Fokus PBB ke Pengungsi Dipertanyakan

Arpan Rahman    •    Senin, 19 Sep 2016 21:22 WIB
imigran
Fokus PBB ke Pengungsi Dipertanyakan
Imigran yang diselamatkan di Eropa (Foto: AFP)

Metrotvnews, New York: Pekan ini pusat perhatian tentang krisis pengungsi global bergerak dari kawasan pantai Yunani, kamp-kamp pengungsi di Yordania, garis pantai Libya, Laut Mediteranea yang penuh bahaya maut, dan medan perang di Suriah menuju markas besar PBB di pinggir sungai di New York.
 
Masalah perpindahan manusia terburuk yang pernah dihadapi PBB akan menjadi fokus dari dua peristiwa penting di New York yang bertujuan untuk membangkitkan tindakan di seluruh dunia. 
 
Agenda pertama, diselenggarakan pada Senin 19 September, adalah KTT pengungsi dan migrasi PBB. Selasa 20 September, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengadakan acara tersendiri untuk pengungsi. Selain itu, digelar sidang umum (SU) PBB, jambore diplomatik tahunan yang diadakan di New York dihadiri para pemimpin dari seluruh dunia.
 
Pada SU PBB, para pemimpin dunia akan mengadopsi Deklarasi New York, sebuah naskah yang mengabadikan prinsip-prinsip tertentu, seperti komitmen untuk berbagi tanggung jawab agar krisis pengungsi ditangani lebih adil antara negara-negara anggota, dan untuk memerangi rasisme dan xenofobia.
 
"Meskipun judulnya muluk, bagaimanapun, 'naskah deklarasi' adalah bualan klasik PBB. Untuk mengamankan sokongan dari negara-negara anggota PBB, naskah telah ditulis dalam bahasa yang sering kali samar dan umum dan tidak memiliki ikatan atau komitmen konkret," seperti dikutip dari BBC, Senin (19/9/2016).
 
Absen dari dokumen itu, contohnya, adalah komitmen yang jelas untuk memukimkan kembali 10 persen dari pengungsi di dunia.
 
Sebuah klausul tentang penahanan anak-anak dihilangkan,-dan salah satu negara yang menekan hal itu adalah AS, yang menahan anak-anak tak tercatat yang melintasi perbatasan selatan dari Meksiko.
 
Ketimbang menyatakan penahanan itu harus dilarang, yang tertulis adalah penahanan "hanya kadang-kadang, jika pernah, itu demi kepentingan terbaik anak-anak."
 
Saat politisi populis seperti Donald Trump memicu sentimen anti-imigran, pemerintah Barat enggan untuk membuat komitmen baru dan mengadopsi bahasa yang lebih jelas.
 
Deklarasi New York akan meluncur dengan dua tahun negosiasi dan lebih lanjut yang bertujuan untuk menghasilkan dua kemasan baru, salah satu terfokus pada pengungsi, yang lain pada migran. Tapi sekali lagi, ini terasa seperti tong kosong nyaring bunyinya. Para pejabat PBB membela sidang umum, mengklaim hasilnya akan memiliki potensi untuk "mengubah permainan".
 
Mereka juga menunjuk ke makna bahasa dalam Deklarasi New York tentang memerangi eksploitasi, rasisme dan xenofobia, menyelamatkan nyawa dalam pengungsian, dan menjamin bahwa prosedur perbatasan mematuhi hukum internasional.
 
Walau di atas kertas kebutuhan untuk berbagi tanggung jawab lebih banyak antarnegara dipandang sebagai kemajuan, mengingat hanya sepuluh negara menerima hampir 60 persen dari seluruh pengungsi di dunia.
 
Deklarasi itu disambut kritis kalangan LSM. Oxfam menyebutnya sebagai hasil yang mengecewakan. "Para pemimpin dunia akan bertemu di New York untuk pidato, makan malam, dan acara yang menyilaukan," ujar Josephine Liebl dari Kampanye Global Perpindahan Oxfam.
 
"Simpati tentang krisis global ini akan disuarakan, tetapi kata-kata perlu tindakan," tambahnya. Oxfam ingin melihat negara-negara kaya menawarkan lebih banyak lokasi pemukiman, untuk memperluas rute yang aman dan hukum atas perlindungan dan dukungan bagi negara-negara miskin secara finansial.
 
"Deklarasi tersebut setuju untuk bertanggung jawab berbagi dalam teori, tetapi hanya sedikit untuk memastikan tanggung jawab berbagi dalam praktik," kata Liebl.
 
Amerika Serikat memutuskan untuk menjadi tuan rumah KTT sendiri, sebagian karena frustrasi akibat pertikaian birokratis antara berbagai badan PBB yang telah melemahkan respon organisasi.
 
