Rusia Klaim Didukung AS untuk Upayakan Perdamaian di Suriah

Arpan Rahman    •    Kamis, 23 Nov 2017 18:03 WIB
krisis suriah
Rusia Klaim Didukung AS untuk Upayakan Perdamaian di Suriah
Pertemuan tiga negara untuk membahas krisis Suriah (Foto: AFP).

Moskow: Perundingan Sochi antara presiden Rusia, Turki, dan Iran mengonfirmasi peran utama ketiga negara dalam menyelesaikan masalah Suriah.
 
Ketua Dewan Federasi Rusia (majelis tinggi parlemen) Komite Luar Negeri Konstantin Kosachev menuliskan ihwal itu di Facebook. Menurutnya, jelas Amerika Serikat (AS) dan sekutunya tidak punya kesempatan menerapkan kondisi tentang upaya mencapai perdamaian di Suriah. Jadi mereka terpaksa memberi Rusia sebuah kekuasaan penuh.
 
"Kesepakatan yang sudah dicapai membuktikan bahwa ketiga negara mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah Suriah dan tidak akan meninggalkannya," kata Kosachev. 
 
"Ini berkat campur tangan Rusia yang menentukan dalam konflik tersebut, secara mendasar mengubah situasi. Tetapi Rusia tidak berusaha sepenuhnya mengendalikan segalanya dan semua pihak, itulah alasan mengapa ketiga negara menjadi penjamin perjanjian gencatan senjata dan proses perdamaian yang akan datang," senator Rusia itu menambahkan.
 
Kosachev mencatat, "Jelas betul memenangkan perdamaian di Suriah akan lebih sulit dari memenangkan perang. Tetapi kekalahan kekuatan teroris besar menunjukkan bahwa ada kesempatan sejati bagi perdamaian, serta kelegaan para pemimpin untuk mengakui bergunanya aktivitas Rusia dan kelompok trilateral ini. Selain itu, semua orang di Suriah sudah bosan perang, sementara Barat terpaksa memberi Rusia kekuasaan sepenuhnya."
 
Menurut dia, AS dan sekutunya sangat prihatin atas kemungkinan bahwa Iran -- bukan Rusia atau Suriah -- akan memperkuat pengaruhnya di wilayah tersebut. 
 
"AS akan, yang pertama dan terutama, melakukan segala kemungkinan demi mencegah Iran meningkatkan pengaruhnya di kawasan ini dan melestarikan kehadirannya di Suriah. Sementara Washington memandang kehadiran Rusia sebagai fakta yang tak terelakkan, namun dapat diterima. Pihak Barat dapat membuat mundur Iran dari Suriah," sebut Kosachev.
 
"Dengan cara apa pun, orang Amerika tidak dalam posisi memaksakan kondisi, yang sangat jelas," pungkasnya seperti dikutip kantor berita TASS, Kamis 23 November 2017.
 
Pada Rabu, perundingan trilateral antara presiden Rusia, Turki, dan Iran -- Vladimir Putin, Recep Tayyip Erdogan, dan Hassan Rouhani -- berlangsung di resor Sochi, Laut Hitam, Rusia. 
 
Dalam komunike terakhir, tiga kepala negara menekankan bahwa pembentukan zona de-eskalasi dan inisiatif politik lainnya yang bertujuan menyelesaikan krisis Suriah "dalam situasi apa pun" harus "mengurangi kedaulatan, kemerdekaan, kesatuan, dan integritas teritorial Republik  Arab Suriah." 
 
Selain itu, ketiga pemimpin negara sepakat untuk terus "mengkoordinasikan upaya memastikan hal yang tidak dapat dibantah: kecenderungan meredakan kekerasan."



(FJR)