Sajak Dorothy untuk Generasi 2045

   •    Jumat, 03 Mar 2017 14:17 WIB
ujaran kebencian
Sajak Dorothy untuk Generasi 2045
ILUSTRASI: Sejumlah anak-anak mengikuti acara sosialisasi

Herry Tjahjono
Konsultan manajemen, sumberdaya manusia (SDM), budaya, dan pengembangan diri
 
BERBAGAI peristiwa unjuk rasa yang disertai umpatan dan cacian, lalu lintas media sosial yang sadis dan liar dan pola komunikasi sosial lainnya - sesungguhnya  menyayat hati bangsa ini, khususnya hati anak dan remaja Indonesia sebagai generasi masa depan kita. Kita terjebak pada wacana “keseharian” bangsa seperti politik dan agama terkait ekses unjuk rasa itu, dan lupa eksesnya pada dimensi terpenting lainnya, yaitu pada pendidikan – utamanya perkembangan kepribadian anak serta remaja Indonesia. Kita lupa bahwa semua adegan dalam unjuk rasa itu ditonton oleh anak dan remaja kita, baik langsung ataupun tidak.

Wacana psikologi menyodorkan dua pola asuh (pendidikan kepribadian), yaitu pola nature dan pola nurture. Sesuai konteks tulisan ini, kita akan membahas pola nurture – yang lebih menekankan faktor-faktor eksternal dalam pola pembentukan kepribadian anak atau remaja. Pola kepribadian anak atau remaja mendapatkan lahan pembentukan paling subur pada periode “balita” (0 – 5 tahun) meski sampai usia pra-remaja, dinamika pembentukan masih berlangsung. Pada periode balita sampai pra-remaja itulah anak dan remaja akan menjalani critical / teachable moment – sebuah masa paling peka untuk ditaburi, diwarnai apa saja – dan akan dominan membentuk pola kepribadian mereka di masa selanjutnya.

Secara sosiologis,  bangsa dan Negara ini adalah sebuah komunitas maha besar yang berisikan sekian  banyak keluarga dengan sekian banyak karakter pula. Para pemimpin bangsa (termasuk pemimpin informal, pemimpin agama) memiliki peran dan fungsi sebagai orang tua bagi rakyat. Sistem politik, ekonomi bahkan agama beranalogi dengan lingkungan keluarga, pola kepemimpinan dan karakter kepemimpinan beranalogi dengan pola asuh sekaligus karakter orang tua – demikian seterusnya. Kita ini adalah keluarga besar Indonesia.

Kembali pada pola nurture dan berdasarkan uraian sebelumnya di atas – maka  semua yang terjadi pada masa sekarang - secara psikologi kolektif akan menempati peran vital dalam membentuk kepribadian anak dan remaja Indonesia di masa mendatang, kira-kira 30 tahun ke depan ketika mereka dewasa – katakan pada tahun 2045. Pada saat itu, mereka akan berusia sekitar 30 sampai 45 tahun, usia paling siap untuk menjadi sosok pemimpin. Apa yang dilakukan  oleh  para pemimpin hari ini, apa yang terjadi pada dinamika sosial-politik-ekonomi-agama, akan membentuk kepribadian  generasi 2045 kelak.

Sampai di sini saya tergelitik untuk mengangkat sebuah sajak indah dari Dorothy Law Nolte yang berjudul Children Learn What They Live – yang terjemahan bebasnya berbunyi Anak Belajar dari Kehidupannya. Berikut sebagian bait yang relevan dengan tulisan ini :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan / rasa malu, ia belajar menyesali diri.


Dan jika kita mau jujur, semua esensi bait sajak itulah yang kita sodorkan sebagai makanan sehari-hari anak dan remaja kita saat ini. Era tekonologi informasi dan digital semakin memperkuat pola nurture terhadap pembentukan kepribadian anak dan remaja kita. Mari kita potret apa saja yang kita tanamkan pada anak dan remaja kita berdasarkan sajak Dorothy :

Pertama, dibesarkan dengan celaan, akan suka mencerca (to condemn). Kita bisa membayangkan sendiri berbagai celaan dari yang halus sampai kasar (utamanya lewat media-sosial), ungkapan sebagian wakil rakyat yang suka mencela, dan belum lagi berbagai celaan yang dipertontonkan dalam berbagai unjuk rasa, dan seterusnya – tak pelak akan membentuk generasi yang gemar memaki pihak lain. Kelak mereka akan mahir melakukan makian tingkat tinggi, dengan cara menegasikan dan menyalahkan pihak lain sebab merasa diri dan kelompoknya pemegang tungal kebenaran. Bentuk makian lain juga bisa juga berupa hembusan isu, fitnah, yang bertujuan menghancurkan pihak lain. Generasi pemaki.

