Kisruh Diplomatik Ancam Kesepakatan Imigran Turki-UE

Fajar Nugraha    •    Kamis, 16 Mar 2017 09:54 WIB
protes belanda
Kisruh Diplomatik Ancam Kesepakatan Imigran Turki-UE
Imigran Suriah yang ditampung di Turki saat menerima makanan (Foto: Reuters).

Metrotvnews.com, Ankara: Sudah setahun sejak Uni Eropa (UE) menandatangani sebuah kesepakatan dengan Turki untuk membendung arus migran yang masuk ke Yunani.
 
Kesepakatan itu disepakati dengan Turki menerima imbalan bantuan sebesar USD6 miliar.
 
Dari luar kesepakatan itu tampak sukses, karena migran yang tiba di pantai- pantai Yunani telah turun lebih dari 90 persen. Tetapi badan-badan bantuan mengatakan angka itu tidak menunjukkan kesulitan masih dirasakan oleh ribuan migran yang terjerat di kamp-kamp atau tidak dapat menemukan keselamatan.
 
 
Sebuah bekas pabrik di luar Ibu kota Yunani, Athena menjadi tempat tinggal bagi sekitar 60.000 orang, sebagian besar dari Afghanistan, Suriah dan Pakistan. Mereka termasuk di antara sekitar 60.000 migran yang telah terjerat di Yunani selama lebih dari setahun, menderita di kamp-kamp seperti ini dan tidak bisa pergi ke mana-mana, karena perbatasan melalui Balkan ke Eropa Barat masih ditutup.
 
Kelompok pemberi bantuan menuduh Uni Eropa meninggalkan tanggung jawab. Declan Barry dari Doctors Without Borders berbicara kepada VOA melalui Skype dari Brussels, Belgia.
 
"Sudah pasti, kalau kita berada di kamp pengungsi merawat pasien, dan melihat penderitaan yang merupakan akibat dari kesepakatan Uni Eropa dan Turki, kita tidak bisa mengatakan bahwa kesepakatan itu sukses. Dari segi kemanusiaan, itu adalah kegagalan," tutur Barry, seperti dikutip VOA Indonesia, Kamis 16 Maret 2017.
 
Barry mengatakan kondisinya menimbulkan dampak besar pada kesehatan migran. Tetapi para pejabat Uni Eropa mengatakan ratusan orang telah diselamatkan dengan memberantas geng-geng yang menyelundupkan manusia.
 
 
Komisaris Uni Eropa untuk Migrasi pekan lalu menerima kunjungan lima Walikota dari kepulauan Yunani membahas krisis di garis depan.
 
"Hasilnya sudah positif, karena jumlah migran telah secara dramatis dibandingkan dengan setahun yang lalu ketika 10.000 orang melewati Turki pergi ke tanah Eropa. Sekarang jumlah itu telah turun menjadi 60 orang per hari, jumlah yang mudah ditangani," kata Dimitris.
 
Sementara itu Menteri Luar Negeri Turki telah memperingatkan bahwa kesepakatan migran terancam berantakan karena Uni Eropa telah menunda izin perjalanan tanpa visa ke Eropa kepada warga Turki, yang merupakan bagian penting dari perjanjian tersebut. Brussels menginginkan Ankara mengubah undang-undang anti-terornya yang sangat ketat sebelum mengizinkan warga masuk ke Eropa tanpa visa.
 



(FJR)

Polisi Inggris Rilis Foto Penyerang Westminster

Polisi Inggris Rilis Foto Penyerang Westminster

20 hours Ago

Khalid Masood, warga Inggris 52 tahun dengan riwayat pelanggaran kekerasan tapi diyakini bukan…

BERITA LAINNYA