OPCW Konfirmasi Racun yang Menyerang Mantan Agen Rusia

Fajar Nugraha    •    Jumat, 13 Apr 2018 10:44 WIB
inggrisgas beracunrusia
OPCW Konfirmasi Racun yang Menyerang Mantan Agen Rusia
Lokasi dimana mantan agen Rusia Sergei Skripal diracun di Inggris (Foto: AFP).

London: Lembaga pengawas senjata kimia dunia (Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons /OPCW) memberikan konfirmasi mengenai jenis racun yang digunakan untuk menyerang mantan mata-mata Rusia di Inggris, Sergei Skripal.
 
Pemerintah Inggris sebelumnya menyebutkan jenis racun yang digunakan untuk menyerang Skripal dan putrinya, merupakan Novichok yang hanya dibuat di Rusia.
 
OPCW pun mengeluarkan pernyataannya mengenai racun yang sudah mereka periksa. "Sampel yang diuji oleh OPCW mengonfirmasi temuan dari Inggris terkait identitas bahan kimia beracun (yang digunakan terhadap Skripal)," pernyataan pihak OPCW, seperti dikutip AFP, Jumat 13 April 2018.
 
OPCW tidak memberikan rekomendasi siapa yang berada di balik serangan 4 Maret itu. Tetapi Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan,"Tidak diragukan lagi mengenai apa yang digunakan dan siapa yang bertanggungjawab," tuturnya.
 
"Hanya Rusia yang memiliki maksud, motif dan catatan (mengenai racun itu)," jelasnya.
 
Rusia menolak tuduhan keterlibatan dalam serangan ini. Negeri Beruang Merah mencurigai bahwa pemerintah Inggris menahan putri dari Skripal. Yulia Skripal diketahui sudah tidak lagi dirawat di rumah sakit.
 
Moskow menegaskan bahwa tidak akan menerima kesimpulan dari OPCW, kecuali para ahli dari Rusia diberikan akses kepada sampel yang diperiksa.
 
"Tidak ada informasi mengenai bagaimana, dari siapa atau kondisi sampel yang diambil. Hal ini yang menimbulkan pertanyaan dari kalangan ahli di Rusia dan tentunya memerlukan analisa detail," sebut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova.
 
Mengenai status Yulia Skripal, Zakharova menyebutkan bahwa pihak punya banyak alasan bahwa perempuan itu ditahan Inggris. Menurutnya, penahanan dilakukan menjelang pengumuman hasil penyelidikan OPCW.


(FJR)