Meksiko Resah: 'Jauh dari Tuhan, Dekat dengan Amerika'

Arpan Rahman    •    Kamis, 02 Feb 2017 18:36 WIB
politik meksikopemerintahan as
Meksiko Resah: 'Jauh dari Tuhan, Dekat dengan Amerika'
Alebrije, sosok tradisional Meksiko, yang dilengkapi wajah Donald Trump dibakar di depan Kedubes AS di Mexico City, Meksiko, 29 Januari 2017. (Foto: Yuri Cortez/AFP/Getty)

Metrotvnews.com, Los Angeles: Ada masa lalu penuh problema antara Meksiko dengan tetangganya, Amerika Serikat (AS).

Presiden Donald Trump dikabarkan telah mengancam akan mengerahkan pasukan AS untuk membasmi "bandit" di Meksiko. Ancamannya membangkitkan luka lama yang dianggap banyak orang Meksiko telah hilang dalam sejarah.

Presiden AS meniru bahasa dari film koboi -- yang lebih mirip Blazing Saddles daripada The Magnificent Seven -- yang dirasakan nyata di kalangan warga Meksiko, bahwa negara adidaya telah kembali untuk mem-bully.

Percakapan antara Trump dan Presiden Enrique Pena Nieto via telepon dikabarkan berlangsung buruk. Trump disebut-sebut meremehkan Meksiko

"Anda punya banyak bandit di sana," kata pemimpin AS kepada Pena Nieto, menurut bocoran transkrip ke Associated Press, Rabu 1 Januari. 

"Anda tidak melakukan cukup upaya menghentikan mereka. Saya pikir militer Anda takut. Militer kami tidak, jadi saya akan mengirim mereka untuk mengurusnya," sentil Trump, seperti dilansir Guardian, Kamis (2/2/2017).

Ancaman dan kelancangan itu mengejutkan Meksiko. Seperti kembali ke masa lalu saat terjadinya penyerbuan AS untuk menangkap Pancho Villa.

"Kasihan Meksiko, begitu jauh dari Tuhan, terlalu dekat dengan AS." Semua orang Meksiko tahu kutipan tersebut. Sebuah refleksi dari tetangga kuat dan ekspansionis (AS) di era diktator Meksiko, Porfirio Diaz.

Sejarah bermasalah diawali setelah Meksiko merdeka dari Spanyol pada 1821. Republik belia yang morat-marit, kekurangan sumber daya dan penduduk untuk mengolah dan melindungi tanah utaranya dari Comanches (orang Indian Amerika di barat daya AS) dan ekspansionisme Paman Sam.


Francisco ‘Pancho’ Villa. (Foto: Getty)

Maka, dalam kekeliruan yang disesali hingga hari ini, Meksiko mengundang pemukim AS buat mengolah tanah, dengan syarat mereka mempekerjakan para budak, menganut Katolik, dan bersumpah setia pada Meksiko. Para pemukim memberontak dan meskipun kehilangan benteng Alamo -- meraih kemerdekaan, menciptakan Republik Texas pada 1836.

Satu dekade kemudian Presiden Polk mencium kesempatan guna memperpanjang wilayah AS ke selatan sampai Samudera Pasifik. Invasi dan pendudukan 1846-1848 melanda Meksiko dan wilayah itu kini dinamakan California, Nevada, Utah serta sebagian Arizona, New Mexico, dan Colorado, serta sedikit Wyoming.

Meksiko masih menjunjung "los ninos heroes" - para pahlawan anak -- yang konon berjuang melawan penjajah dan kemudian terjun dari sebuah benteng demi mengorbankan diri, sambil menggenggam bendera, ketimbang menyerah. Seragam hijau yang dipakai marinir AS konon memicu teriakan "go green", dan kini menjadi istilah 'gringo' (orang asing).

Pasukan AS muncul kembali pada 1914, saat kerusuhan revolusioner, untuk menduduki Veracruz. Mereka datang lagi pada 1916 untuk memburu Pancho Villa, seorang panglima perang pemberontak yang membunuh warga AS di kedua sisi perbatasan. Meskipun berkekuatan 5.000 tentara, lengkap dengan pesawat dan truk, AS gagal menangkapnya.

Terjunnya AS ke dalam perang dunia kedua menghangatkan hubungan dengan Meksiko. Mereka butuh logam Meksiko dan tenaga kerja. Program Bracero membolehkan jutaan orang bekerja di ladang dan pabrik-pabrik. Arus berbalik pada 1954 ketika Presiden Eisenhower memerintahkan Operasi Wetback, kebijakan kontroversial yang menangkap dan mendeportasi sebanyak 3,8 juta orang Meksiko.

Hubungan kedua negara secara bertahap menghangat di era 1960-an dan 70-an. Beberapa perjanjian menyudahi sejumlah kebekuan diplomatik, membuka jalan bagi apa yang disebut sebagai kesepakatan terbesar dari semua: Perjanjian Perdagangan Bebas Utara Amerika (Nafta) pada 1994.

Ikatan ini mengeliminasi hambatan perdagangan dan investasi serta mentransformasikan Meksiko -- membuka ekonominya senilai USD1,6 miliar dalam perdagangan lintas perbatasan sehari-hari. Kebijakan ini menguntungkan kelas menengah, namun menghancurkan kalangan petani tradisional dan sektor lainnya.

Meksiko menjadi terbiasa melihat presiden AS memeluk rekan-rekan mereka di Meksiko dan memanggil mereka kawan. George Bush dan Barack Obama memperpanjang keamanan perbatasan, termasuk pagar sepanjang lebih dari 1.000 kilometer di perbatasan sepanjang 3.218 km. Tapi pagar itu tidak mengganggu hubungan kedua negara yang semakin dekat. Makanan Meksiko, budaya, dan ekspresinya merembes ke dalam arus utama AS.

Meksiko kesal karena menilai AS telah memicu peredaran narkoba di utara negara dan senjata api di selatan. Meksiko pun kerepotan untuk mengatasi perang narkoba yang menelan banyak korban hingga saat ini. Tapi istilah "jauh dari Tuhan dan dekat dengan AS tampak kuno" sudah tidak terdengar lagi, karena kedua negara pada dasarnya adalah amigos (sahabat).

Semua itu berjalan mulus, hingga akhirnya muncul sosok Trump sebagai Presiden AS. 

Ditulis oleh Rory Carroll, koresponden Guardian


(WIL)

Waspadai Infiltrasi Ideologi

Waspadai Infiltrasi Ideologi

3 hours Ago

Infiltrasi ideologi merupakan ancaman di balik cepatnya perkembangan teknologi. Namun pendekatan…

BERITA LAINNYA