Percaya Diri sesudah Terpilih Kembali, Sekuat Apa Presiden Iran?

Arpan Rahman    •    Senin, 22 May 2017 16:26 WIB
politik iran
Percaya Diri sesudah Terpilih Kembali, Sekuat Apa Presiden Iran?
Hassan Rouhani kembali terpilih sebagai presiden Iran setelah memenangkan pilpres pada 20 Mei 2017. (Foto: AFP/ATTA KENARE)

Metrotvnews.com, Teheran: Politikus moderat berusia 68 tahun, Hassan Rouhani, yang merintis kesepakatan nuklir 2015 dengan berbagai kekuatan dunia -- kembali menang dalam pemilihan umum presiden pada Sabtu 20 Mei 2017.

Di Teheran dan seantero Iran, merebak kegembiraan saat ribuan pendukung Rouhani turun ke jalan, bernyanyi dan menari. Rouhani mengusung kebebasan sipil dalam kampanye utamanya, dan secara blak-blakan berterima kasih kepada mantan presiden reformis Mohammed Khatami -- yang dilarang tampil di media sejak demonstrasi 2009 -- dalam pidato pelantikannya.

'Era ekstremisme sudah berakhir'

Rouhani juga mendorong pembatasan selama dua pekan terakhir lewat kritik terselubung tentang badan peradilan dan keamanan yang didominasi kubu konservatif di Iran. Ia berkata pada para pendukungnya, "Kita telah menyelesaikan pilpres ini untuk memberi tahu kepada mereka yang mempraktikkan kekerasan dan ekstremisme, bahwa era Anda telah berakhir."

"Orang-orang Iran ingin hidup dalam kedamaian dan persahabatan dengan seluruh dunia, namun tidak akan menerima ancaman atau penghinaan apapun," kata Rouhani di televisi pemerintah.

"Pesan rakyat kita telah tersampaikan dengan sangat jelas. Rakyat Iran telah bergandengan dengan dunia, jauh dari ekstremisme," katanya di televisi pemerintah.

"Rakyat kita telah menyatakan kepada negara-negara tetangga dan seluruh kawasan bahwa cara untuk memastikan keamanan adalah penguatan demokrasi dan tidak bergantung pada kekuatan asing," tambahnya, seperti dilansir First Post, Senin 22 Mei 2017.

Menurut harian Rudaw, Rouhani mengatakan, "(Iran) siap memperluas hubungannya dengan dunia berdasarkan rasa saling menghormati dan menjunjung kepentingan nasional... Anda adalah satu bangsa, punya satu negara, menghendaki seorang presiden yang bisa menjadi presiden semua orang, dan melayani segenap manusia."

Kebijakan terbuka Rouhani 

Rouhani menampilkan dirinya sebagai agen perubahan dan kebebasan sosial, menyerang lawan-lawannya yang dinilai sebagai "ekstremis." Istilah pertamanya merujuk kesepakatan 2015 dengan negara-negara adidaya yang mengakhiri banyak sanksi dan kebuntuan selama 13 tahun atas program nuklir Iran.

Dia juga membawa pendekatan yang lebih teknokratis terhadap ekonomi dan menjinakkan inflasi yang melambat. Namun para kritikus mengatakan bahwa dia secara habis-habisan mengambil keuntungan ekonomi dari kesepakatan nuklir tersebut, dan muncul kekhawatiran bahwa berlanjutnya stagnasi dan tingginya tingkat pengangguran akan mencederai keterpilihannya kembali. 

Para pendukungnya berharap kemenangan gemilang ini akan memberinya lebih banyak pengaruh demi memudahkan pembatasan sosial dan membebaskan aktivis serta pemimpin oposisi yang dipenjara setelah demonstrasi massa di tahun 2009.

Pengalaman luas di latar belakang Rouhani, yang dipupuk sebagai anak didik mantan pemimpin revolusioner Akbar Hashemi Rafsanjani, menempatkannya pada posisi yang kuat untuk bernegosiasi dengan kekuatan konservatif di badan kehakiman dan keamanan.

Namun, dia tetap menjadi anggota Association of Combatant Clergy yang konservatif, meski posisinya atas para penentang tampaknya melunak selama bertahun-tahun. Rouhani secara konsisten berusaha membangun kembali hubungan dengan Amerika Serikat, dan menjadi pemimpin Iran pertama yang berbicara dengan mitranya di Washington saat Barack Obama menelepon pada September 2013.

