Kawan Berjuang di Medan Perang, Kini Dimusuhi

Arpan Rahman    •    Kamis, 02 Feb 2017 13:56 WIB
pemerintahan as
Kawan Berjuang di Medan Perang, Kini Dimusuhi
Pasukan AS yang bertempur (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Washington: Sepanjang tahun 2004, seorang pria Irak yang saya sebut Frank, demi melindungi identitasnya, melayani satuan Korps Marinir saya dengan kehormatan tinggi. 
 
Saat pleton kami hidup di antara tentara Irak di sebuah desa di luar Falluja, juru bahasalah yang menjembatani kami dengan masyarakat sekitar. Hubungan kami dengan para pemimpin agama dan bangsa lokal membuat kami selamat. 
 
Meskipun wilayah itu berbahaya dan serangan terhadap tentara Amerika Serikat (AS) sering terjadi, di kota kecil itu, pasukan saya tidak pernah tersentuh. Itu berkat upaya Frank dan para penerjemah lokal lain.
 
Pada November itu, peleton saya terdiri 30 Marinir dan 30 tentara Garda Nasional Irak menyerang ke dalam Falluja di hari kedua pertempuran sengit. Kami bermaksud merebut kembali kota tersebut dari pemberontak. Saat salah satu regu saya menyerbu sebuah bangunan, sersan peleton saya dan Frank tertembak dan harus dievakuasi dengan helikopter. Hari itu, Frank merasa sakit di kakinya.
 
Kerelaannya, dan kerelaan banyak orang Irak lainnya seperti dia, untuk berani pertempuran dan membantu pasukan Amerika: menempatkan mereka dan keluarga mereka dalam bahaya besar dari militan.
 
Pada 2006, salah satu juru terjemah saya, Abood, dan keluarganya terpaksa mengungsi dari Irak setelah militan meninggalkan kepala anjing di luar pintu rumah mereka dengan sebuah catatan yang menyebutkan bahwa berikutnya giliran mereka. 
 
Saya berutang nyawa kepada Abood dan tidak terhitung berapa kali dia menempatkan diri dalam bahaya demi melindungi "Marinir-nya". Dua dari empat putri Abood juga menjadi penerjemah. Saat itu, tidak ada jalan bagi mereka bermigrasi ke AS, hingga ia dan keluarganya melarikan diri ke Yordania, di sana mereka menunggu dengan harapan remang-remang Amerika akan membuka pintu.
 
Kesal dengan penderitaan sahabat, saya bersaksi di depan Senat pada Januari 2007 tentang perlunya melindungi penerjemah kami. Digariskan nasib yang aneh, saya bertemu Jenderal John Kelly -- sekarang menterinya Presiden Trump di bidang keamanan dalam negeri -- yang saat itu bertanggung jawab atas urusan legislatif untuk Korps Marinir. Secara resmi, dia perlu memastikan bahwa saya tidak akan mempermalukan Korps Marinir. 
 
Tapi saya takkan pernah melupakan kata-katanya kepada saya: Abood telah memakai seragam Korps Marinir dalam pertempuran, dan kami berkewajiban membuatnya tetap aman.
 
Setelah pertemuan itu, Kongres menciptakan program visa khusus bagi warga Irak yang membantu AS selama perang. (Program serupa kemudian dibuat untuk Afghanistan.) Ini bukan masalah partisan, tapi masalah kehormatan nasional dan tanggung jawab, dan ribuan orang telah datang ke Amerika Serikat dengan visa mereka.
 
Tujuh bulan setelah saya bersaksi, Abood dan keluarganya tiba di AS, sebagai pengungsi. Dia meninggal lima tahun silam karena kanker, tapi anak dan istrinya tinggal di sini. Seorang putrinya jadi polisi New York City, dan yang seorang lagi melamar untuk bergabung dengan pasukan. Abood, seperti Frank dan banyak juru bahasa lainnya, bergabung dengan barisan kami karena dia percaya Amerika membela sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Mereka percaya Amerika adalah negara yang istimewa.
 
Dua bulan lalu, saya mendapat surat elektronik dari Frank. Dia masih tinggal di Baghdad, setiap hari ketakutan akan keselamatan keluarganya. Setelah enam tahun diperiksa, termasuk apa yang kelihatan seperti wawancara dan pemeriksaan latar belakang yang tak terhitung oleh berbagai instansi pemerintah, dia akhirnya dibolehkan datang ke AS beserta istrinya yang sedang hamil dan bayi mereka berusia 18 bulan. Saya dan istri saya mulai mempersiapkan ruang tamu bagi kedatangan mereka.
 
Tapi kini, karena perintah eksekutif baru oleh Presiden Trump, Frank tidak lagi diterima. Dan dia tidak sendirian. Instruksi Trump diteken, pada Jumat 27 Januari, mencekal masuknya semua pengungsi ke AS selama 120 hari, melarang pengungsi Suriah tanpa batas waktu, dan memblokir masuk ke AS selama 90 hari untuk warga tujuh negara mayoritas Muslim, termasuk Irak.

Segera telepon saya berbunyi terus, penuh dengan email dan pesan dari veteran militer lainnya yang telah berjuang guna membawa para penerjemah Irak atau Afghanistan mereka ke AS. Beberapa dari mereka sudah terbang ke New York dan San Francisco. Sekarang orang-orang itu, termasuk Frank dan keluarganya dan ratusan orang lain di pipa visa khusus, terdampar di panti bagi orang telantar.
 
Ketika dia tandatangani perintah, Trump menyatakan bahwa tindakannya akan mencegah teroris masuk Amerika. "Kami tidak mau mereka di sini," katanya. "Kami ingin memastikan bahwa kami tidak menerima teror di negeri kita sementara tentara kita berjuang di mancanegara."
 
Tapi langkahnya menangkal banyak Muslim yang ingin datang. Frank dan ribuan warga Irak lainnya dan orang-orang Afghanistan yang bekerja dengan pasukan kita dalam pertempuran mewujudkan begitu banyak dari apa yang kita perjuangkan sebagai bangsa. Dan seperti banyak imigran tempo dulu pergi ke Amerika, para nenek moyang kita, mereka melarikan diri dari represi untuk berharap hidup lebih baik.
 
Lebih penting lagi, mereka melakukan sesuatu yang lebih sedikit -- tidak banyak -- orang Amerika telah memilih untuk melakukannya: Mereka memakai, dengan risiko besar, seragam militer kita. Frank berjuang dan berdarah-darah bersama kami. Dan sekarang, di saat dia membutuhkan, kita telah berpaling dari dirinya, dari cita-cita yang membuat negara ini besar.
 
 
*Opini ini ditulis oleh mantan anggota Marinir AS, Zachari Iscol untuk the New York Times. 

(FJR)