Menelaah Cara ISIS Membangun Tumpuan di Filipina

Arpan Rahman    •    Selasa, 06 Jun 2017 14:33 WIB
terorisme di filipina
Menelaah Cara ISIS Membangun Tumpuan di Filipina
Kelompok Maute yang terafiliasi dengan ISIS menguasai sebagian wilayah Marawi (Foto: ABS-CBN).

Metrotvnews.com, Marawi: Telah dua pekan, puluhan militan melawan angkatan bersenjata Filipina di kota Marawi, Pulau Mindanao, tempat sebagian besar minoritas Muslim Filipina bermukim. 
 
Pertempuran berkecamuk, yang luar biasa sengit bahkan menurut standar bagian rawan konflik di negara ini. Tergambarlah bahwa Islamic State (ISIS) sekarang juga merupakan masalah Asia Tenggara dan pemerintah Filipina mungkin adalah kawasan yang rapuh dalam hal mengatasinya.
 
Sementara Presiden Rodrigo Duterte terpusat energinya selama tahun pertama jabatannya untuk melakukan kampanye brutal menumpas para pengedar dan pengguna narkoba yang dicurigai, sebuah koalisi berbaur mendukung ISIS. Terdiri dari mantan gerilyawan, mahasiswa, keturunan keluarga politik, umat Kristen yang masuk Islam, mereka tumbuh sebagai kekuatan tempur dengan daya tahan yang mengejutkan. 
 
Mindanao sudah lama menjadi sarang pemberontakan. Namun kemunculan koalisi ini lebih ideologis dan memiliki hubungan lebih dekat dengan kelompok Islam di luar negeri ketimbang kelompok lokal sebelumnya. Menandai kegagalan pemerintah untuk memahami bagaimana sifat ekstremisme di Filipina telah berubah.
 
Kecamuk Marawi dalam lansekap pembangkang militan di Filipina menjadi fokus telaah Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) di Jakarta. Opininya dilansir New York Times edisi cetak, Senin 5 Juni 2017, berlanjut sebagai berikut:  
 
Pemberontakan bersenjata pro-otonomi aktif di Mindanao sejak 1970an. Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) mencapai kesepakatan damai dengan pemerintah pada 1996. Namun faksi-faksi yang tidak menyukai beberapa kesepakatan tersebut terus berjuang. 
 
Front Pembebasan Islam Moro (MILF), sebuah kelompok sempalan dengan sekitar 12.000 pejuang, memulai negosiasi pada tahun yang sama dan hampir mencapai penyelesaian akhir di bawah pendahulu Duterte. Tapi proses perdamaian buyar pada awal 2015 dan meski beberapa inisiatif oleh pemerintah baru, namun tetap menemui jalan buntu.
 
Teroris asing secara berkala muncul di sela-sela pemberontakan, terutama dari Al Qaeda pada pertengahan 1990an dan kemudian Jemaah Islamiyah, sebuah organisasi ekstremis yang berbasis di Indonesia. 
 
Pada 2005, ketika MILF mengusir sekelompok kecil gerilyawan asing demi melanjutkan pembicaraan dengan pemerintah, mereka pun bergabung dengan Abu Sayyaf, kelompok sempalan lain yang menentang kesepakatan MNLF dengan pemerintah. 
 
Berbasis di Kepulauan Sulu, sebelah barat daya Mindanao, Abu Sayyaf menginginkan sebuah negara Islam untuk Muslim Mindanao. Kelompok ini dikenal karena berbagai kegiatan penculikan minta tebusan, namun sampai pertengahan 2000an, juga menyambut para teroris asing yang mencari perlindungan.
 
Maka jangan heran bahwa Isnilon Hapilon, seorang pemimpin Abu Sayyaf, lantas menjadi salah satu militan terkemuka di Filipina yang mengikat kesetiaan kepada Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin ISIS, yang mengumumkan sebuah kekhalifahan di Mosul, Irak, pada 2014. Di awal 2016, sebuah koalisi pro-ISIS baru muncul di bawah pimpinan Hapilon, yang menyatukan kelompok-kelompok lintas wilayah dan etnis.
 
Pemerintah meremehkan ancaman yang berkembang. Segera setelah Duterte menjadi presiden tahun lalu, dia mulai menghancurkan Abu Sayyaf sebagai tanggapan atas serangkaian pemenggalan korban penculikan. 
 
Sebenarnya, para penculik tidak memiliki hubungan dengan faksi Hapilon. Sebagian karena kegagalan pemerintah menghiraukan fakta ini, namun juga gagal untuk melihat bahwa di kala itu koalisi yang terafiliasi dengan ISIS sudah melebihi Abu Sayyaf dan bahwa para pemimpinnya didorong oleh ideologi daripada keuntungan. 
 
