ISIS Klaim di Balik Ledakan di Swalayan St Petersburg, Rusia

Arpan Rahman    •    Sabtu, 30 Dec 2017 11:23 WIB
terorisme
ISIS Klaim di Balik Ledakan di Swalayan St Petersburg, Rusia
Ledakan yang terjadi di Saint Petersburg disebut sebagai serangan teroris (Foto: AFP).

Saint Petersburg: Militan Islamic State (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman pekan ini. Aksi itu melukai lebih dari belasan orang di sebuah swalayan di Saint Petersburg, Rusia. Perdana Menteri Vladimir Putin menggambarkan ledakan tersebut sebagai tindakan teror.
 
 
Kelompok teror ISIS mengatakan bahwa mereka berada di balik ledakan yang menargetkan pembeli di swalayan Saint Petersburg, kota kedua terbesar di Rusia.
 
"Sebuah pasukan keamanan tentara khilafah berhasil menanam sebuah alat peledak di salah satu pusat perbelanjaan di kota Saint Petersburg di Rusia barat daya pada lusa kemarin," kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan oleh kantor berita Amaq seperti disitir Deutsche Welle, Jumat 29 Desember 2017.
 
Klaim kelompok tersebut tidak dapat segera diverifikasi.
 
Ledakan Rabu melukai setidaknya 14 orang, beberapa di antaranya sangat parah. Penyidik ??Rusia mengatakan bom itu "buatan sendiri" dan berisi pecahan peluru. Dikatakan bahwa dayanya setara dengan sekitar 200 gram (tujuh ons) TNT.
 
Pihak berwenang yakin bahwa perangkat itu ditanam di loker keamanan pada pintu masuk toko. Swalayan Rusia biasanya menganjurkan pelanggan agar meninggalkan barang-barang dan tas pribadi mereka di loker tersebut, demi mencegah pencurian. Situs berita Gazeta.ru Rusia menerbitkan sebuah rangkaian foto yang menunjukkan kejadian serangan di Twitter.
 
Teroris menargetkan Rusia
 
Rusia mendukung rezim Bashar al-Assad melawan milisi ISIS dan kelompok pemberontak lainnya dalam perang saudara Suriah. Langkah itu menempatkan Negeri Beruang Merah berhadapan dengan kelompok teror. Di masa lalu, Rusia juga telah berulang kali ditargetkan oleh jaringan teror al Qaeda dan militan asal Chechnya.
 
Menyerukan kepada tentara Rusia yang telah berpartisipasi dalam kampanye Suriah, pada Kamis, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa ledakan St Petersburg adalah "tindakan teroris."
 
 
Dengan lima juta penduduk, Saint Petersburg kota terbesar kedua Rusia, setelah Moskow, dan juga merupakan kota asal Presiden Vladimir Putin. Awal tahun ini, sebuah kelompok yang terkait dengan al Qaeda menargetkan sistem kereta bawah tanah kota tersebut, hingga 15 orang kehilangan nyawa mereka dalam sebuah ledakan bunuh diri. 
 
Kurang dari dua pekan yang lalu, Putin menelepon Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump demi mengucapkan terima kasih atas bantuan CIA dalam menggagalkan sebuah plot ISIS di kota tersebut.
 
Rusia diberikan AS informasi yang membantu mencegah "kelompok teroris yang mempersiapkan ledakan di Katedral Kazansky Saint Petersburg dan tempat-tempat sibuk lainnya di kota ini," kata Kremlin saat itu.



(FJR)