Kemungkinan Perang Korut-AS, Nyata Bisa Terjadi

Arpan Rahman    •    Sabtu, 30 Sep 2017 10:10 WIB
politik korut
Kemungkinan Perang Korut-AS, Nyata Bisa Terjadi
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un disebut sebagai 'Manusia Roket' oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Moskow: Perang antara Korea Utara dan Amerika Serikat (AS) sekarang menjadi 'kemungkinan nyata'. Bisa mengakibatkan ribuan orang terbunuh atau terluka. 
 
Hal ini disampaikan oleh lembaga peneliti pertahanan terkemuka Rusi (Royal United Services Institute), yang menyebar peringatan.
 
"Perang antarkedua negara kemungkinan akan melibatkan invasi skala penuh Korut, dan pertarungan tidak akan 'cepat atau singkat'," Rusi mengatakan dalam sebuah laporan.
 
Jika terjadi serangan oleh negara manapun, Inggris hanya memiliki beberapa jam "paling banyak" buat memutuskan bagaimana meresponsnya, laporan itu menambahkan.
 
Analisis yang mengusik ini, ditulis oleh direktur umum Rusi, Malcolm Chalmers. Dikatakan, perang dapat dipicu oleh Washington atau Pyongyang. Namun diperingatkan bahwa ada tindakan berisiko yang berkembang dapat diambil oleh Donald Trump untuk "menyelesaikan" masalah tersebut "lebih lekas daripada nanti".
 
"Perang sekarang kemungkinan terjadi," kata laporan tersebut. "Karena Korut membuat kemajuan pesat dalam program rudal dan nuklirnya, jadi waktunya tidak terletak di urusan diplomasi."
 
Peringatan tersebut disampaikan setelah Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho mengklaim ancaman Presiden AS bahwa rezim Kim Jong-un "tidak akan berkuasa lama lagi" merupakan sebuah deklarasi perang. Ia menegaskan Pyongyang punya hak untuk melakukan pembalasan.
 
Korut sudah memindahkan armada pesawat militer ke pantai timur. Mulai meningkatkan pertahanan sesudah pernyataan tersebut.
 
Pyongyang juga mengancam akan menembak jatuh pesawat pembom Amerika yang terbang di dekat Semenanjung Korea. "Bahkan saat mereka tidak berada di dalam wilayah udara negara kita," katanya seperti dilansir Independent, Jumat 29 September 2017.
 
Retorika saling bermusuhan antara kedua negara telah mencapai ketegangan baru. Kedua pemimpin AS-Korut semakin sengit bertukar ancaman dan penghinaan secara pribadi.
 
Trump pekan lalu menolak klaim sebuah deklarasi perang. Namun memperingatkan jika AS dipaksa untuk membela diri, pihaknya akan "tidak punya pilihan kecuali menghancurkan" Korut, negara berpenduduk 26 juta jiwa.
 
Trump pun berulang kali menggambarkan Kim sebagai "manusia roket". Sebagai tanggapan, Kim mengeluarkan sebuah pernyataan pribadi, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mengumbar janji untuk "menjinakkan orang tua yang pikun bermental gila dengan senjata".
 
Laporan Rusi menetapkan sejumlah cara bahwa perang dapat dimulai. Dikatakan, bisa termasuk serangan mendadak oleh Pyongyang jika mereka yakin AS merencanakan serangan mendadak.
 
Washington dapat diprovokasi ke dalam serangan jika rudal uji coba Korea Utara ditembakkan ke laut dekat California atau Guam, sebuah wilayah Amerika, katanya.
 
Pecahnya perang kemungkinan akan melibatkan serangan udara dan serangan siber skala besar yang dilakukan oleh AS, bunyi laporan ini.
 
Skenarionya tampak akan memancing pembalasan oleh Pyongyang ke Korsel -- di mana sekitar 8.000 warga Inggris tinggal.
 
Pangkalan Amerika di wilayah ini juga akan menjadi target, dan rezim Kim agaknya akan memakai senjata konvensional, kimia atau senjata nuklir.
 
Bunyi laporan tersebut berlanjut: Berarti invasi skala penuh Korut akan sangat mungkin terjadi.
 
Meskipun Pyongyang diketahui telah mengembangkan teknologi nuklirnya lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, bahkan tanpa menggunakan senjata nuklir, jumlah korban diperkirakan akan mencapai ratusan ribu, bubuh laporan.
 
Perang juga akan memiliki "konsekuensi luas" bagi ekonomi global. Jika AS melancarkan "serangan preventif" di Korut tanpa kesepakatan Korsel, pihak Paman Sam sekaligus mengirim sinyal bahwa Washington bersedia "mengorbankan Seoul untuk melindungi New York".
 
Laporan tersebut meminta pemerintah Inggris agar terus berupaya meningkatkan sanksi internasional atas Korut. Sekaligus mendukung berbagai cara untuk menemukan solusi diplomatik.
 
Pemerintah Inggris juga harus mendesak AS agar mengesampingkan serangan dadakan dan jangan mulai persiapan untuk berbagai skenario militer, kata laporan tersebut.
 
Namun juga menambahkan Inggris semestinya tidak memberi dukungan tanpa syarat kepada AS jika Washington melancarkan serangan mendadak ke Korut. Laporan Rusi mengatakan bahwa London harus mendengarkan Korsel dan Jepang.
 
Laporan tersebut menyatakan: "Pemerintah Inggris setidaknya akan memiliki beberapa jam untuk menjelaskan bagaimana hal itu menjadi salah satu kejutan strategis paling penting dari era pasca-Perang Dingin."
 
"Keputusannya akan berdampak besar pada posisi internasional Inggris, dan pada politik domestiknya, seperti keputusan yang menentukan untuk berdiri 'bahu-membahu' dengan AS menjelang invasi Irak ke tahun 2003," pungkas Rusi yang berbasis di London.



(FJR)