Macron dan Erdogan akan Diskusikan Beragam Isu HAM

Willy Haryono    •    Minggu, 31 Dec 2017 19:15 WIB
politik turkipolitik prancis
Macron dan Erdogan akan Diskusikan Beragam Isu HAM
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di New York, AS, 19 September 2017. (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)

Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron berencana mengangkat isu hak asasi manusia saat bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat pekan mendatang. 

Kunjungan Erdogan ke Prancis dilakukan saat dirinya menghadapi kritik atas operasi pembersihan usai percobaan kudeta di Turki pada 2016. Usai percobaan kudeta, Erdogan menangkap sejumlah politikus, jurnalis dan aktivitas. 

Operasi pembersihan tersebut berujung pada tuduhan bahwa Erdogan telah melanggar HAM. 

"Pertemuan akan mendiskusikan beragam isu terkait hubungan bilateral, begitu juga dengan masalah regional seperti konflik di Suriah dan juga soal Palestina," ujar pernyataan dari Istana Elysee, seperti dikutip AFP, Sabtu 30 Desember 2017.

"Isu hak asasi manusia juga akan dibicarakan kedua pemimpin," lanjutnya. 

Sebelumnya dalam sebuah pidato di hadapan anggota partai AKP, Erdogan telah mengumumkan akan pergi ke Prancis untuk mendiskusikan hubungan bilateral. Setelah melewati satu tahun dimana hubungan Turki dengan negara-negara Eropa relatif renggang, Erdogan berharap dapat memperbaiki semua itu. 

"Saya selalu berkata: Kita harus mengurangi jumlah musuh dan menambah teman," tutur Erdogan ke awak media. 

Lebih dari 55 ribu orang ditangkap atas perintah Erdogan usai percobaan kudeta 2016. Sejumlah grup aktivis HAM menuduh adanya penyiksaan selama operasi pembersihan di Turki. 

Seorang jurnalis Prancis, Loup Bureau, yang dipenjara di Turki selama lebih dari tujuh pekan atas tuduhan "teror," akhirnya pulang pada September usai Macron bernegosiasi dengan Erdogan.

Masih di bulan September, Macron mengatakan "Turki telah bergerak menjauh dari Uni Eropa dalam beberapa bulan terakhir, lewat sejumlah langkah yang pasti memiliki konsekuensi." Pernyataan itu diungkapkan Macron dalam sebuah wawancara dengan media Yunani, Kathimerini.


(WIL)