Mendorong Tindakan Konkret ASEAN Terkait Krisis Rakhine

   •    Senin, 13 Nov 2017 09:07 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Mendorong Tindakan Konkret ASEAN Terkait Krisis Rakhine
Warga Rakhine yang mengungsi ke Bangladesh dari Myanmar (Foto: AFP).

Jakarta: Dorongan Indonesia ke negara-negara ASEAN agar melakukan tindakan konkret atas krisis kemanusian di Myanmar adalah tepat sasaran dan tepat waktu.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi kembali menegaskan bahwa situasi di Rakhine State memerlukan perhatian dan komitmen khusus. 

Dorongan ini disampaikan oleh Menlu Retno yang menyatakan bahwa situasi di Rakhine State memerlukan komitmen dan tindakan yang konkret agar krisis kemanusiaan dapat segera diakhiri. Pernyataan ini disampaikan Pertemuan ASEAN Political and Security Community (APSC) Council, di Manila, Minggu 12 November 2017.

(Baca: Menlu RI: Rakhine State Perlu Diperhatikan Secara Khusus).

Salah satu tindakan konkret adalah ASEAN menjatuhkan sanksi berupa embaro ekonomi terhadap Myanmar sampai pemerintah Myanmar mengubah kebijakannya.

Kebijakan itu ada tiga. Pertama tidak membiarkan aparat di lapangan untuk melakukan persekusi atas etnis Rohingya. 

Kedua menerima kembali etnis Rohingya yang saat ini berada diperbatasan.Myanmar-Bangladesh. Ketiga merekonstruksi kembali desa-desa dan tempat pemukiman para etnis Rohingya.

Tiga langkah konkret diatas ini diharapkan dapat dibahas oleh kepala pemerintahan dan kepala negara ASEAN dalam pertemuannya di Manila.

Sementara pengakuan terhadap etnis Rohingya sebagai warga Myanmar perlu dilakukan dengan tahapan yang disesuaikan dengan kondisi dan peraturan di Myanmar.

Pengakuan tidak perlu dikaitkan dengan embargo ekonomi mengingat masalah ini membutuhkan waktu. Bila dikaitkan akan dianggap sebagai campur tangan negara-negara ASEAN dalam masalah domestik Myanmar.


Penulis adalah Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana.


(FJR)