Copotnya Putra Mahkota Arab Saudi, Kudeta di Tengah Gurun?

Arpan Rahman    •    Jumat, 21 Jul 2017 11:47 WIB
politik arab saudi
Copotnya Putra Mahkota Arab Saudi, Kudeta di Tengah Gurun?
Pangeran Mohammed bin Salman ditetapkan sebagai Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi (Foto: EPA).

Metrotvnews.com, Makkah: Mohammed bin Salman, seorang pangeran yang bangkit dari kegelapan saat ayahnya menjadi raja Arab Saudi pada 2015. Ia akhirnya menyingkirkan seorang paman demi menjadi putra mahkota. Status itu didapatkannya dalam tekanan rahasia yang telah "direncanakan sebelumnya".
 
Mohammed Bin Salman, putra nakal Raja Salman berusia 31 tahun, pada 21 Juni dinobatkan menjadi pangeran mahkota baru Arab Saudi. Keputusan yang tiba-tiba itu membalikkan peraturan suksesi dalam kerajaan ultrakonservatif.
 
Media Saudi mengatakan saat itu bahwa Allegiance Council, sebuah badan kepangeranan yang mengawasi pergantian kekuasaan, telah memilih dengan suara 31 banding 3 demi menyetujui putra Salman menggantikan Pangeran Mohammed bin Nayef, 57, keponakan raja.
 
Namun dalam sebuah laporan, pada Selasa 18 Juli 2017, New York Times mengutip pejabat saat ini dan mantan pejabat Amerika Serikat (AS) serta mitra keluarga kerajaan Saudi. Mereka mengatakan bahwa tekanan rahasia untuk menggulingkan Nayef sudah "direncanakan."
 
Laporan tersebut menceritakan bagaimana Nayef, yang juga menjabat Menteri Dalam Negeri, "pada satu malam di bulan Juni" dipanggil ke sebuah istana di Mekkah, menahan diri dari keinginannya, dan tertekan selama berjam-jam agar melepaskan klaimnya untuk menduduki takhta."
 
'Seperti kudeta Malam Natal'
 
Raja sebelum itu telah mengumpulkan "sebuah grup pangeran senior dan pejabat keamanan" di Istana Safa di Mekah.
 
"Saatnya menjelang akhir Ramadan, bulan suci Islam, ketika orang-orang Saudi sibuk dengan tugas-tugas keagamaan dan banyak ningrat berkumpul di Mekah sebelum bepergian ke luar negeri buat liburan Idul Fitri," kata laporan tersebut. "Itu menjadi sebuah perubahan yang menguntungkan, kata analis, seperti kudeta di malam Natal."


Pangeran Mohammed bin Salman gantikan Pangeran Mohammed bin Nayef (Foto: EPA).
 
Mohammed Bin Nayef diberi tahu sebelum tengah malam bahwa dia akan bertemu dengan raja. "Tidak biasanya diberitahu apa yang harus dilakukan" sebagai putra mahkota, dia "dibawa ke ruangan lain, di mana pejabat istana menyingkirkan teleponnya dan menekannya biar melepaskan jabatannya sebagai putra mahkota dan Mendagri."
 
Tidak jelas apakah Raja Salman sendiri berada di ruangan itu dan secara pribadi terlibat dalam pemaksaan terhadap bin Nayef.
 
"Awalnya, dia (Mohammad bin Nayef) menolak. Tapi seiring berlalunya waktu, sang pangeran, pengidap diabetes yang menderita akibat percobaan pembunuhan 2009 oleh seorang pelaku bom bunuh diri, menjadi lelah," kata laporan tersebut. Dia menyerah "sesaat sebelum fajar."
 
Para ningrat istana Arab Saudi sementara itu memanggil anggota Allegiance Council, mengatakan kepada beberapa dari mereka bahwa Mohammed bin Nayef memiliki "masalah narkoba" dan "tidak layak menjadi raja."
 
Putra mahkota menentang, dan disingkirkan
 
Sejak ayahnya mendapat kekuasaan, Mohammed bin Salman berspekulasi mendambakan penobatan menjadi raja berikutnya seturut takhta. Dia berusaha meningkatkan profilnya dengan kunjungan ke luar negeri pada bulan-bulan sebelum Pangeran Nayef dicopot.
 
Muncul juga pembicaraan tentang pertarungan kekuasaan antara Pangeran Mohammaed bin Salman dan Pangeran Nayef selama beberapa waktu.
 
Namun laporan New York Times menunjukkan bahwa lebih dari ikatan ayah dan anak yang berperan dalam kenaikan Mohammed bin Salman. Pangeran Nayef tampaknya sudah menentang keputusan 5 Juni oleh Arab Saudi dan beberapa negara Arab untuk memutuskan hubungan dengan Qatar dan memberlakukan blokade. 
 
"Sebuah pendirian yang mungkin mempercepat penggulingannya," sebut harian ini seperti dikutip Press TV, Kamis 20 Juli 2017.
 
Perang diplomatik dan ekonomi lawan Qatar tersebut, serta beberapa keputusan penting lainnya, dikaitkan dengan Mohammed bin Salman, yang ayahnya dilaporkan menderita demensia parsial. Sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi, bin Salman juga diyakini bertanggung jawab atas invasi maut ke Yaman, di mana korban sipil dan wabah kolera yang tinggi telah menuai kecaman internasional.
 
Baik perang melawan Yaman dan drama yang melibatkan Qatar diyakini menjadi keputusan yang terburu-buru di mana kerajaan Saudi tidak mengeluarkan strategi yang jelas.
 
Arab Saudi telah berusaha menggambarkan pergantian bin Nayef sebagai transisi yang mulus demi "kepentingan terbaik bangsa." Pada suatu pertemuan usai drama tersebut, bin Salman terlihat mencium tangan Nayef dan berkata kepadanya bahwa "Kami tidak akan pernah mengabaikan instruksi dan saran Anda."
 
"Semoga beruntung, Insyaallah," jawab bin Nayef, menurut rekaman pertemuan.
 
Namun laporan Selasa dan liputan sebelumnya menunjukkan bahwa bin Nayef telah ditawan di istananya -- tampaknya untuk mengekspos sebuah pengadilan dalam pertarungan melawan dirinya sendiri. Pejabat Saudi menyangkal bahwa Pangeran Mohammed bin Nayef berada di bawah tahanan rumah.



(FJR)