Dia tidak pernah berilusi tentang sulitnya hubungan tersebut, dengan mengatakan kepada wartawan AS pada 2002: "Amerika tidak tertarik pada negara-negara independen... Amerika sangat tertarik pada negara-negara yang sepenuhnya menyerahkan diri mereka dan bertindak sesuai dengan tuntutan Amerika."

Maka tidak mengherankan jika pendirian konservatif Iran -- terutama di peradilan dan Garda Revolusi elite -- tetap amat mewaspadai wacana Rouhani tentang kebebasan sipil dan membangun hubungan dengan Barat. 

"Institusi yang tidak suka akan berupaya mencegah Rouhani menerapkan agenda reformasinya," kata Clement Therme, analis Iran untuk International Institute for Strategic Studies. 

"Jadi dia akan fokus pada sisi ekonomi. Jika kehidupan sehari-hari penduduk membaik, dia akan berada dalam posisi yang lebih kuat untuk mendorong reformasi struktural pada hak-hak sipil."

Memperbaiki ekonomi tidaklah mudah. Kendati tercipta kesepakatan nuklir dengan adikuasa dunia, Washington masih mempertahankan serangkaian sanksi yang menghalang-halangi bank global dan investor asing.

Presiden AS Donald Trump telah melangkah lebih jauh, mengancam buat menyisihkan kesepakatan nuklir dan mengunjungi saingan regional Iran yang sedang marah, Arab Saudi, akhir pekan ini. Di Saudi, dia menandatangani kesepakatan persenjataan senilai USD110 miliar yang digambarkan sebagai sasaran terhadap "pengaruh Iran yang tidak sesuai" di kawasan tersebut.

Meskipun demikian, pemerintah Eropa dan Asia masih bertekad mempertahankan kesepakatan nuklir tetap berlaku dan memanfaatkan sepenuhnya peluang investasi yang menguntungkan di Iran. Mereka menyambut kemenangan Rouhani atas tokoh garis keras Ebrahim Raisi, yang telah mengancam pendekatan yang lebih ketat dan lebih terasing dalam hubungan luar negeri.

"Banyak investor yang tidak saya tahu selama tiga bulan tiba-tiba menelepon saya pagi ini. Beberapa di antaranya sudah memesan tiket mereka," kata Farid Dehdilani, penasihat internasional untuk Iranian Privatisation Organisation usai pengumuman hasil pilpres, Sabtu. 

"Rouhani akan lebih agresif memburu agenda ekonominya -- berinvestasi di pabrik, produksi dan menyerap modal asing. Saya pikir dia akan mengisi kabinetnya dengan orang-orang yang lebih muda dan lebih gesit," katanya.


Warga Iran merayakan kemenangan Rouhani. (Foto: AFP)

Nyatakah Kekuatan Rouhani?

Iran menggambarkan dirinya sebagai Republik Islam. Menggelar pemilu dan telah memilih wakil rakyat yang meloloskan undang-undang dan memerintah atas nama rakyat mereka. 

Namun, pemimpin tertinggi memegang keputusan akhir mengenai semua masalah negara, dan Dewan Wali harus menyetujui semua undang-undang yang disahkan oleh parlemen. 
Mereka yang memimpin Gerakan Hijau Iran setelah terpilihnya kembali Ahmadinejad dalam pilpres 2009 tetap berada di bawah tahanan rumah. Pasukan keamanan yang hanya melayani pemimpin tertinggi juga secara rutin menangkap dua warga negara dan orang asing, menggunakan mereka sebagai pion dalam negosiasi internasional. 

Menantang pasukan keamanan, yang mengendalikan sebagian besar ekonomi dan membutuhkan sumber daya Iran sebagai sumber patronase, akan menjadi sulit. Dan Rouhani telah gagal membebaskan para pemimpin oposisi yang dipenjara atau mencegah penangkapan beberapa warga negara ganda oleh dinas intelijen di luar kendalinya.

Di jantung pemerintahan, pembagian kekuasaan Iran yang diciptakan setelah Revolusi Islam 1979 adalah pemimpin agung, posisi yang sekarang dipegang Ayatollah Ali Khamenei. 

Pemimpin tertinggi juga berperan sebagai panglima angkatan bersenjata negara tersebut, dan memimpin Garda Revolusi, sebuah kekuatan paramiliter yang terlibat dalam perang di Suriah dan pertempuran melawan militan Islamic State (ISIS) di Irak, yang juga memiliki kepentingan ekonomi yang luas di seluruh Iran. 

