Menyelidiki Vatikan

Arpan Rahman    •    Minggu, 09 Oct 2016 11:43 WIB
vatikan
Menyelidiki Vatikan
Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Metrotvnews.com, Roma: Suatu pagi di awal 1990-an, wartawan investigatif Leo Sisti dan Leonardo Coen memenuhi janji dengan seorang imam di sebuah kios dekat Basilika Santo Petrus. Sebuah mobil diam-diam menghampiri mereka dan membawa keduanya ke dalam Vatikan, di mana mereka bertemu dengan Uskup Donato de Bonis. Janji itu untuk wawancara tentang skandal keuangan besar yang melibatkan Paul Marcinkus, uskup agung Amerika yang bekerja sebagai presiden Bank Vatikan.

Selama wawancara, Sisti mengingat, sang uskup mulai lelah menjawab daftar pertanyaan tajam dari kedua wartawan, sampai dia berdiri dekat jendela dan mencoba untuk meluruskan masalah.

"Kami memiliki dua ribu tahun sejarah yang berlalu," katanya, sambil menunjuk alun-alun di depan mereka. "Ada beberapa yang mencoba meracuni atau memburuk-burukkan Vatikan... seperti seorang penulis Inggris abad lampau. Tapi siapa yang ingat namanya? Dia telah dihapus dari ingatan orang. Kami, di sisi lain, masih di sini."

Meskipun diperingatkan begitu, dua jurnalis tersebut kemudian menerbitkan sebuah buku pada 1991 tentang skandal keuangan Bank Vatikan berjudul Kasus Marcinkus. Terjual ribuan eksemplar, dengan sukses besar di Amerika Selatan.

Lebih dari seperempat abad kemudian, pekerjaan para jurnalis di Italia mengungkap dan melaporkan skandal tentang gereja telah berubah. Media berita mendedikasikan lebih banyak ruang untuk cerita ini, sementara faksi internal dalam gereja telah memberikan keuntungan kepada wartawan untuk mengetuk Vatikan. Tapi berurusan dengan topik ini masih sangat rumit. Selama tujuh bulan hingga Juli tahun ini, dua wartawan Italia telah dituntut di bawah sistem peradilan gereja, karena dituduh menyebarkan bocoran informasi dari Vatikan.


Leo Sisti

Dalam kasus yang tidak biasa itu, Emiliano Fittipaldi, reporter majalah mingguan sayap kiri l'Espresso, dipersalahkan karena menulis buku Avarizia (Keserakahan) pada November 2015 bersama-sama dengan Via Crucis (Jalan Salib), yang ditulis oleh Gianluigi Nuzzi, seorang jurnalis dengan kalangan pembaca yang lebih konservatif. Keduanya memaparkan uraian mengenai dugaan salah urus operasi keuangan Takhta Suci, dan masing-masing data berdasarkan dokumen internal yang disediakan oleh sumber di lingkaran dalam.

Bagi Fittipaldi, selain kesulitan penelitiannya, salah satu tantangan terbesar selama penyelidikannya adalah perasaan terisolasi. Dia menanggung beban kritik dari beberapa rekan-rekannya, terutama mereka yang posting dalam meliput Paus dan gereja.

Di antara tuduhan yang dilontarkan terhadap dirinya adalah bahwa "dia telah disalahgunakan oleh sumbernya," kata Fittipaldi dalam sebuah wawancara telepon, seperti dilansir GIJN, belum lama ini.

Proses pengadilan, dalam kasus yang dikenal dengan Vatileaks 2 (Bocoran Vatikan 2), ternyata menyoroti kebebasan jurnalis yang meliput Vatikan. "Jaksa Vatikan menekan saya karena saya [bertanya] beberapa pertanyaan, yang merupakan bagian dari pekerjaan saya," kata Fittipaldi, yang dengan rekannya dilaporkan menghadapi ancaman hingga delapan tahun penjara.

Pada akhir sidang, yang banyak sekali penundaan, penuh ketegangan, dan istilah-istilah teknis hukum, dua mantan anggota komisi pengawasan paus yang terlibat dalam kasus ini dinyatakan bersalah dan dituduh bersekongkol untuk membocorkan informasi rahasia kepada pers. Tapi pengadilan Vatikan menyatakan tidak memiliki yurisdiksi untuk mengadili kedua jurnalis karena kejahatan tidak terjadi di dalam kota Vatikan.

