Trump Pindahkan Kedubes ke Yerusalem Keamanan Warga AS Terancam

   •    Rabu, 06 Dec 2017 11:48 WIB
opini
Trump Pindahkan Kedubes ke Yerusalem Keamanan Warga AS Terancam
Presiden AS Donald Trump sudah mengabarkan perihal pemindahan ke Presiden Palestina Mahmoud Abbas (Foto: AFP).

Jakarta: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan akan menyampaikan pidato untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem pada Rabu siang waktu Washington DC.
 
Banyak pihak termasuk pemimpin dunia mengkhawatirkan hal ini. Kebijakan ini bila diambil selain akan membuat instabilitas keamanan di Timur Tengah dan proses perdamaian Palestina dan Israel tentu akan menjadi keprihatinan dunia.
 
Salah satu konsekuensi yang harus dipikirkan oleh Pemerintah AS adalah keamanan dan keselamatan warga dan badan hukum AS di berbagai belahan dunia terutama di Timur Tengah dan negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim.
 
Ini karena masyarakat setempat bisa saja menunjukkan ketidaksetujuannya dengan cara-cara mereka sendiri. Hal-hal yang berbau AS akan menjadi target kemarahan.
 
Disinilah pemerintah berbagai negara termasuk Indonesia harus meningkatkan kewaspadaannya.
 
Pemerintah negara sahabat tentu mempunyai kewajiban untuk memastikan agar hal-hal yang berbau AS tetap dijaga. Namun karena banyaknya warga dan aset mungkin ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah manapun.
 
Masyarakat berbagai negara termasuk Imdonesia harus dapat menahan diri untuk tidak melakukan tindakan anarkis terhadap hal-hal yang berbau AS, terutama warganya.
 
Justru warga AS harus didekati dan diimbau agar mereka melakukan tindakan-tindakan agar kebijakan Trump tidak diimplementasi.
 
Rakyat AS dapat melakukan demo besar-besaran, bahkan ke lembaga peradilan agar mengentikan implemetasi kebijakan Trump kalau kebijakan sudah bulat diambil.
 
Ketika komunikasi para pemimpin dunia dengan Trump gagal maka satu-satunya upaya agar kebijakan tidak terimplementasi adalah melalui rakyat AS.
 
Rakyat AS lah yang berdaulat dan rakyat AS yang dapat melakukan berbagai upaya terhadap kebijakan Trump dan kedudukan Trump sebagai Presiden.
 
 
Penulisa adalah Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana.



(FJR)