Panel ulama terpilih 88 anggota yang disebut Majelis Pakar menunjuk pemimpin tertinggi dan dapat menyingkirkannya juga, meski itu tidak pernah terjadi.

Pertanyaan jangka panjang yang besar adalah apakah Rouhani dapat memengaruhi tampilnya pemimpin tertinggi berikutnya sepeninggal Khamenei yang makin menua. Raisi, yang disebut-sebut sebagai calon penggantinya, kini sudah tidak bertahan lagi, kata Izadi. Khamenei, 77, menjadi pemimpin tertinggi kedua dalam sejarah Iran.

Presiden Iran menjadi satu dari tiga anggota dewan sementara yang mengambil alih tugas pemimpin tertinggi, seandainya jabatannya menjadi kosong sampai penggantinya diajukan oleh panel yang dikenal sebagai Assembly of Experts. Rouhani dan Raisi, keduanya duduk di majelis itu. 

"Mungkin dia akan kembali dalam empat tahun, tapi dengan penampilan seperti ini, kita yakin bahwa Raisi tidak akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya. Pemimpin itu harus menunjukkan dukungan rakyat." 

Tetapi dengan sekelompok sosok garis keras yang dengan tegas-tegas memegang kendali Majelis Pakar yang akan memilih pemimpin berikutnya, Rouhani dan sekutunya memiliki pengaruh kecil terhadap suksesi tersebut.

Presiden Iran berada di bawah pemimpin tertinggi, namun tetap berkuasa dengan pengaruh yang cukup besar, baik terhadap kebijakan dalam negeri maupun luar negeri. Dalam kasus Rouhani, pemerintahannya menegosiasikan kesepakatan nuklir 2015 dengan sejumlah kekuatan dunia, yang mengawasi Iran membatasi pengayaan uraniumnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi. Kesepakatan itu dilakukan dengan restu Khamenei.

Garda Revolusi paramiliter, yang bertanggung jawab kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, akan terus meluncurkan rudal balistik dan memiliki hubungan dekat dengan kapal-kapal Angkatan Laut AS di Teluk Persia.


Pemimpin agung Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: AFP)

Tekanan dari Garis Keras

Banyak yang takut bahwa masa jabatan keduanya bisa mencerminkan kenyataan sebagaimana presiden reformis Mohammad Khatami di awal tahun 2000-an, ketika setiap usaha reformasi menjadi sia-sia gara-gara pendirian kalangan garis keras tersebut. 

Tapi Rouhani, tokoh sisa dari rezim lama, mungkin lebih baik tempatnya dibandingkan pendahulunya, kata profesor politik Foad Izadi, dari Universitas Teheran. "Rouhani telah menunjukkan dirinya sebagai politikus yang lebih cerdas daripada Khatami," kata Izadi.

Kalangan garis keras dalam badan peradilan dan keamanan Iran akan terus menekan Rouhani dengan cara berbeda. Bahkan sebelum pemungutan suara, elemen garis keras secara rutin menahan dua warga negara asing, mungkin mencari timpalan dari pihak Barat. 

Beberapa seniman, jurnalis, model, dan lainnya telah ditargetkan dalam tindakan keras terhadap kebebasan berekspresi. Kaum garis keras mungkin akan menantang Rouhani di parlemen negara tersebut, terutama mengenai masalah sosial atau tindakan yang tampaknya menerima atau mempromosikan budaya Barat.

"Dia sudah menjadi bagian dari sistem lama guna mengetahui bagaimana mengarahkannya. Khatami lebih ideologis hingga mengurangi kemampuannya untuk menyelesaikan banyak hal. Secara krusial, pendekatan teknokratik Rouhani telah memungkinkannya untuk merangkul tokoh konservatif kunci seperti ketua parlemen Ali Larijani," kata Izadi.

"Aliansi dengan Larijani sangat membantu Rouhani dalam mendudukkan para menteri dan kebijakannya disetujui, yang akan terus menjadi penting dalam masa jabatan keduanya," lanjut dia.

Dalam sebuah wawancara dengan Deutshce Welle, Adnan Tabatabai, pakar Iran mengatakan bahwa walaupun pemimpin tertinggi Iran memiliki keputusan akhir, ada dewan lain di mana kebijakan negara dibuat. Seorang presiden yang terhubung dengan dewan ini dapat memiliki efek lebih besar dalam memengaruhi perubahan nyata dalam membuat kebijakan.

 


(WIL)