Saling Serang Terakhir Clinton-Trump di Debat Capres AS

Fajar Nugraha    •    Rabu, 19 Oct 2016 17:55 WIB
pemilu as
Saling Serang Terakhir Clinton-Trump di Debat Capres AS
Debat ketiga Capres AS dipenuhi isu panas (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Las Vegas: Hillary Clinton dan Donald Trump akan bertarung kembali dalam debat ketiga dan terakhir. Debat yang berlangsung di Las Vegas ini, seperti menjadi penentu bagi kedua capres mengutarakan visinya.
 
Capres AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton dan capres dari Partai Republik Donald Trump, selalu diliputi kontroversi. Mereka terus terlibat adu mulut, yang lebih banyak berkisar pada isu pribadi.
 
Pada Rabu 19 Oktober malam waktu Las Vegas atau Kamis 20 Oktober pagi waktu Indonesia, rakyat Negeri Paman Sam akan melihat pertarungan di University of Nevada.  
 
Seluruh perhatian kini tertuju pada Donald Trump. Sebagai capres, pengusaha kaya itu menuai kontroversi setelah rekaman video ucapan cabulnya terhadap perempuan beredar luas di media.
 
 
Undangan Trump untuk musuh Partai Demokrat
 
Trump bahkan mengundang saudara tiri Presiden Barack Obama, Malik Obama untuk hadir dalam debat ini. Malik pun dikenal selalu menentang Obama dan mendukung Trump sebagai Presiden AS.
 
Bagi Malik Obama, Trump adalah sosok yang bisa membawa Amerika kembali menjadi hebat. Dia juga mendukung Trump, yang dituduh melecehkan beberapa perempuan di masa lalu. Tuduhan itu dianggap Malik sebagai kebohongan besar dan mempertanyakan mengapa tuduhan itu baru keluar di saat Trump mencalonkan diri sebagai Presiden AS.
 
Ini bukan pertama kalinya Trump mengundang sosok kontroversi saat debat. Ketika debat presiden kedua lalu, taipan properti itu mengundang tiga perempuan yang dianggap sebagai korban pelecehan yang dilakukan mantan Presiden Bill Clinton.
 
Sementara dari kubu Hillary Clinton, mengundang sosok pengkritik Trump seperti pengusaha Mark Cuban dan CEO dari Hewlett Packard Meg Whitman.
 
Topik beragam menunggu Trump dan Clinton
 
Dalam debat ketiga ini, Chris Wallace dari Fox News akan bertindak sebagai moderator. Berbagai topik sudah dipersiapkan untuk debat ketiga dan terakhir ini.
 
Topik yang dimaksud di antaranya utang dan kewajiban, imigrasi, ekonomi, mahkamah agung, isu internasional dan kesehatan dari calon presiden.
 
Clinton sendiri sepertinya tetap menjaga ucapannya dalam sepekan terakhir. Sejak debat pertama di New York September lalu, mantan Menlu AS itu menunjukkan dirinya memimpin hingga tujuh persen. Diperkirakan, Hillary pun akan memenangkan debat terakhir ini.
 
Skandal email dari Hillary Clinton saat menjabat sebagai Menlu AS, ditengarai akan menjadi makanan baru untuk Trump. Berkaitan dengan itu, Trump kemungkinan akan membawa isu 'quid pro quo' dalam debat ini.
 
Isu 'quid pro quo' ini menyebutkan adanya anggapan salah satu pejabat senior Kemenlu AS saat Clinton menjabat, meminta FBI untuk tidak mempermasalahkan isi email Clinton yang dikirim menggunakan server pribadi. Dengan balasan, FBI akan diperbolehkan menambahkan agen yang akan dikirim di negara lain.
 
Tetapi baik dari FBI maupun Kemenlu AS membantah adanya kesepakatan ini. Pejabat senior FBI Brian McCauley dan diplomat karier Pat Kennedy mengakui ada bantuan yang diminta, tetapi tidak menyangkut masalah email Hillary Clinton.
 
Serangan Hillary untuk Trump
 
Hillary tentunya akan membalas semua retorika yang akan dilontarkan oleh Trump. Beberapa isu,-selain isu pribadi- diperkirakan akan dilontarkan oleh Hillary.
 
Prinsip Trump yang tidak menerima imigran Meksiko dan Muslim masuk ke Amerika, masih menjadi amunusi bagi Hillary. Tetapi isu pajak juga menjadi serangan besar yang dilancarkan Hillary.
 
Hingga saat ini, Trump tidak bersedia untuk membuka publik catatan pajaknya. Laporan pun menyebutkan bahwa Trump tidak pernah membayar pajaknya hingga saat ini.
 
Ucapan cabul terhadap perempuan yang bocor di media menjadi serangan keras ke arah Trump. Meskipun serangan itu berbabu pribadi, namun apa yang diucapkan Trump memicu penarikan dukungan dari politikus senior Partai Republik.
 
Warga Katolik mulai berpaling dari Trump
 
Setelah insiden komentar cabul yang dilontarkan Trump, tanggap keras pun mulai bermunculan. Bahkan banyak dari mereka yang pada awalnya mendukung Donald Trump, perlahan mulai meninggalkannya.
 
Menurut Telegraph, pada awal Oktober, Trump memimpin dari Hillary Clinton di kalangan warga Katolik kulit putih dengan angka 56-31 persen. Setelah keluarnya video komentar cabul dan tuduhan pelecehan, saat ini warga Katolik memberikan dukungan kepada Hillary 61 persen dan Trump hanya menerima 34 persen.
 
Tetapi masalah Trump bukan pada pemilih Katolik saja. Bahkan di tubuh Partai Republik mulai menyuarakan agar Trump menarik dari Pilpres. (Baca: Partai Republik Khawatir Atas Komentar Cabul Trump).
 
Tak kurang Ketua DPR AS Paul Ryan menarik dukungannya bagi Trump. Ryan tampak kesal dengan ucapan cabul Trump, begitu juga Senator New Hampshire Kelly Ayotte yang menilai komentar Trump jelas tidak pantas. Ayotte juga menyebut Trump telah menyerang perempuan.
 
Ketika Trump memposting video permintaan maafnya, tiga anggota Kongres AS dari Partai Republik menuntut agar Trump mundur dari perlombaan menuju kursi Presiden AS. Di antara yang melontarkan tuntutan itu adalah Senator Utah, Jason Chaffetz.
 
Kini semua tergantung oleh Trump sendiri, mampukah dirinya bangkit dan 'memenangkan' debat terakhir ini. Setidaknya, Trump bisa mengikuti aturan debat yang disebutkan oleh moderator.

 

(FJR)

Santiago De Cuba Bersiap untuk Pemakaman Fidel Castro

Santiago De Cuba Bersiap untuk Pemakaman Fidel Castro

5 hours Ago

Proses pemakaman untuk tokoh revolusi Kuba, Fidel Castro mulai dipersiapkan di kota terbesar kedua…

BERITA LAINNYA