Kapan Myanmar Berhenti Aniaya Rohingya?

Arpan Rahman    •    Sabtu, 26 Nov 2016 11:51 WIB
konflik myanmar
Kapan Myanmar Berhenti Aniaya Rohingya?
Warga etnis Rohingya dievakuasi ke tempat aman (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Naypyidaw: Konflik antara tentara Myanmar dengan minoritas Muslim Rohingya kembali terjadi. Penyerbuan kali ini masih diwarnai aksi penyiksaan, pembunuhan, pembumihangusan, dan pemerkosaan yang di luar batas perikemanusiaan. 
 
Kebejatan moral berujung senjata atas nama keamanan nasional terhadap penduduk sipil yang tak berdaya dikutuk oleh banyak diplomat dari pelbagai negara di penjuru dunia. Dewan redaksi Los Angeles Times, Jumat (25/11/2016),  menurunkan editorial tentang kekerasan di Myanmar tersebut, berikut:   
 
Lebih dari setahun sudah, pemenang Nobel Aung San Suu Kyi dan Liga Nasional untuk Demokrasi meraih kemenangan pemilihan umum di Myanmar. Kendati negeri itu telah maju berjalan menuju demokrasi penuh, namun belum tampak langkah yang sama dalam hal hak asasi manusia. 
 
Kita mengamati bagaimana pemerintah Suu Kyi benar-benar terkepung kemelaratan dan perselisihan-yang-ditunggangi di bagian negara itu -- kawasan yang dihuni banyak penduduk Muslim Rohingya, salah satu kelompok yang paling teraniaya di dunia -- atas nama keamanan nasional.
 
Pengepungan terjadi setelah serangan atas tiga pos perbatasan di kota Maungdaw, negara bagian Rakhine, Myanmar, menewaskan sembilan polisi, awal bulan lalu. Menurut pernyataan dari Kementerian Informasi, hasil interogasi terhadap dua penyerang yang dipimpin para pejabat telah mendapatkan kesimpulan. 
 
Bahwa serangan itu menjadi bagian dari rencana teroris militan yang rumit untuk mengambil alih daerah di negara bagian Rakhine. Kelompok hak asasi manusia dan media belum dapat memverifikasi setiap bagian dari penyelidikan tersebut.
 
Pemerintah Myanmar berhak menanggapi serangan terhadap polisi. Tapi apapun tanggapan itu, kelompok hak asasi manusia dan pejabat PBB telah mengecam taktik bumi hangus Myanmar. Sejak pengepungan, menurut Human Rights Watch (HRW), setidaknya 100 orang tewas dan 1.250 rumah dan bangunan lainnya telah dibakar. 
 
Beberapa kelompok mengatakan, militer membakar rumah-rumah. Militer berkilah, militan Rohingya telah membakar desa mereka sendiri. Ada juga pengakuan dari para perempuan bahwa mereka telah diperkosa oleh tentara. (Pemerintah membantah tuduhan tersebut.)
 
Ratusan orang telah ditangkap, bantuan kemanusiaan di Maungdaw telah dibatasi. Ribuan orang pergi meninggalkan desa mereka yang hancur, banyak pelarian yang berjalan terlunta-lunta berhari-hari melintasi perbatasan utara ke Bangladesh. 
 
Para pejabat Program Pangan Dunia PBB mengatakan, mereka diizinkan menyalurkan makanan selama dua hari, awal bulan ini. Tetapi para pejabat itu masih khawatir tentang akses bantuan di hari-hari mendatang. 
 
Para penerima bantuan yang bermukim di daerah pedesaan miskin adalah warga Muslim Rohingya. Berdasarkan penolakan Myanmar sejak lama untuk mereka menyandang kewarganegaraan, perjalanan mereka pun dibatasi di negeri itu, dan sebagian besar bergantung pada bantuan pangan untuk bertahan hidup.
 
Pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia di Myanmar dan Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Samantha Power, telah menyerukan agar tim pengamat internasional diizinkan menyelidiki tuduhan pelecehan dan kekerasan serta boleh mengulurkan bantuan kemanusiaan.
 
Bahkan mana kala Myanmar telah mengalami transisi selama bertahun-tahun dari pemerintahan militer ke demokrasi, itu belum menjadi transisi dari diskriminasi sanksi-negara kepada minoritas Muslim Rohingya. Periode kekerasan ini adalah indikasi lain dari perlakuan kejam memalukan pemerintah terhadap Rohingya dan gelagat mengecewakan bahwa Suu Kyi acuh tak acuh  untuk mengubah situasi. 
 
Mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan, yang diminta Suu Kyi musim panas lalu agar menjadi kepala komisi mengurus masalah di negara bagian Rakhine, mengeluarkan pernyataan tercatat bahwa "peristiwa baru-baru ini memperkuat urgensi untuk mengatasi segala tantangan." 
 
Annan punya hak itu. Mungkin dia bisa meyakinkan Suu Kyi supaya mengizinkan badan-badan bantuan dan para wartawan kembali terjun ke kampung-kampung, dan untuk menghentikan segala bantahan atas tuduhan pelecehan oleh pihak militer.



(FJR)