ASEAN Buka Kesempatan Emas bagi Swedia untuk Berinvestasi

   •    Sabtu, 02 Sep 2017 20:14 WIB
indonesia-swedia
ASEAN Buka Kesempatan Emas bagi Swedia untuk Berinvestasi
Pertemuan pelaku usaha Swedia dengan para dubes negara ASEAN (Foto: Dok.KBRI Stockholm).

Metrotvnews.com, Stockholm: Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC), sudah sepatutnya bisa dimanfaatkan oleh dunia internasional.
 
Swedia menjadi salah satu negara yang ditawarkan untuk melakukan investasi di ASEAN. Banyak peluang bagus yang bisa digali oleh Swedia.
 
"Swedia mendapat tempat yang khusus bilamana terus menggenjot investasi dan memanfaatkan kemudahan di dalam ASEAN Economic Community (AEC)," demikian disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Swedia, Bagas Hapsoro, mewakili para duta besar ASEAN, di pertemuan ASEAN Business and Investment Forum di Stockholm Jumat 1 September 2017.
 
"Potensi investasi yang cukup besar di ASEAN merupakan peluang yang harus dimanfaatkan oleh Swedia," lanjut Bagas, dalam keterangan tertulis KBRI Stockholm, yang diterima Metrotvnews.com, Sabtu 2 Agustus 2017. 
 
Dihadiri lebih dari 100 peserta, Seminar yang dilakukan dalam rangka menyambut hari ulang tahun ke-50 ASEAN tersebut mendapat sambutan dan antusiasme besar dari sebanyak 100 peserta yang hadir. Tidak hanya perusahaan besar, tetapi juga perusahan berskala menengah dan kecil, perbankan, akademisi, diplomatik dan lembaga pemerintah Swedia turut hadir dalam forum tersebut.
 
Pengusaha setempat melihat potensi ASEAN sebagai kekuatan ekonomi yang tengah menggeliat di dunia dan patut mendapatkan perhatian tersendiri dari pelaku usaha di Swedia, terutama karena keberadaan ASEAN Economic Community yang dicanangkan mulai dari akhir 2015. Kekuatan yang terdapat di ASEAN antara lain adalah jumlah penduduk yang mencapai 630 juta orang dan meningkatnya kalangan menengah dengan kekuatan ekonomi yang mulai menanjak dan daya beli yang besar.
 
Dubes Malaysia Norlin Othman,-selaku chairman ASEAN Committee di Stockholm periode Juli-Desember 2017,- menyebutkan semua kedutaan ASEAN di Stockholm berfungsi sebagai 'jembatan' untuk menghubungkan perusahaan-perusahaan di Swedia dan ASEAN. 
 
"Kemudahan dan daya tarik investasi antar sesama negara ASEAN cukup beragam, dan kami sendiri dari ASEAN satu sama lain berlomba-loba untuk meningkatkan peringkat kemudahan investasi," imbuh Dubes Malaysia. 
 
Beberapa perusahaan pun berbagi pengalaman perusahaan-perusahaan besar yang bersedia membagi 'success story', seperti Scania, Volvo, SKF, Skandvik, Atlas Copco, serta perusahaan perbankan SEB. Beberapa perusahaan tersebut juga menjelaskan pengalaman dan tantangan yang dihadapi antara lain: angka korupsi yang naik, tingkat gangguan politik, minimnya sumber daya manusia dengan kemampuan tinggi dan terlatih, serta situasi geopolitik utamanya konflik di Laut Cina Selatan.
 
Mantan Dubes Swedia untuk Vietnam, Camilla Mellander menyebutkan bahwa kedudukan Swedia dan negara-negara Nordik lainnya, termasuk berada pada peringkat tinggi diantara negara-negara Uni Eropa (UE) dalam menanamkan modalnya di ASEAN. Meskipun UE mengalami cobaan dengan mundurnya Inggris dari keanggotaan UE (Brexit), namun negara-negara UE lainnya tetap meneruskan perundingan Free Trade Area dengan UE.
 
Diperkirakan pada November 2017 mendatang akan ditandatangani kesepakatan antara FTA UE-Singapura dan FTA UE-Vietnam. Dubes Bagas pun menjelaskan pencapaian ASEAN di bidang ekonomi, antara lain pertumbuhan ekonomi ASEAN pada tahun 2016 berada disekitar 4,8 persen dan investasi pada periode yang sama adalah USD96,72 miliar. 
 
Faktor ini disebabkan unsur kepercayaan dan kemudahan membuka bisnis di ASEAN termasuk proses yang tidak rumit untuk menanamkan modalnya di negara-negara ASEAN, khususnya ASEAN 6 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Vietnam). 
 
