Separatis Eta Letakkan Senjata di Prancis

Arpan Rahman    •    Sabtu, 08 Apr 2017 18:13 WIB
prancis
Separatis Eta Letakkan Senjata di Prancis
Eta masih dianggap sebagai teroris oleh Uni Eropa (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Paris: Kelompok separatis Basque ETA, Sabtu 8 April, menyerahkan persenjataan kepada anggota masyarakat sipil di Prancis. Eta sebelumnya memang berjanji untuk meletakkan semua senjata yang tersisa.
 
“Kami memiliki tanggung jawab politik dan teknis untuk pelucutan senjata Eta, dan itu telah dilakukan,” kata Txetx Etcheverry, salah seorang anggota kelompok itu, Jumat 7 April.
 
"Eta telah menyerahkan senjata kepada masyarakat sipil. Penyerahannya dilakukan di Prancis," tuturnya, seperti dikutip Guardian, Sabtu 8 April 2017.
 
Etcheverry tidak memberi rincian lainnya tentang transfer senjata yang diklaim atau isi dari gudangnya apa saja. Ia mengatakan, itu 'rahasia'.
 
Kelompok separatis diduga telah memberi informasi kepada pihak berwenang Perancis tentang lokasi peletakan senjata, menurut sumber-sumber di Spanyol.
 
Eta, yang didirikan pada 1959, menggalang pemberontakan bersenjata untuk membentuk negara Basque, sebuah wilayah yang melintasi perbatasan antara laut Spanyol dan barat daya Prancis.
 
Di Madrid, pemerintah Spanyol, pada Sabtu, menolak pelucutan senjata Eta sebagai urusan unilateral dan blak-blakan memperingatkan kelompok -- yang dicela sebagai organisasi teror -- tersebut, 'tidak ada' imbalan.
 
"Ini tidak akan menuai keuntungan politik atau balasan," kata Inigo Mendez de Vigo, Menteri Kebudayaan Spanyol dan juru bicara pemerintah.
 
"Pelucutan ini mungkin bisa mengakhiri atau meminta pengampunan dan membantu membersihkan kejahatan yang belum terselesaikan," katanya.
 
Anggota parlemen Uni Eropa Maite Pagazaurtundua, yang kakaknya tewas dalam serangan Eta, membuka petisi melawan impunitas bagi kelompok separatis yang sudah mengumpulkan lebih dari 15.000 tanda tangan dalam waktu 24 jam. Para pengamat mengatakan, gudang persenjataan Eta diperkirakan berisi 130 pistol dan dua ton bahan peledak.
 
Kelompok separatis, yang dituduh menyebabkan kematian 829 orang dalam serangkaian pengeboman dan penembakan di kedua sisi perbatasan Prancis-Spanyol, berkata, mereka menghentikan kampanye bersenjata pada 2011.
 
Mereka telah berusaha merundingkan pembubarannya dengan imbalan amnesti atau hukuman penjara bagi sekitar 350 anggotanya yang digelar di Spanyol dan Prancis. Sekitar seratus dari mereka sedang menjalani hukuman lebih dari 10 tahun.
 
Eta juga menginginkan amnesti bagi para anggotanya yang hidup di bawah penyamaran, yang diperkirakan pakar antiterorisme di Prancis dan Spanyol, berkisar sekitar 30 orang.
 
Etcheverry katakan, “ahli” senjata akan mengadakan “serangkaian pemeriksaan”, pada Sabtu, mengacu pada sebuah badan verifikasi termasuk di dalamnya mantan sekretaris jenderal Interpol, Raymond Kendall, yang tidak diakui baik oleh Prancis atau pemerintah Spanyol.
 
Menurut sumber yang tahu inisiatif pelucutan senjata Eta ini, persembunyian senjata akan diidentifikasi oleh koordinat peta, hingga memungkinkan untuk ditemukan.
 
"Polisi Prancis siap siaga mengambil alih kepemilikan senjata," kata para pejabat kepada AFP.
 
Sebuah peringatan direncanakan di Bayonne, kota Basque di Prancis, Sabtu, untuk menandai “Hari Pelucutan”, tapi Etcheverry memperingatkan bahwa perdamaian bisa lebih sulit ditemukan.
 
"Pelucutan tidak berarti perdamaian. Pemerintah Prancis dan Spanyol harus membantu menyelesaikan semua konsekuensi dari konflik ini," tegas Etcheverry.
 
Eta masih dianggap sebagai kelompok teroris oleh Uni Eropa. Kepala pemerintah daerah Basque di Spanyol, Inigo Urkullu, bulan lalu, menyerukan pemerintah Spanyol dan Prancis agar “menunjukkan visi ambisius dan garis komunikasi langsung yang terbuka” dengan Eta.
 
Namun pemerintah Spanyol menolak permohonan, kendati menuntut kelompok itu harus “lenyap” dan tidak pernah muncul kembali.
 
Dalam sepucuk surat yang baru diterbitkan, Eta mengatakan proses pelucutan senjata berlangsung “sulit”, memuji otoritas otonom Basque yang menuding Spanyol dan Prancis menjadi “keras kepala”.
 
Menteri Dalam Negeri Spanyol, Juan Ignacio Zoido, sudah menjelaskan, pada Rabu 5 April, bahwa 'akan ada negosiasi atau konsesi' kepada anggota Eta sebagai imbalan untuk pelucutan senjata.



(FJR)