AS dan Rusia Sepakat Suriah Harus Putuskan Nasibnya Sendiri

Willy Haryono    •    Minggu, 16 Oct 2016 17:10 WIB
krisis suriah
AS dan Rusia Sepakat Suriah Harus Putuskan Nasibnya Sendiri
Menlu AS John Kerry (tengah) dan Menlu Rusia Sergei Lavrov (dua kiri) beserta tujuh Menlu kawasan Timur Tengah dalam dialog konflik Suriah di Lausanne, Swiss, 15 Oktober 2016. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Lausanne: Suriah harus memutuskan nasibnya sendiri dan tetap menjadi negara utuh serta sekuler. Demikian hal yang disepakati Amerika Serikat (AS) dan Rusia dalam dialog damai konflik Suriah di Lausanne, Swiss, Sabtu (15/10/2016). 

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan kepada awak media bahwa terdapat sebuah konsensus terhadap beberapa opsi yang dapat berujung pada gencatan senjata di Suriah. Namun ia menyebut pertemuan di Laussane belum membuahkan terobosan apapun. 

Semua kubu yang terlibat dialog di Swiss belum menyepakati satu strategi untuk mengakhiri perang di Suriah. 

Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan agar gencatan senjata dapat berlangsung sukses, maka pemberontak moderat Suriah harus memisahkah diri dari organisasi Jabhat Fatah al-Sham, atau yang dulu disebut dengan Al Nusra Front, serta beberapa "grup teroris" lainnya. 

"Di waktu yang sama, semua harus memahami bahwa operasi melawan teroris Islamic State (ISIS) dan Nusra Front akan terus berlanjut," tambah Lavrov, seperti dilansir ITV

Kerry dan Lavrov berdialog bersama tujuh menlu di kawasan - Iran, Irak, Arab Saudi, Turki, Qatar, Yordania dan Mesir. 

Dialog di Swiss terjadi beberapa pekan setelah runtuhnya gencatan senjata Suriah yang dimediasi AS dan Rusia. 

Sejumlah negara Barat menuduh Rusia dan Suriah melakukan kejahatan perang karena terus membombardir Aleppo. Kedua negara bersikukuh apa yang mereka lakukan hanya memburu pemberontak dan ekstremis, bukan warga sipil. 

Namun pada kenyataannya, serangkaian serangan udara Rusia dan Suriah di Aleppo telah banyak menewaskan warga sipil, tidak sedikit di antaranya anak-anak.

 


(WIL)