Rusia Sebut Tudingan Intervensi Pemilu AS Tak Masuk Akal

Marcheilla Ariesta    •    Sabtu, 17 Feb 2018 14:35 WIB
pemilu asrusiapemerintahan as
Rusia Sebut Tudingan Intervensi Pemilu AS Tak Masuk Akal
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump tuduh Rusia intervensi Pilpres AS 2016 (Foto: AFP).

Moskow: Tuduhan Amerika Serikat (AS) yang menyebut warga negara Rusia campur tangan dalam pemilihan presiden di Negeri Paman Sam dianggap tak logis.
 
 
"Sebanyak 13 orang ikut campur dalam pemilihan AS? 13 Orang melawan anggaran layanan intelijen miliaran? Melawan intelijen, melawan perkembangan teknologi terkini, jelas tak masuk akal," ucap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, seperti dilansir dari laman Sputnik, Sabtu 17 Februari 2018.
 
Pernyataan Zakharova menanggapi dakwaan Dewan Juri Federal AS yang menjatuhkan hukuman pada 13 warga dan tiga perusahaan Rusia yang dituding mencampuri pemilihan presiden di AS.
 
Seorang pengusaha Rusia Evgeny Prigozhin yang ikut didakwa juri federal AS, tidak menunjukkan kemarahannya atas dakwaan tersebut. Dia bersama 12 warga Rusia lainnya didakwa atas dugaan mencampuri pencalonan pemilihan di AS.
 
"Orang Amerika adalah orang yang sangat emosional, mereka melihat apa yang ingin mereka lihat. Saya sangat menghormati mereka, saya sama sekali tidak marah ketika saya ada dalam daftar ini, jika mereka ingin melihat iblis, biarkan mereka," kata Prigozhin.
 
Dalam dokumen pengadilan, pemerintah AS mengatakan bahwa entitas Rusia mulai mencampuri proses politik AS, termasuk pemilihan presiden 2016, sejak awal 2014.
 
 
Sebelumnya,  Jaksa khusus Amerika Serikat (AS) yang menyelidiki dugaan keterlibatan Moskow dalam pemilihan umum presiden 2016, Jumat 16 Februari 2018, mendakwa 13 warga Rusia atas tuduhan menjalankan operasi rahasia untuk memengaruhi hasil pilpres. 
 
Dakwaan itu --yang meliputi sejumlah tuntutan awal dari jaksa khusus Robert Mueller terkait intervensi pilpres-- menggambarkan secara detail operasi sejumlah warga Rusia pada 2014. 
 
Dalam dakwaan disebutkan sejumlah warga Rusia menjalankan operasi rahasia untuk memicu perpecahan di AS dan memengaruhi dunia perpolitikan Negeri Paman Sam. 
 
Mueller menyebut bahwa pada pertengahan 2016, operasi tersebut --di bawah arahan Yevgeny Prigozhin yang merupakan teman dekat Presiden Rusia Vladimir Putin-- difokuskan pada dukungan terhadap Trump dan menjatuhkan rival-rivalnya, termasuk Hillary Clinton.



(FJR)