Serangan militer terhadap pasukan Hapilon di Basilan, pulau kecil di selatan Mindanao, pada pertengahan 2016 hanya berhasil membuat kelompok tersebut mengalihkan markas operasinya ke hutan Lanao del Sur, provinsi di Mindanao tengah. Marawi adalah ibu kota provinsi ini.
 
Pengeboman pasar malam pada September 2016 di Davao, kota yang dipimpin Duterte sebagai wali kota sebelum menjadi presiden, seharusnya merupakan peringatan dini bagi pemerintah. Beberapa tersangka pelaku kemudian mengatakan kepada polisi bahwa mereka bertindak sesuai instruksi Hapilon, operasi tersebut telah direncanakan dan diurus oleh Maute bersaudara, pemimpin kelompok yang berbasis di Lanao del Sur. 
 
Maute adalah generasi baru ekstremis: muda, karismatik, berbahasa Arab, berpendidikan di Timur Tengah, melek media sosial, dan dengan koneksi internasional yang luas. Keluarga besar mereka adalah bagian dari elit politik dan bisnis Marawi, dan juga terkait lewat pernikahan dengan petinggi MILF. Sejak November lalu, kelompok Maute bentrok dengan tentara berulang kali, dua kali mengambil alih kota kecil Butig.
 
Operasi militer bukan penghalang: Para pejuang yang menduduki Marawi hari ini datang tidak hanya dari faksi Lanao del Sur, melainkan juga dari koalisi pro-ISIS yang lebih luas, termasuk asal Basilan dan luar negeri. Beberapa gerilyawan yang tewas di Marawi baru-baru ini warga negara Indonesia, Malaysia, dan Arab Saudi.
 
Pada April 2014 -- bahkan sebelum kekhalifahan diumumkan di Mosul -- tiga warga Malaysia bergabung dengan Hapilon di Basilan. Yang paling senior dari mereka, dikenal sebagai Abu Anas si Emigre, ditengarai telah berhubungan langsung dengan komando utama ISIS tersebut. Sesudah Abu Anas terbunuh di Basilan pada Desember 2015 -- Mahmud Ahmad, yang pernah menjadi profesor studi Islam di Universitas Malaya, mengambil alih posisi sebagai kepala strategi, pemodal, dan perekrut, awalnya untuk Hapilon dan kemudian untuk seluruh koalisi. Dia saat ini dipercayai berada di Marawi.
 
Pada pertengahan 2016, lantaran perjalanan melintasi perbatasan Turki dengan Suriah menjadi semakin sulit, para pemimpin ISIS mendukung militan di Mindanao. Juni lalu, media resmi kelompok tersebut merilis sebuah video yang menunjukkan orang Indonesia, Malaysia, dan seorang Filipina menghimbau rekan-rekannya yang tidak bisa mencapai Suriah agar pergi ke Filipina sebagai gantinya.
 
Sebuah seruan serupa telah muncul dalam saluran media sosial yang pro-ISIS di aplikasi Telegram. Pendudukan Marawi baru-baru ini, disambut euforia para ekstremis di situs media sosial di Indonesia dan tempat lain, hampir pasti akan menyebabkan lebih banyak teroris asing yang mau berperang di Filipina.
 
Inilah sebabnya mengapa Duterte harus meningkatkan strategi guna menghadapi koalisi ISIS yang melampaui serangan udara dan pengerahan kekuatan terus-menerus.
 
Darurat militer, yang diumumkan presiden di Mindanao pada 23 Mei, dapat menyebabkan lebih banyak penangkapan dan penahanan. Namun tidak akan sampai pada akar radikalisasi: Pemerintahan yang buruk, sistem hukum yang disfungsional, dan kemiskinan endemik. Sejumlah penjara, yang bobrok dan penuh sesak, merupakan lahan rekrutan utama bagi para teroris.
 
Pemerintah sangat membutuhkan proses perdamaian di Mindanao kembali ke jalur semula. Makin lama macet, semakin besar bahayanya, anggota MILF yang kecewa akan bergabung dengan koalisi ekstremis.
 
Tanggapan pemerintah Duterte atas ekstremisme Islamis sejauh ini berupa upaya menghancurkannya secara militer. Tapi terlalu sering taktik tangan besi hanya mengembangkan lebih banyak pejuang -- dan para pejuang dengan gelora balas dendam. Pemerintah Filipina harus memilih strategi komprehensif demi memperbaiki masalah sosial, ekonomi, dan politik yang telah menyebabkan ideologi ISIS menawarkan begitu banyak daya tarik di Mindanao.



(FJR)