Bertujuan demi mendapatkan komitmen yang lebih konkrit, telah dibuat "bayaran untuk bermain" dalam kumpulan itu sendiri. Hanya negara-negara yang telah membuat komitmen baru yang signifikan mendapatkan tempat.
 
Tujuan itu meningkat tiga kali lipat. Pertama, untuk mengamankan kontribusi reguler dari setidaknya sepuluh negara baru, dan untuk mendapatkan peningkatan 30 persen dalam pendanaan untuk permintaan kemanusiaan global, dari 10 miliar dolar AS pada tahun 2015 menjadi 13 miliar tahun ini.
 
Kedua, mendesak negara-negara yang sudah menerima pengungsi untuk melipatgandakan jumlah global pengungsi yang dimukimkan. Ketiga, untuk meningkatkan jumlah pengungsi kembali sekolah di seluruh dunia hingga satu juta orang.
 
Dalam istilah praktis, acara Obama akan menjadi lebih signifikan ketimbang dua KTT PBB. Janji substantif diyakini akan muncul dari sana. Setidaknya 45 negara telah menyanggupi untuk ikut serta, dan para pejabat AS sudah yakin mereka akan mencapai atau melebihi target. Namun Josephine Liebl dari Oxfam mencatat: "Ini adalah satu-satunya acara tanpa mekanisme tindak lanjut."
 
Skala masalah, yang telah terbawa ke dalam fokus kesengsaraan seperti krisis pengungsi di Eropa, sangat besar. Tapi respon internasional cukup memadai. Pada 2015, badan pengungsi PBB memproyeksikan 960.000 pengungsi membutuhkan pemukiman kembali, tapi hanya 81.000 orang yang beres diurusi.
 
Beberapa negara terkaya di dunia justru tercatat menerima pengungsi yang sangat sedikit.
 
Pada 2015, Jepang hanya menerima pengungsi 19 orang. Brasil menyambut ribuan atlet untuk Olimpiade Rio baru-baru ini, dan ratusan ribu wisatawan, tetapi hanya 6 pengungsi. Sedangkan Vladimir Putin telah mengakui, Rusia tidak ada sama sekali. Beban yang ditanggung tidak proporsional oleh negara-negara miskin. Hampir 90 persen dari pengungsi di dunia yang diterima di negara-negara berkembang.
 
PBB juga menghadapi krisis pendanaan, negara-negara kaya hanya membantu sedikit untuk meringankan. Permintaan bantuan PBB untuk pengungsi Suriah saat ini hanya 49 persen didanai. Itu masih lebih baik dibandingkan dengan permintaan untuk Sudan Selatan, yang berkisar 19 persen, dan Yaman yang hanya 22 persen.
 
Kelompok hak asasi manusia juga mengecam beberapa kekerasan, kebijakan tidak manusiawi yang diadopsi beberapa negara terhadap pengungsi. Human Rights Watch (HRW) menyatakan telah mendokumentasikan aksi penjaga perbatasan Turki menembaki warga sipil yang datang untuk mencari suaka.
 
HRW menuduh Pakistan dan Iran memaksa pengungsi Afghanistan untuk kembali ke negara mereka yang dilanda perang, itu melanggar hukum internasional.
 
Hungaria, yang membangun sebuah pembatas di perbatasan Serbia dan Kroasia, telah menggunakan gas air mata dan kanon air terhadap migran yang mencoba untuk masuk negara itu.
 
Pusat penahanan lepas pantai Australia di pulau Pasifik terpencil Nauru menuai kritik pedas. Amerika Serikat, Italia, Meksiko, dan Yunani juga menawan pencari suaka.
 
"Ini bukan hanya tentang uang atau jumlah lokasi pemukiman kembali yang lebih besar," kata Kenneth Roth, direktur eksekutif Human Rights Watch. "Tetapi juga tentang menopang prinsip-prinsip hukum untuk melindungi para pengungsi, yang berada di bawah ancaman yang belum pernah mereka alami sebelumnya."
 
New York, mengatur secara sangat simbolis bagi pertemuan puncak tentang pengungsi dan migrasi. 
 
Selama bertahun-tahun, New York telah menjadi pintu masuk ke Amerika bagi jutaan pelarian perang dan korban penganiayaan, yang telah mendarat di pantainya demi mencari kehidupan yang lebih aman dan sejahtera.
 
Dalam banyak hal, inilah kota tujuan dari sebuah hidup baru. Kritik terhadap Deklarasi New York menunjukkan bahwa hal itu tidak cukup untuk mengubah status quo.



(FJR)

Hillary Clinton Janjikan Biaya Kuliah Gratis

Hillary Clinton Janjikan Biaya Kuliah Gratis

16 hours Ago

Dalam kampanyenya bersama Bernie Sanders, Calon Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton menyatakan…

BERITA LAINNYA