Pemilu Jerman: Merkel Hadapi Peta Perpolitikan Baru

Arpan Rahman    •    Senin, 25 Sep 2017 16:58 WIB
politik jerman
Pemilu Jerman: Merkel Hadapi Peta Perpolitikan Baru
Kanselir Angela Merkel dalam pertemuan dengan para petinggi CDU di Berlin, Jerman, 25 September 2017. (Foto: AFP/ODD ANDERSEN)

Metrotvnews.com, Berlin: Kemenangan Angela Merkel dalam pemilihan umum menghasilkan rekor baru: untuk kali pertama sejak awal 1960-an, partai ekstrem kanan akan hadir di parlemen Jerman atau Bundestag.

Berikut opini tentang Merkel dan pemilu terkini dalam percaturan politik Jerman yang telah berubah, seperti dilansir Irish Times, Senin 25 September 2017. 

Setelah masa kampanye yang kurang semarak di Jerman, tercapai sebuah hasil yang memungkinkan pemerintahan tetap berlanjut, tidak terpecah. Tapi jangan salah, hasil pemilu ini dipastikan mengubah peta politik Jerman.

Seperti yang diperkirakan banyak pihak, blok konservatif Merkel -- Demokrat Kristen (CDU) dan partai kembaran Bavaria mereka -- muncul sebagai pemenang mutlak, dengan perkiraan 32,5 persen suara. Hal itu membuat Merkel hampir pasti menduduki kembali jabatan kanselir untuk kali keempat.

Merkel mendudukkan dirinya bersama Konrad Adenauer dan Helmut Kohl sebagai kanselir pascaperang yang memenangkan empat kali pemilu nasional. Sebagai wanita pertama dan warga Jerman timur di posisi tersebut, rekornya merupakan prestasi luar biasa. 

Baca: Menang Pemilu, Angela Merkel jadi Kanselir Jerman Keempat Kalinya

Sementara bagi Partai Sosial Demokrat (SPD), yang membuntuti CDU Merkel dengan 20 persen, hasil tersebut bisa dibilang sebagai bencana bagi pemerintahan saat ini. Martin Schulz, MEP (anggota Parlemen Eropa), kembali menjadi penantang utama Merkel. Ia dan SPD bertkead akan mengadang setiap langkah Merkel yang menjanjikan stabilitas.

SPD bisa saja bergerak lebih jauh lagi, di mana paling tidak menawarkan alternatif yang lebih menarik bagi para pengikut Merkel. Tapi Schulz adalah seorang yang moderat, sama seperti Merkel. Hanya akan ada satu pemenang dari mereka, dan itu adalah Merkel.


Martin Schulz. (Foto: AFP)

Koalisi Besar

Bagi Merkel, kemenangannya dikuatkan lanskap pascapemilu yang kompleks, yang akan memberikan ujian tegas kepemimpinannya. Seperti di Irlandia, Prancis, dan negara lain, blok yang secara tradisional dominan berada dalam periode penurunan relatif. Inilah pertunjukan terburuk bagi dua partai besar di Jerman sejak tahun 1949. 

Di antara penerima manfaat dari perpecahan tersebut adalah populis: dalam kasus Jerman, sayap kanan Alternative-Deutschland (AfD), diperkirakan meraup 13,5 persen suara, berada di titik teratas dari perolehannya dalam jajak pendapat pra-pemungutan suara. 

Ini merupakan pencapaian besar bagi AfD: Untuk pertama kalinya sejak awal 1960-an, ekstrem kanan hadir di Bundestag. Itu akan mengacaukan partai-partai besar dan mengubah nada politik Jerman.

Sejak dibentuk pada 2013, AfD lantang menyuarakan sikap anti-Muslim dan imigran mereka. Mereka menilai Muslim dan imigran adalah ancaman bagi negara dan bangsa.

Mengotak-atik hasil pemilu untuk dijadikan sebuah koalisi yang layak bisa memakan waktu berbulan-bulan. Hasil perundingan tersebut akan berdampak hingga di luar batas-batas kenegaraan Jerman. 

SPD kemungkinan akan menolak ajakan koalisi besar untuk tetap berada di jalur oposisi. Hal tersebut dapat memaksa Merkel berpaling ke Partai Hijau dan Demokrat Pembebasan yang liberal-kanan, sebuah partai yang bahkan kurang antusias ketimbang CDU mengenai reformasi Uni Eropa yang jauh dari anjuran Macron dan pemimpin lainnya. 

Masa depan Uni Eropa barangkali tidak ditampilkan dalam kampanye pemilu Jerman, namun akan terus berimbas pascapemungutan suara.


(WIL)


Grup Amal Texas Tampung 30 Imigran yang Ditahan AS

Grup Amal Texas Tampung 30 Imigran yang Ditahan AS

6 hours Ago

Para imigran itu ditampung usai otoritas AS mencabut dakwaan hukum atas tuduhan memasuki wilayah…

BERITA LAINNYA