Kedua, dibesarkan dengan permusuhan, akan suka berkelahi (to fight). Nyaris semua tontonan permusuhan bisa dinikmati anak dan remaja kita dengan mudahnya. Baik itu aroma permusuhan sebagian anggota legislatif dengan eksekutif, permusuhan antar kelompok agama atau suku, antar partai dan lainnya, permusuhan antar elite, mantan penguasa dengan penguasa, bahkan para pemimpin sebagai simbol Negara dijadikan sasaran permusuhan sampai titik ekstrim. Kita bisa membayangkan generasi 2045 yang akan terbentuk kelak.

Mereka akan dengan mudahnya berkelahi, memukul, menghajar, menghancurkan – dan semuanya  akan bermuara pada sebuah generasi yang tak segan untuk berperang dengan siapapun. Kalau jadi pemimpin, mereka akan jadi pemimpin  diktator, otoriter yang agresif. Generasi preman.

Ketiga, dibesarkan dengan cemoohan, akan suka merasa bersalah dan menyesali diri (to feel guilty). Semua dinamika sosial politik yang terjadi di Negara ini, yang setiap saat bisa ditonton dan dinikmati oleh anak dan remaja kita – secara keseluruhan dan utuh – sesungguhnya justru mencemooh (dan mengebiri) martabat (dignity) anak sebagai manusia.

Kebingungan, kekacauan, ketidaktahuan akibat  teladan buruk dari manusia dewasa, pemimpin, pemuka agama – secara tidak sadar akan menggerus martabat. Dan ketergerusan martabat sejak dini itu pada gilirannya akan membentuk predisposisi sikap mental yang rapuh dan rentan, suka merasa kecil, ingin dikasihani, terpuruk dalam penyesalan. Akibatnya, mereka sulit bangkit dari kejatuhan, enggan berontak dan berjuang untuk mengubah nasib serta  keadaan secara jantan, positif dan adil. Lalu  sebagai kompensasinya, generasi ini akan menyalurkannya dengan mencari-cari kesalahan orang atau siapapapun yang bisa disalahkan, gemar mencari kambing hitam, memfitnah, dan akhirnya menggunakan segala acara untuk meraih kemenangan – semua demi menutupi martabat yang ringkih dan tergerus.

Singkatnya, situasi bangsa dan masyarakat kita yang saat ini dipenuhi oleh  celaan, permusuhan dan penghinaan satu sama lain – baik secara struktural maupun horizontal – menjadi pola nurture yang kontraproduktif bagi pembentukan kepribadian generasi masa depan. Tentu mengerikan jika kelak kita memiliki generasi 2045 yang hanya mahir memaki dan bermusuhan,  namun pada saat yang sama, rapuh. Kita akan menjadi generasi masa kini yang paling berdosa pada bangsa ini, mewariskan generasi rusak seperti itu.
Kita masih bisa berbuat sesuatu. Sebab sesungguhnya Dorothy masih menyisakan bait-bait sajaknya sebagai berikut : Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dengan dorongan, ia belajar untuk percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan perlakuan baik, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyayangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.

Pemerintah, tentu punya tugas berat untuk mengakomodasi pola pendidikan dan pembentukan kepribadian anak dan remaja Indonesia masa kini melalui berbagai kementerian terkait. Termasuk  tugas pemerintah di sini – jika diperlukan – adalah mengendalikan berbagai tokoh maupun organisasi masyarakat yang hanya memberikan contoh dan tontonan soal “cemooh, permusuhan, penghinaan” ke bawah sadar anak dan remaja kita.

Para pemimpin – formal maupun informal – harus memberikan peneladanan (termasuk memobilisasi pengikutnya) untuk menciptakan kondisi sesuai bait-bait sajak Dorothy yang positif. Apa yang dilakukan bupati Purwakarta Dedy Mulyadi  dengan memfasilitasi 100 persen sekolah di daerahnya memiliki ruang ibadah  seluruh agama adalah terobosan yang luarbiasa. Ia juga turun langsung memberikan peneladanan,  khususnya melalui dunia pendidikan agar memberikan dorongan, dukungan, persahabatan – yang semuanya bermuara pada bait-bait positif sajak Dorothy.

Bupati Dedy adalah contoh agen perubahan istimewa dalam soal pendidikan atau pembentukan kepribadian generasi muda masa kini Indonesia, agar kelak sekitar 30 tahun lagi – terbentuk generasi 2045 tangguh dan bijak yang mampu “menahan diri, percaya diri, adil, bisa mencintai dirinya sendiri sekaligus orang lain dan kehidupan”. Namun terlepas dari semuanya, ada langkah terbaik yang bisa kita lakukan sendiri – yaitu dengan memulainya dari rumah kita masing-masing – sebab pembentukan keperibadian terbaik anak adalah orang tua dan keluarga. Kita tak punya pilihan, sebab kita berperang melawan dua musuh besar : air bah informasi digital sekaligus masyarakat modern Indonesia yang mengalami dekadensi nilai hebat.[]


(SBH)

Waspadai Infiltrasi Ideologi

Waspadai Infiltrasi Ideologi

3 hours Ago

Infiltrasi ideologi merupakan ancaman di balik cepatnya perkembangan teknologi. Namun pendekatan…

BERITA LAINNYA