Kemenangan Atas ISIS Tidak Akan Pecahkan Masalah Irak

Arpan Rahman    •    Selasa, 18 Oct 2016 16:09 WIB
isis
Kemenangan Atas ISIS Tidak Akan Pecahkan Masalah Irak
Operasi serangan pasukan Irak di Mosul untuk usir ISIS (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Mosul: Setelah bertahun-tahun pelatihan dan persiapan, operasi untuk membebaskan Mosul, pertahanan terakhir Islamic State (ISIS) di Irak, dimulai. Selama pekan-pekan mendatang, kalau bukan berbulan-bulan, koalisi yang dipimpin pihak Barat, baik di darat maupun di langit, hampir pasti akan menandai akhir dari kontrol ISISI di wilayah Irak dan akan menjadi lonceng kematian apa yang disebut kekhalifahan.
 
Tapi apa yang terjadi selanjutnya? 
 
Guardian melansir pandangan Ranj Alaaldin, pakar Timur Tengah di London School of Economics and Political Science, Senin (17/10/2016). Saat ini, Dr Alaaldin memfokuskan diri pada perang ISIS, dengan penekanan khusus soal rekonstruksi pasca-konflik, sektarianisme, milisi Syiah, dan pasukan Peshmerga Kurdi. 
 
"Irak tidak memiliki sumber daya dan kapasitas untuk membangun kembali perkampungan dan kota-kota yang sudah hancur sejak kampanye melawan ISIS diluncurkan dua tahun lalu. Negeri  1001 Malam itu terpecah-belah, jika tidak gagal, di beberapa daerah (termasuk yang di luar wilayah pendudukan ISIS) tidak ada lagi penyedia utama layanan dasar dan keamanan," tutur Alaaldin.
 
"Irak terus menderita konsekuensi dari korupsi, sektarianisme, dan tidak berfungsinya pemerintahan, serta sejumlah besar milisi Syiah dan situasi keamanan yang sangat terkotak-kotak. Di masa mendatang, aneka langkah operasi untuk membebaskan Mosul akan makin gencar," sebutnya. 
 
Alaaldin menambahkan, ada ketidakpastian seputar tingkat resistensi dari perlawanan ISIS. Organisasi ini sebagian besar oportunistik yang mengeksploitasi dan mengkapitalisasi kelemahan lawan-lawannya, menggunakan taktik divisionaris untuk menguras sumber daya dari lawan-lawannya sementara menggeser fokusnya ke daerah lain.
 
Menurutnya kelompok ini tidak mungkin mau berhadapan satu lawan satu dengan pasukan keamanan Irak dan hampir pasti akan kembali ke cara pemberontakan dan melanjutkan perjuangannya di dalam lingkungan kota Mosul. Itu berarti menyatu dengan penduduk setempat, hingga sulit membedakan antara pejuang militan dan warga sipil.
 
Strategi membebaskan Mosul, seperti kampanye anti-ISIS umumnya, adalah untuk membersihkan kawasan militan ISIS, mempertahankan kendali atas wilayah yang direbut kembali dari kelompok itu, dan membangun ulang perkampungan dan kota-kota hancur. 
 
Tapi siapa yang akan melakukan pembangunan kembali? Selain kurangnya Irak sumber daya untuk membiayai rehabilitasi, juga tidak ada militer reguler yang mampu, dan yang memiliki dukungan dari penduduk lokal demi mempertahankan kontrol atas wilayah yang direbut dari ISIS.
 
Berbagai kelompok suku Sunni Arab diharapkan angkat senjata di kota itu, tetapi kelompok-kelompok itu bersaing antarmereka sendiri dan tidak selalu memiliki dukungan dan legitimasi di kalangan warga Mosul. Terutama karena mereka menerima dukungan dan pelatihan, baik dari faksi-faksi politik yang berseteru di Irak dan kekuatan eksternal yang banyak direndahkan oleh penduduk setempat.
 
Operasi Mosul membawa beban berat tertentu karena pembebasan kota secara efektif akan menandai dimulainya "hari pasca-ISIS." Ada sebuah aturan dari berbagai kelompok kuat dan bersenjata berat yang berbeda-beda seperti telah ditetapkan atas Mosul dan mereka memiliki agenda dan ambisi yang saling bertentangan. Masing-masing melihat pengaruh dan kontrol mereka atas provinsi ini sebagai ungkitan potensial dalam kaitannya dengan sengketa yang luar biasa mereka selama dekade terakhir atas wilayah ini, pembagian kekuasaan, dan sumber daya energi Irak.
 
"Terjadi persaingan sengit antara milisi Syiah yang berfungsi sebagai negara otonom dan Peshmerga Kurdi serta dengan para aktor dan pasukan keamanan Irak, yang bertanggung jawab kepada pemerintah Baghdad. Kehadiran Iran juga signifikan dan tulang punggung milisi Syiah, yang telah mengancam akan mengobarkan perang melawan Turki kecuali pasukan itu ditarik dari Mosul," tegas Alaaldin. 
 
"Pasukan Turki yang ditempatkan di sana diperkuat kelompok-kelompok seperti Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang telah berjuang di negara Turki untuk serangkaian hak-hak politik dan budaya bagi penduduk Turki keturunan Kurdi. Warga lokal asal Turki dan populasi Yazidi telah bergabung membentuk milisi mereka sendiri di bawah perlindungan dari para pendukung lokal dan asing," sebutnya.
 
Dengan kata lain, kondisi yang memunculkan ISIS di tempat pertama masih ada dan telah diperburuk, bukan dikurangi, selama dua tahun terakhir sejak pemberontak militan menguasai Mosul pada 2014. Sementara Presiden Obama jelas tidak ingin ISIS atau lebih tepatnya "khalifah" untuk hidup lebih lama dari masa kepresidenannya, tidak ada jaminan Amerika Serikat dan masyarakat internasional akan terus mendukung Irak dan membantu untuk memperbaiki kekurangan ini, serta memediasi faksi-faksi yang berseteru.
 
Secara jangka pendek dan jangka menengah, ISIS akan terus melakukan kekejaman teroris seperti pemboman pada Juli di Karrada yang menewaskan hampir 300 orang, dan masih memiliki gerilyawan di Suriah sebagai batu loncatan untuk melakukan serangan dan kekejaman di tempat lain. Serbuan terbaru di Mosul tidak akan mengubah itu -- dan tanpa investasi yang besar untuk membangun kembali perkotaan, tidak mungkin membantu Irak menjadi lebih damai, sebagai negara yang stabil.



(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA