Isolasi Qatar Tidak Bisa Dibiarkan Berlanjut

Arpan Rahman    •    Kamis, 15 Jun 2017 20:14 WIB
kisruh qatar
Isolasi Qatar Tidak Bisa Dibiarkan Berlanjut
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Doha: Perpecahan antara Qatar dan negara-negara Arab lainnya tidak dapat berlanjut dalam jangka panjang. 
 
Nasima Khatoon, peneliti magang di National Institute of Advanced Studies, IISc, Bengaluru, India, memberikan pandangan mengenai kisruh ini. Opininya dilansir The Hindu, Kamis 15 Juni 2017 berisi:
 
Pertikaian diplomatik baru-baru ini antara Qatar dan negara-negara Arab lainnya -- seperti Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir -- telah kembali menyoroti signifikansi geopolitik kawasan di luar faktor minyak. 
 
Soal ini muncul sebagai hasil dari tuduhan bahwa Qatar adalah negara kaya gas yang mendukung dan mendanai teror melalui dukungannya terhadap Iran dan Ikhwanul Muslimin, sebuah kelompok politik Islam Sunni yang dilarang oleh Arab Saudi dan UEA.
 
Tudingan ini juga sudah menjadi fokus di masa lalu. Sebuah laporan intelijen Amerika pada 2015 menuduh Qatar membiayai Hamas. Pun telah dituduh mendanai afiliasi al-Qaeda seperti Al-Nusra. Penampungan Qatar bagi Taliban Afghanistan, termasuk dengan menyediakan 'kedutaan', mengundang kritik yang meluas pula. 
 
Namun, aksi yang dipimpin Saudi kali ini nampaknya terutama ditujukan ke arah Iran. 
 
Beberapa hari sebelum pengumuman boikot tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuduh Iran menjadi sponsor teror regional. Dia kemudian berbicara mengenai sanksi terhadap Qatar, tanpa menghiraukan fakta bahwa monarki Teluk itu menjadi markas bagi pangkalan militer AS yang terbesar di Asia Barat. 
 
Secara historis, Qatar telah menghindari bersekutu dengan Arab Saudi atau Iran. Negeri ini ladang gas terbesar di dunia seperti halnya Iran, maka tidak bisa diabaikan.
 
Mengenai dampak sanksi terhadap India, hal itu bergantung pada Qatar atas 90 persen kebutuhan gas alam dan karenanya India akan menjaga hubungan baik dengan monarki tersebut. Beberapa hari setelah krisis, Kementerian Luar Negeri India menjelaskan bahwa India tidak memperkirakan adanya masalah yang diakibatkan hubungannya sendiri dengan negara-negara di kawasan ini. 
 
Namun, penerbangan Qatar Airways antara India dan Doha akan terkena dampak menyusul keputusan UEA tidak membolehkan ruang angkasanya digunakan, penerbangan sekarang harus melewati rute Iran.
 
Sanksi tersebut tentu akan merugikan ekonomi Qatar. Namun, dengan cadangan devisa sekitar USD335 miliar, diperkirakan bisa terhindar dari krisis ekonomi dalam jangka pendek. Fasilitas pelabuhan yang baru diperluas akan membantu melanjutkan ekspor gasnya. 
 
Namun, Doha tidak bisa membiarkan perselisihan berlangsung lama. Krisis jangka panjang cenderung membuat pinjaman lebih mahal bagi pemerintah, yang mempengaruhi kemampuannya untuk membangun infrastruktur bagi Piala Dunia FIFA 2022.
 
Negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) perlu bernegosiasi dan menemukan solusi, dengan mengingat agenda kolektif kelompok tersebut. Pembekuan diplomatik hanya akan memungkinkan aktor non-negara seperti Islamic State (ISIS) untuk memperkuat kehadiran mereka. Kerjasama antara Iran dan negara-negara Arab Sunni juga dikehendaki demi kepentingan mereka. 
 
AS telah berhasil menyeimbangkan ikatan strategisnya dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Namun, pernyataan baru-baru ini oleh Trump soal Qatar, di mana dia menuduh Doha mendanai ekstremisme, berisiko menaikkan tensi. 
 
Qatar perlu memilih antara menyelaraskan kebijakannya dengan negara-negara kelas berat regional atau isolasi yang lebih besar. Negara ini belum cukup kuat untuk memiliki doktrin regional independen sendiri.



(FJR)

Lebih Berbahaya Bepergian ke Eropa Daripada ke Suriah

Lebih Berbahaya Bepergian ke Eropa Daripada ke Suriah

39 minutes Ago

Serangan teror yang semakin meningkat di Benua Eropa beberapa tahun terakhir menjadi kekhawatiran…

BERITA LAINNYA