Apa Jadinya Duterte Jika Filipina Putus dengan Amerika Serikat?

Arpan Rahman    •    Sabtu, 08 Oct 2016 16:53 WIB
as-filipina
Apa Jadinya Duterte Jika Filipina Putus dengan Amerika Serikat?
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Manila: Presiden Filipina Rodrigo Duterte terus melontarkan pernyataan kontroversial, bahkan kepada sekutunya sendiri. Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang paling sering diserangnya.
 
Mathew Davies, Kepala Departemen Hubungan Internasional di The Australian National University, yang mengkhususkan diri dalam politik Asia Tenggara, mengemukakan pandangan tentang prospek hubungan Amerika Serikat dengan Filipina. Pendapat yang diuraikannya adalah semata-mata dari penulis seperti dilansir CNN, Jumat (7/10/2016). Artikel ini hanya menyarikan uraiannya, berisi bahasa yang mungkin beberapa pembaca menemukannya bagai serangan.
 
Presiden Duterte menandai 100 hari pertama kepemimpinannya dengan mengecam aliansi negaranya sendiri dengan Amerika Serikat (AS).
 
Yang terbaru, dari kebiasaan marah-marahnya setiap hari, muncul selama rangkaian pidato yang dilontarkan di Manila. Duterte mengumumkan, "Aku mau putus dengan Amerika," menanggapi dugaan Washington menolak menjual persenjataan ke Filipina. Rusia dan Tiongkok, Duterte melanjutkan, bersedia menawarkan persenjataan yang diminta Filipina.
 
Kejengkelan Duterte terhadap pemerintah AS tidak juga surut. Segera setelah berkuasa, Duterte melancarkan gelombang pembunuhan di luar hukum. Ia memproklamirkan perang memburu para pengedar dan pecandu narkoba. Di tengah kecaman internasional atas berbagai pembunuhan tersebut, Duterte menyamakan dirinya dengan Hitler. 
 
Ia unjuk gigi dengan senang hati akan membunuh lebih banyak lagi. Duterte telah menghina Duta Besar AS untuk Manila, Philip Goldberg, menyebutnya "seorang gay, anak PSK," dan telah mengarahkan bahasa vulgar kepada Presiden Barack Obama seraya berkata "pergilah ke neraka."
 
Meskipun Juru Bicara Gedung Putih Josh Earnest menjamin aliansi AS-Filipina tetap kuat, tindakan ekstrem berlanjut Duterte dan tutur katanya menimbulkan kenyataan: mulai tumbuhnya risiko pada aliansi. 
 
Malah saat ini, pertanyaan serius perlu disampaikan tentang keandalan Filipina baik sebagai mitra aliansi dan sebagai mitra dalam promosi nilai-nilai demokrasi dan tata pemerintahan yang baik, yang berusaha dibela AS di kawasan. 
 
Bahaya yang nyata adalah jika Duterte mewujudkan ancamannya beralih ke Moskow atau Beijing. Bila ini terjadi, postur keamanan AS di Asia Timur berpotensi melemah.
 
Kalau Filipina berada dalam orbit Beijing atau Moskow akan mengacaukan kesanggupan AS untuk membela kebebasan navigasi di Laut Cina Selatan. Saat ini, AS dan Filipina melakukan patroli bersama di wilayah tersebut, dan yang terbaru April lalu. Sebelum kepresidenan Duterte, Filipina telah menandatangani perjanjian aliansi yang disempurnakan karena mengingat penempatan pesawat AS di Pangkalan Udara Clark, latihan bersama, dan kucuran dana AS buat mendukung peranti tambahan infrastruktur militer. Duterte telah mengindikasikan ingin meninjau ulang semua perjanjian ini.
 
Langkah Duterte menjauhi AS, juga akan memberanikan Tiongkok. Pada 12 Juli, kurang dari dua pekan setelah Duterte berkuasa, Permanent Court of Arbitration (PCA) telah merilis vonis menolak klaim Tiongkok di Laut Cina Selatan dalam mendukung pengaduan Filipina. PCA menyingkirkan segala pembenaran Tiongkok yang menduduki beberapa titik atol kecil Laut Cina Selatan, dan kasus-kasus lain yang timbul, dengan mengabaikan klaim dari negara-negara lain. 
 
Sekalipun Duterte tampaknya nyaris benar-benar memihak kemenangan ini, dia lebih sibuk untuk memakai Tiongkok sebagai cara menghindari isolasi lantaran menghina AS sebagai ancaman bagi kepentingan Filipina. Maka Filipina yang tidak mau menjaga klaim di kawasan tersebut, klaim yang mendukung posisi AS, adalah Filipina yang bekerja bukan untuk keuntungan pihak sekutunya seperti seharusnya. Melainkan justru menguntungkan pesaing yang paling signifikan bagi sekutunya itu sendiri.
 
Kita bisa membuat rencana dua masa depan mengenai hubungan AS-Filipina tergantung pada hasil pemilu AS.
 
Duterte, sosok populis kasar, sejajar calon Partai Republik Donald Trump. Namun, meski ada persamaan, presiden Trump kemungkinan akan lebih cepat memperburuk prospek kerjasama berlanjut AS-Filipina. Kita dapat meyakini bahwa Trump tidak akan menanggapi dengan sikap tak terpengaruh yang tenang seperti ditampakkan Obama untuk ocehan penghinaan yang dilemparkan ke arahnya. 
 
Terutama mengingat skeptisisme Trump menilai aliansi yang ada, dianggapnya tidak bekerja untuk kepentingan AS. Dua tokoh keras kepala bukan kabar baik bagi hubungan diplomatik yang stabil. Tidak mungkin Trump akan menerima bahwa manfaat strategis jangka panjang dari hubungan dekat antara Washington dan Manila lebih besar daripada kerugian jangka pendek gara-gara hinaan diplomatik Duterte.
 
Calon Partai Demokrat Hillary Clinton akan jauh lebih tradisional menyikapi hubungan AS-Filipina. Kemenangannya mungkin akan terlihat sebagai upaya lanjutan dari Washington yang diwariskan Obama, untuk menekankan keselarasan jangka panjang dari kepentingan bersama lantaran hubungan yang mendalam dan hangat antara kedua negara melampaui kepribadian pihak-pihak yang berkuasa. 
 
Clinton bisa dilihat lebih bijak tapi agresif dalam politik tanpa kompromi ketimbang Obama. Tapi dia juga seorang diplomat berpengalaman yang dapat menerima penghinaan dalam langkahnya mengejar visi jangka panjang. Dengan matanya tertuju pada Tiongkok, Clinton akan jauh lebih peduli mempertahankan posisi AS seperti saat ini; merangkai hubungan keamanan yang erat dengan negara-negara di sepanjang garis pantai Tiongkok.
 
Masih belum jelas apakah Duterte akan menindaklanjuti ancamannya, dan agenda kebijakan luar negeri utamanya juga masih kabur. Seorang Duterte yang berdarah panas tapi tanpa aksi hanya akan menjadi gangguan di posisi AS, sementara Duterte yang teguh antara kata dengan tindakan akan jauh menjadi bahaya yang lebih besar. Kebijakan Amerika terhadap Filipina harus bekerja ke arah mencegah kemungkinan yang terakhir kalau mau menerimanya sebagai mantan.



(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

4 hours Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA