Inggris akan Mulai Proses Berpisah dari Uni Eropa Akhir Maret

Willy Haryono    •    Senin, 20 Mar 2017 22:47 WIB
brexit
Inggris akan Mulai Proses Berpisah dari Uni Eropa Akhir Maret
PM Inggris Theresa May di Swansea, 20 Maret 2017. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, London: Perdana Menteri Theresa May akan meluncurkan proses awal perpisahan Inggris dari Uni Eropa pada 29 Maret. Selama dua tahun ke depan, Inggris akan bernegosiasi untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa Uni Eropa. 

Pemerintahan PM May mengatakan utusan permanennya di Uni Eropa telah memberitahu Presiden Dewan Eropa Donald Tusk mengenai tanggal dimana Inggris akan menerapkan Article 50 dari Perjanjian Lisbon -- sebuah mekanisme untuk memulai perpisahan pascareferendum Brexit pada Juni tahun lalu. 

Uni Eropa mengaku siap bernegosiasi dengan Inggris. Dalam kurun waktu 48 jam setelah dimulai pada 29 Maret, Tusk akan mengirim kerangka panduan negosiasi kepada 27 negara anggota. Itu artinya, perbincangan mengenai perpisahan Inggris dengan Uni Eropa dapat dimulai pada Mei. 

PM May, 60, berharap dapat menegosiasikan syarat-syarat tertentu agar sektor perdagangan, finansial dan politik Inggris dengan negara-negara anggota Uni Eropa masih tetap kuat usai Brexit. 

"Sikap pemerintah jelas: sebuah perjanjian yang menguntungkan setiap negara dan wilayah di Britania Raya dan juga seluruh Eropa -- sebuah kemitraan baru dan positif antara Inggris dengan sahabat dan mitra di Uni Eropa," ucap Menteri BRexit David Davis, seperti dikutip Reuters, Senin 20 Maret 2017. 

Proses perpisahan Inggris dengan Uni Eropa akan berlangsung sulit dan kompleks. Beberapa petinggi Uni Eropa mengaku tidak akan membiarkan PM May mendapat kemudahan dalam negosiasi. 

Sementara itu di waktu yang sama, PM May menghadapi ancaman dari nasionalis Skotlandia yang ingin mengadakan referendum kemerdekaan. Hal ini dikhawatirkan akan merusak kesatuan di Britania Raya. 

Selama ini PM May hanya sedikit mengungkapkan strateginya terkait Brexit. Ia yakini dapat membuat "perjanjian terbaik" dan membuat Brexit tidak terlalu menyakitkan bagi Inggris.


(WIL)