Jerman Khawatir Diretas Rusia, Dubes Galuzin: Itu Propaganda

Willy Haryono    •    Rabu, 30 Nov 2016 16:49 WIB
rusia
Jerman Khawatir Diretas Rusia, Dubes Galuzin: Itu Propaganda
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin (Foto: Willy Haryono/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin terkejut saat mengetahui kabar bahwa Kanselir Angela Merkel menyebut Rusia berpotensi meretas dan mengganggu jalannya pemilihan umum Jerman tahun depan. 
 
Kekhawatiran juga disampaikan kepala badan intelijen Jerman Bruno Khal, yang menyebut adanya serangkaian serangan di dunia maya yang bertujuan "menciptakan ketidakpastian politik."
 
 
"Saya bahkan baru tahu kanselir berkata seperti itu. Jika memang dia berkata seperti itu, maka itu hanya propaganda, itu kesalahan besar, itu kebohongan," kata Dubes Galuzin dalam pertemuan rutin dengan awak media di kediamannya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2016). 
 
Dalam sebuah konferensi pers di Berlin pada 8 November, seperti dikutip AFP, Merkel mengatakan Rusia mungkin akan mencoba memengaruhi jalannya pemilu di Jerman pada 2017. "Saat ini kami sedang menghadapi serangan internet yang berasal dari Rusia, dan juga berita-berita yang menyebarkan informasi palsu," sebut Merkel. 
 
Galuzin mengaku tak habis pikir mengapa selalu dijadikan kambing hitam oleh negara-negara Barat. Saat masa kampanye pilpres Amerika Serikat (AS), Rusia juga dituduh melakukan peretasan untuk memenangkan Donald Trump. Moskow membantah keras terlibat dalam proses pilpres di Negeri Paman Sam. 
 
"Apakah Amerika Serikat benar-benar berpikir bahwa urusan dalam negeri mereka dapat begitu mudahnya disusupi atau diintervensi melalui peretasan sistem teknologi informasi mereka? Apakah hal tersebut mungkin terjadi pada negara yang mengklaim sebagai pemimpin dunia yang luar biasa yang memiliki teknologi informasi tercanggih?" tanya Dubes Galuzin. 
 
Masih terkait pemilu, Rusia juga menepis tuduhan bahwa pihaknya menjagokan kandidat tertentu di Prancis. April tahun depan, Prancis dijadwalkan menggelar putaran pertama pilpres. 
 
Tokoh yang disebut-sebut berpotensi besar menjadi presiden baru Prancis adalah Francois Fillon. 
 
"Tidak ada kandidat favorit di Prancis, itu semua terserah warga Prancis. Kami tidak pernah menyebut Rusia lebih suka terhadap Fillon," tegas Dubes Galuzin.



(FJR)