Rusia Mengaku Masih Sulit Bermitra dengan Jepang

Willy Haryono    •    Rabu, 16 Jan 2019 20:16 WIB
politik jepangrusia
Rusia Mengaku Masih Sulit Bermitra dengan Jepang
Menlu Rusia Sergei Lavrov dalam pidato tahunan di Moskow, 16 Januari 2019. (Foto: AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV)

Moskow: Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan Moskow dan Tokyo masih 'sulit bermitra' meski kedua negara sudah berupaya menyelesaikan perseteruan terkait masalah pulau sengketa di perbatasan.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dijadwalkan bertemu di Moskow pekan mendatang. Keduanya akan membicarakan empat pulau di wilayah perbatasan yang menjadi sumber ketegangan dua negara.

Tahun lalu, Putin dan Abe sepakat meningkatkan upaya untuk menyepakati perjanjian damai demi mengakhiri ketegangan yang bermula sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Lavrov, berbicara dalam sebuah konferensi tahunan di Moskow, mengungkapkan pandangannya menjelang pertemuan Putin dan Abe. "Saat ini kita masih jauh dari membuat semacam kemitraan dalam hubungan internasional," ungkap dia, seperti dikutip dari laman AFP, Rabu, 16 Januari 2019.

"Mengapa Jepang menjadi satu-satunya negara di dunia yang tidak dapat menerima hasil Perang Dunia II secara keseluruhan?" tanya Lavrov.

Menurut dia, mengakui hasil PD II bukan sebuah ultimatum, melainkan "bagian tak terpisahkan dari sistem internasional modern."

Baca: Dubes Rusia: Pulau Kuril Milik Kami

Sebelumnya pada pekan ini, Lavrov telah bertemu Menlu Jepang Taro Kono. Ia meminta Tokyo mengakui kedaulatan Moskow atau Kepulauan Kuril jika ingin mengakhiri ketegangan kedua negara.

Selain soal pulau sengketa, Lavrov menilai sikap Jepang yang pro terhadap Barat juga berpotensi memperburuk hubungan antara Negeri Beruang Merah dengan Negeri Sakura.

"Jepang selalu menentang kita dalam semua resolusi terkait kepentingan Rusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa," sebut Lavrov.

Kepulauan Kuril, yang berjarak kurang dari 10 kilometer dari Hokkaido, Jepang, terdiri dari pulau Kunashir, Iturup, Shikotan dan Habomai. Tiga dari pulau itu berpenghuni, sementara Habomai hanya diisi petugas patroli.

Pada 1956, Jepang dan Uni Soviet menandatangani sebuah dokumen yang intinya menyerahkan Shikotan dan Habomai kepada Tokyo. Namun Jepang menolak dan meminta agar keempat pulau itu menjadi milik mereka.


(WIL)