Pastor Federico Lombardi, yang kemudian menjadi juru bicara Vatikan dan direktur kantor urusan pers Takhta Suci, menjelaskan bahwa sidang harus digelar karena undang-undang yang berlaku. Tapi, dia menambahkan, "juga karena di wilayah hukum Vatikan, kebebasan pers dilindungi."

Dalam beberapa tahun terakhir, Vatikan telah melakukan pertimbangan panjang untuk membuat sistem media yang lebih efisien dan informasi lebih mudah diakses.

Tanda-tanda transparansi itu telah diamati oleh jurnalis seperti Amalia De Simone. Salah satu kisah terbarunya berupa video dan naskah investigasi untuk harian Corriere della Sera, di mana dia melaporkan tentang serangkaian praktek-praktek kejam yang dikecam oleh susteran Immacolata Institute, tidak jauh dari Napoli. "Setelah pemilihan Paus Fransiskus, suasana baru membuat koran-koran kurang peduli dengan cerita-cerita kritis terhadap Gereja," katanya. "Mungkin ada sesuatu yang berubah."


Amelia De Simone

Tapi bila perubahan terjadi, itu akan menjadi perubahan besar tentang bagaimana kekuatan gereja dirasakan dan dijelaskan publik. De Simone mengakui bahwa beberapa sumber tetap enggan untuk maju dan menentang gereja. "Mendorong mereka yang diduga menjadi korban untuk berbicara merupakan tantangan, bahkan lebih sulit dari mendorong korban-korban kejahatan terorganisir," kata De Simone.

Sebagai bagian dari proses untuk meningkatkan akuntabilitas keuangan, Tahta Suci juga telah menandatangani perjanjian internasional, termasuk perjanjian pada 2015 dengan Menteri Ekonomi dan Keuangan Italia untuk bertukar informasi antarkedua negara. Pada tahun yang sama, Paus secara tajam meminta Bank Vatikan untuk melandaskan operasinya pada "standar moralitas, efisiensi yang konsisten, dan praktik-praktik yang menghormati keistimewaan" insitusi.

Demi mempertahankan diri dari tudingan media, sebuah gereja lokal mengambil sebuah langkah yang jarang malah memutuskan untuk mengungkapkan daftar beserta alamat kekayaannya.

Menyusul investigasi pada 2015 oleh Giovanni Viafora untuk harian Corriere della Sera, di mana ia mengungkap struktur keuangan yang kompleks sebuah gereja di kota Padua, buletin yang diterbitkan gereja lokal memberi respons lima halaman yang menjelaskan semua asetnya secara rinci. Buletin tersebut menuduh surat kabar dan jurnalis itu memakai nada menyerang. Tapi temuan Viafora telah dipilah berdasarkan konfirmasi.


Giovanni Viafora

Surat kabar itu menerima surat dukungan dari imam lokal yang meminta perubahan di dalam gereja, dan salah seorang dari mereka secara terbuka menyerukan agar gereja lebih transparan dalam setiap khotbah. Pencalonan uskup baru, seorang pria yang dikenal karena kesederhanaan dan sikapnya yang tidak berlebihan, telah ditafsirkan sebagai suatu tanda sebuah arah yang baru.

Ditanya tentang bagian paling sulit dari upayanya menggali cerita, Viafora berbicara tentang mendiami dunia di mana bahasa amat terkendali. "Berbicara tentang rekening mereka, para imam berusaha menghindari kata uang, seolah-olah tidak ada hubungannya dengan itu," jelasnya. "Uang dianggap jahat."

Tapi ia mencatat bahwa setiap kali media menggebrak dengan cerita baru tentang gereja, masyarakat tampaknya menerima kejutan baru dan reaksi yang didapat semakin kuat. "Ada kebutuhan serta dorongan untuk lebih berani dan untuk menyimpan kesalahan tercela di tingkat nasional dan lokal," kata Viafora. 

"Terutama dalam gereja," pungkasnya kepada Alessiacerantola Cerantola, reporter Investigative Reporting Project Italy (IRPI). 


(WIL)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA