Di PBB, Menkes Tekankan Pentingnya Penanganan Kanker

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 03 Feb 2018 17:11 WIB
menkesindonesia-pbb
Di PBB, Menkes Tekankan Pentingnya Penanganan Kanker
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F. Moeloek berbica penanganan kanker di forum PBB (Foto:: KBRI Wina).

Wina: Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F. Moeloek diundang secara khusus oleh Badan Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk menyampaikan pidato di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Wina. Pidato terkait dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia 2018. 
 
Dalam pidatonya di hadapan ratusan audiens dari berbagai negara tersebut, Menkes RI menekankan pentingnya penanganan kanker secara komprehensif dari hulu hingga ke hilir.
 
"Indonesia menyadari bahwa program pengendalian kanker harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pencegahan, deteksi dini dan screening, diagnosis dan terapi, pengawasan, penelitian, hingga rehabilitasi. Oleh karena itu, kami mengintegrasikan program pengendalian kanker ke dalam sistem kesehatan nasional," kata Menkes dalam pidatonya pada acara peringatan Hari Kanker Sedunia yang bertajuk 'A Roadmap to A Cancer-free World' di Wina, Austria, 2 Februari 2018.
 
Menkes menambahkan bahwa kanker merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan bahwa secara global kanker menjadi penyebab dari 16% kematian di seluruh dunia. Di tahun yang sama, sebanyak 14 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit kanker, dan 8 juta di antaranya akhirnya meninggal.
 
Sementara di Indonesia, data Globocan tahun 2012 menunjukkan bahwa kanker yang paling sering menjangkiti kaum pria adalah kanker paru-paru, dengan rasio 25,8 kasus untuk setiap 100.000 pria. 
 
Dari 25,8 kasus tersebut, 23,3 di antaranya berakhir dengan kematian. Sementara untuk perempuan, kanker yang paling umum diderita adalah kanker payudara, dengan rasio 40,3 kasus untuk setiap 100.000 wanita, dan 16,6 di antaranya meninggal dunia.
 
Dalam rangka memerangi penyakit kanker, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan WHO dan International Atomic Energy Agency (IAEA) melalui Programme of Action for Cancer Therapy (PACT) sejak tahun 2010 hingga 2018. Indonesia juga telah berhasil memproduksi radioisotop dan lima produk radiofarmasi yang telah dipasang di 12 rumah sakit di Indonesia.
 
"Indonesia telah berkolaborasi dengan IAEA di berbagai area yang menjadi prioritas, khususnya dalam rangka meningkatkan kapasitas penyedia kesehatan untuk pengobatan penyakit kanker menggunakan nuklir beserta riset," ujar Menkes, dalam keterangan tertulis KBRI Wina, yang diterima Medcom.id, Sabtu 3 Februari 2018.
 
Acara peringatan Hari Kanker Sedunia 2018 tersebut dibuka oleh Direktur Jenderal IAEA, Yukiya Amano, dan dihadiri juga oleh President-Elect Union for International Cancer Control, Puteri Dina Mirded dari Jordania.
 
Di sela-sela kegiatan peringatan Hari Kanker Sedunia 2018 tersebut, Menkes RI juga melakukan pertemuan bilateral dengan Dirjen IAEA Yukiya Amano guna membahas pemajuan kerja sama lebih jauh antara Indonesia dengan IAEA di bidang kesehatan dan radioterapi. 
 
Sebagaimana diketahui, nuklir tidak hanya dapat digunakan untuk senjata, tetapi lebih penting dapat dimanfaatkan untuk tujuan damai yang berguna bagi umat manusia, terutama di bidang kesehatan.
 
Menkes juga berkunjung ke pusat pengobatan dan penelitian kanker MedAustron yang merupakan satu dari sedikit fasilitas pengobatan kanker terbaik di dunia yang telah lebih maju dengan menggunakan terapi proton dan ion karbon. Pada kesempatan tersebut, diperoleh informasi mengenai kemajuan dalam teknologi pengobatan kanker yang dapat menjadi bahan kajian lebih lanjut untuk pengembangan terapi kanker di Indonesia.



(FJR)