Salah satu pembicara Anders Wijkberg, Trade Commissioner dari Business Sweden yang berkedudukan di Jakarta menjelaskan tentang adanya trend positif, berupa: investasi yang masif dan besar dalam bidang infrastruktur, bertambahnya inovasi dalam sektor manufaktur, dan konsumsi dalam negeri yang melebihi pertumbuhan ekspor. 


Pengusaha Swedia didorong melakukan investasi di ASEAN (Foto: Dok.KBRI Stockholm).

 
Tobias Glitterstam, Wakil Presiden Business Sweden urusan Asia-Pasifik,  Vivianne Gillman, Trade Commissioner dari Business Sweden yang ditempatkan di Thailand menjelaskan bahwa pengguna internet baru di ASEAN setiap hari bertambah 124.000 orang. Pertumbuhan ini menjadi modal besar bagi ASEAN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kemakmuran. Jumlah ini diperkirakan bertambah pesat dalam lima tahun ke depan.
 
Dari sisi jumlah, Indonesia berada di peringkat pertama. Dari 262 juta penduduk Indonesia, pengguna internetnya mencapai 132,7 juta. Malaysia yang memiliki 30,96 juta penduduk, 22 juta penduduk menggunakan internet. Singapura yang populasinya 5,74 juta, sebanyak 4,71 juta sudah menggunakan internet.
 
"Ini era revolusi digital, perubahan tidak bisa dihindari. Bila tidak berubah, pasti ketinggalan, dan disitulah Swedia memiliki keunggulannya," kata Tobias Glitterstam.
 
Selanjutnya Ted Göransson dari perusahaan Scania menjelaskan bahwa salah satu alasan mengapa pemerintah Indonesia memilih bus Scania dan Volvo di Jakarta adalah ramah lingkungan dan standard keamanannya tinggi. Ini sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan Swedia memberi edukasi kepada konsumen. 
 
Isu korupsi
 
Menganggapi pertanyaan tentang korupsi di ASEAN, Bagas menjelaskan bahwa pemerintah negara-negara ASEAN termasuk Indonesia sangat tegas dalam mencegah dan menumpas penyalahgunaan kekuasaan. Berita-berita yang muncul di Indonesia hendaknya ditanggapi positif. Indonesia tidak menutup-nutupi karena hal ini adalah bagian dari kebijakan governance yang menghendaki keterbukaan. 
 
Ditambahkan pula oleh Bagas bahwa hukuman berat telah dan akan diberikan kepada penyelenggara negara baik di Pusat maupun daerah yang melakukan korupsi, gratifikasi dan sebagainya. Meskipun banyaknya korupsi itu juga mempengaruhi kepercayaan negara penanam modal, namun Swedia tidak perlu khawatir. Selain pemerintah Indonesia yang pro-rakyat sangat transparan dalam mengelola perekonomian juga melindungi kebutuhan rakyat sendiri dan kepentingan penanam modal. 
 
Hal lain yang dibicarakan dalam seminar adalah mulai tumbuhnya kesadaran tentang bisnis eco-tourism. Pembicaraan juga diwarnai dengan kecenderungan bertambahnya maskapai penerbangan yang membuka jalur hubungan langsung ke ASEAN. 
 
Hasil diskusi dalam dalam ASEAN Business and Investment Forum akan disampaikan kepada instansi terkait utamanya BKPM dan Kemdag ditingkat nasional sedangkan pada tingkat regional akan dijadikan masukan bagi ASEAN Secretariat. Kedepan diharapkan paket kemudahan seperti 'easy doing business in Indonesia' dapat menampung keinginan negara-negara Nordik terutama Swedia. Hal itu menyangkut promosi investasi, pelayanan investasi, after-care for investment, insentif fiskal dan non-fiskal, co-investment, dan Public-Private Partnership sebagai langkah-langkah strategis dalam menarik investasi ke ASEAN. 
 
Melalui forum bisnis ini juga disepakati untuk terus diselenggarakan secara berkala, teratur dan intensif. Diharapkan sesama negara ASEAN dapat saling membantu perkembangan investasi dan menjadikan kawasan ASEAN sebagai kawasan tujuan investasi utama. 

(FJR)

Etnis Rohingya Masih Diperlakukan tak Adil

Etnis Rohingya Masih Diperlakukan tak Adil

8 hours Ago

Jika Pemerintah Myanmar ternyata tidak konkret dalam menjalankan usulan Pemerintah Indonesia, pihaknya…

BERITA LAINNYA