar USD300 sebulan," sebut Navalny.


Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: AFP)

Koalisi Revolusioner

Pavel Budnikov, yang mengepalai kantor Kemerovo Navalny, mantan agen LDPR, partai populis yang dipimpin politikus ultra-nasionalis Vladimir Zhirinovsky, yang juga pendukung Putin. LDPR secara tradisional memiliki pengikut kuat di daerah kelas pekerja terpencil Siberia dan Timur Jauh. 

Pada saat protes Bolotnaya di Moskow, Navalny dan Volkov bekerja menciptakan koalisi antipemerintah yang luas yang akan mencakup kaum liberal, nasionalis, dan meninggalkan sayap mereka. Navalny malah berpartisipasi dalam kegiatan sayap kanan yang dikenal sebagai Barisan Rusia, mewadahi kritik dari pengikut liberal dan pengamat Barat. Sebuah koalisi revolusioner yang sama menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych di Ukraina.

Kebijakan luar negeri tidak disinggung dalam tur Navalny di Siberia, meskipun itulah subyek dari pertanyaan pertama yang diajukan massa dalam turnya. “Kebijakan luar negeri yang menjadi tugas pertama kita di sini di Tomsk adalah membangun jembatan baru di seberang sungai dan menyingkirkan salju dari jalanan,” jawabnya. Dia melanjutkan, bahwa sebuah negara miskin tidak bisa membangun pertahanan yang kuat, sehingga tujuan utamanya harus meningkatkan perekonomian dan menaikkan pendapatan di dalam negeri sendiri.

“Kalau kita memiliki 20 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, seperti apa kehebatan yang bisa kita banggakan?” kata Navalny dalam wawancara. Tapi ia mengaku melihat Rusia sebagai bagian dari dunia Barat dan menyinggung ideologi "jalan ketiga" Kremlin dan "eurasianisme” sebagai “omong kosong seutuhnya.”

Dari Kemerovo, Navalny berjalan ke selatan ke kaki bukit pegunungan Altai, dan membuka kantor pemilih di dua kota kecil. Di Barnaul, seorang pemuda yang berpura-pura ingin menjabat tangannya malah menyemprot wajah Navalny dengan cairan "hijau terang," sebuah antiseptik yang susah dicuci. Wajah Navalny menjadi berwarna hijau, dan peristiwa itu diunggah ke akun media sosial disertai rekaman video. Navalny membandingkan dirinya dengan karakter kartun Shrek dan Jim Carrey dalam film The Mask. Video serta foto-foto wajahnya yang hijau menjadi viral di dunia maya.

Kembali ke Tomsk, koordinator kampanye lokal Fadeyeva dan Khlestunova menerima para relawan di kantor yang baru dibuka. Keduanya telah menghabiskan akhir pekan, menghapus jejak lem pelekat dari pintu mereka, dan memperbaiki mobil yang sebelumnya dirusak seseorang.

Tetangga kedua wanita itu lewat di depan kantor dan berkata, “Apakah itu (pintu dilem dan mobil dirusak) benar-benar sesuatu yang bisa disebabkan oleh politik?”

 


(WIL)