Mampukah Zimbabwe Bergerak Melewati Mugabe?

Arpan Rahman    •    Sabtu, 18 Nov 2017 20:04 WIB
zimbabwe
Mampukah Zimbabwe Bergerak Melewati Mugabe?
Warga Zimbabwe menuntut Presiden Robert Mugabe untuk mundur (Foto: AFP).

Harare: Robert Mugabe pernah memanggul harapan tinggi dunia di pundaknya. Pemimpin pemberontak yang membebaskan Rhodesia dari pemerintahan minoritas kulit putih yang rasis, dilantik sebagai perdana menteri negara baru Zimbabwe pada 1980. 

Pada jabatan itu, Mugabe berjanji melindungi hak-hak asasi orang kulit putih, menyatakan komitmennya terhadap peraturan konstitusional, dan berseru, "Hiduplah kebebasan kita!"

Seorang pemimpin sejati yang benar-benar mengabdi pada cita-cita yang diserukannya mungkin tidak akan berkuasa selama 37 tahun. Mugabe sudah bertahan dengan mengutamakan kepentingannya sendiri. Pada 1987, dia mendorong sebuah konstitusi baru untuk menciptakan sebuah kepresidenan yang sangat perkasa, yang dengan senang hati dia penuhi.

Dilansir Jumat 17 November 2017, Metrotvnews.com mengutip editorial Chicago Tribune, yang berlanjut sebagai berikut:

Selama ini, dia berperilaku seolah-olah dia sendiri yang berhak menentukan masa depan Zimbabwe. Menggunakan metoda yang kejam dan menindas seperti rezim kulit putih yang disingkirkannya. Negara, di bawah pemerintahannya, telah menjadi gurun politik dan ekonomi tandus.

Jadi tidak ada yang harus meneteskan air mata ketika cengkeramannya pada kekuasaan mulai terguncang. Muncul kecemasan bahwa pemimpin lalim berusia 93 tahun itu akan menyerahkan kendali kepada istrinya yang berusia 52 tahun, Grace, yang terkenal karena gaya hidupnya yang boros. Komandan tertinggi militer pun memperingatkan bahwa tentara akan melakukan intervensi jika diperlukan demi tujuan "melindungi revolusi kita."

Segera saja mereka menempatkan pasangan tersebut di bawah tahanan rumah. Menimbulkan spekulasi bahwa sebuah kudeta sedang berlangsung atau perundingan tengah dilakukan buat mendorong Mugabe untuk menyerahkan kekuasaan. Tidak jelas apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kebutuhan negara itu akan kepemimpinan baru sulit ditampik. Setelah bertahun-tahun mengalami hiperinflasi yang bercucuran mata, dia harus memalsukan mata uangnya sendiri dan mengadopsi dolar Amerika Serikat (AS) -- hanya untuk mengeluarkan uang kertas baru saat harganya tidak terlalu bernilai. 

Produk domestik bruto per kapita telah merosot sepertiga selama dua dekade terakhir. Defisit sering terjadi. Lebih dari 70 persen penduduk Zimbabwe terperosok dalam kemiskinan.

Rezim yang berkuasa menjadi contoh represi, korupsi, dan impunitas. Demokrasi hanyalah sebuah kenangan. Tatkala Mugabe dan partainya yang berkuasa terpilih kembali pada 2013, Kementerian Luar Negeri AS menyalahkan proses pemilu sebagai 'tidak jujur dan adil serta tidak kredibel'.

Tapi jika pengambilalihan kekuasaan sedang berlangsung, dunia seharusnya tidak berharap terlalu banyak. Militer telah lama menjadi pelayan partai yang berkuasa, bukan pembela reformasi. Orang yang dianggap paling tepat buat mengambil alih adalah Emmerson Mnangagwa, yang diberhentikan dari jabatan wakil presiden dan dipaksa melarikan diri ke pengasingan oleh Mugabe. Sebagai kepala dinas intelijen, dia diyakini memiliki peran utama dalam beberapa tindakan paling berdarah rezim tersebut. "Kekejamannya banyak," wartawan Afrika Selatan Peter Fabricius mengatakan kepada New York Times.

Hasil positif yang paling masuk akal, menyarankan analis Dewan Hubungan Luar Negeri John Campbell, memimpin pemerintahan transisi, termasuk anggota partai oposisi yang akan "mempersiapkan pemilihan demokratis yang sungguh-sungguh di masa depan, mungkin dalam dua atau tiga tahun." Sementara Mugabe mungkin tetap menjabat dalam status resminya sambil menyerahkan kekuasaan yang sebenarnya.

Tapi babak selanjutnya bisa jadi hanya kediktatoran yang sama bila seorang pemimpin baru berkuasa. Atau bisa juga anjlok ke dalam kekacauan dan bahkan perang saudara. Hal-hal itu bisa menjadi lebih buruk daripada lebih baik.

Intervensi tentara memberi kesempatan pada negara tersebut untuk bergerak menuju demokrasi dan peraturan hukum yang sejati. Namun Zimbabwe sudah pernah memiliki kesempatan sebelum ini.


(FJR)