Indonesia Paparkan Pemanfaatan Nuklir untuk Tujuan Damai di PBB

   •    Rabu, 31 May 2017 10:07 WIB
nuklir
Indonesia Paparkan Pemanfaatan Nuklir untuk Tujuan Damai di PBB
Menristekdikti Mohammad Nasir memaparkan pernyataan nasional mengenai capaian pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai (Foto: Dok.KBRI Wina).

Metrotvnews.com, Wina: Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir menyampaikan pernyataan nasional mengenai capaian pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
 
Pada 30 Mei 2017, Menristek Dikti Mohammad Nasir menghadiri Konferensi Internasional Program Kerja Sama Teknis Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) di Wina, Austria. 
 
Konferensi tersebut bertepatan dengan ulang tahun IAEA yang ke-60, di mana dihadiri oleh para petinggi pemerintahan negara-negara anggota yang meliputi kepala negara/kepala pemerintahan, para menteri dan sejumlah besar pejabat tinggi lainnya. Diperkirakan ada sekitar 1.500 peserta dari 168 negara anggota yang hadir pada Konferensi tersebut. 
 
Didampingi Duta Besar/Watapri Wina Darmansjah Djumala, Menristek hadir dalam konferensi tersebut, dengan anggota dari unsur Kemenristek, Kemenkes, BATAN, BAPETTEN, RS Dharmais dan KBRI/PTRI Wina. 
 
"Pada Konferensi tersebut Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi telah menyampaikan pernyataan nasional yang memaparkan berbagai capaian nasional dalam pemanfaatan teknologi dan energi nuklir untuk tujuan damai bagi peningkatan kesejahteraan rakyat, utamanya di bidang pertanian, pangan, kesehatan dan lingkungan," ujar Dubes Darmansjah, dalam keterangan tertulis KBRI Wina, yang diterima Metrotvnews.com, Selasa 30 Mei 2017.
 
"Dengan pendekatan seperti itu, Indonesia berupaya membumikan diplomasi nuklir di forum internasional agar kerja sama di bidang nuklir dapat memberi manfaat konkret bagi rakyat," imbuh Dubes Darmansjah.
 
Menristek Dikti juga menekankan pentingnya negara-negara anggota IAEA untuk terus memberikan dukungan dan meningkatkan kontribusi terhadap program kerja sama teknis IAEA, di mana hal itu sejalan dengan pembangunan nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui IPTEK nuklir. Sebagaimana diketahui, 13 dari 17 SDGs terkait langsung dengan area kompetensi IAEA. 
 
"Semenjak berpartisipasi dalam program kerjasama teknis IAEA pada tahun 1959, Indonesia telah menerima berbagai manfaat. Dua diantaranya yang menjadi keunggulan Indonesia adalah kapasitas di bidang pemuliaan tanaman yakni varietas unggul beras, kedelai dan sorgum, dan aplikasi IPTEK nuklir untuk kesehatan, yakni alat renograf untuk analisa fungsi ginjal," ucap Menristek Dikti Mohammad Nasir dalam konferensi tersebut.
 
Kedua program unggulan itu pun dipamerkan di side event di sela-sela Konferensi di dua booth Indonesia yang berada di lokasi konferensi dan diresmikan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
 
Seiring dengan meningkatnya kemampuan nasional di bidang IPTEK nuklir, sejak 2012 Indonesia telah mengambil posisi sebagai negara donor membantu negara-negara lain di bidang teknologi nuklir untuk tujuan damai di kawasan, baik dalam kerangka kontribusi Peaceful Uses Initiatives, maupun dalam kerangka kerjasama Selatan-Selatan melalui Regional Capacity Building Initiative (RCBI) yang diinisiasi Indonesia sejak tahun 2015. Selain itu, Indonesia juga memberikan bantuan untuk modernisasi laboratorium aplikasi nuklir IAEA yang berlokasi di Seibersdorf dalam upaya mempekuat kerjasama dalam pengembangan riset dan peningkatan kapasitas.
 
Terkait pemberian bantuan ke Seibersdorf, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi didampingi Wakil Tetap RI untuk IAEA, Dubes Darmansjah bersama Delegasi RI, juga berkesempatan mengunjungi laboratorium Seibersdorf tersebut untuk memantau secara langsung perkembangan proyek modernisasi laboratorium. Kunjungan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk evaluasi lebih lanjut potensi kerjasama antara laboratorium Seibersdorf dengan institusi-institusi terkait di dalam negeri khususnya di bidang kesehatan, pertanian, dan lingkungan hidup.
 
Kehadiran Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi di Konferensi disambut hangat oleh Direktur Jenderal IAEA, Yukiya Amano. Mengingat peranan Indonesia yang cukup signifikan, Dirjen Amano mengadakan pertemuan bilateral dengan Indonesia di sela-sela konferensi untuk secara khusus menyampaikan apresiasi atas peranan penting dan kontribusi Indonesia di program kerjasama teknis IAEA. 
 
Menanggapi hal itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menegaskan komitmen Indonesia untuk terus meningkatkan peran aktif dalam mendukung program kerjasama teknis IAEA. Menteri Nasir menjelaskan lebih lanjut bahwa di sektor pangan dan pertanian, Indonesia menargetkan peningkatan kapasitas pemuliaan tanaman, pengawetan produk pangan berbasis kedelai, komersialisasi varietas kedelai unggul melalui sektor UKM. 
 
Di sektor kesehatan, Indonesia Indonesia mentargetkan ketersediaan layanan radioterapi yang terjangkau bagi masyarakat. Di sektor pendidikan, Indonesia mentargetkan peningkatan pemahaman masyarakat akan teknologi nuklir sejak dini.


Foto: Dok. KBRI Wina
 
Pada pertemuan tersebut, Dubes Darmansjah menyampaikan masukan kepada Direktur Jenderal IAEA tentang fokus kerjasama yang perlu ditingkatkan ke depan dalam kerangka kerjasama teknis Indonesia-IAEA, yakni di bidang pangan dan pertanian, kesehatan, program pendidikan dan peningkatan kesadaran publik terkait penggunaan nuklir untuk tujuan damai serta peningkatan keterwakilan staf WNI di Sekretariat IAEA. 
 
"Program-program tersebut bersifat tangible, konkret dan langsung bermanfaat bagi rakyat, serta tentunya mendorong capaian IAEA dalam kerangka SDGs ke depannya. Program Public Awareness sangat diperlukan untuk dapat menjangkau kesadaran masyarakat luas, sehingga produk pertanian/pangan yang dihasilkan melalui IPTEK nuklir tidak hanya unggul secara ilmiah (scientifically feasible), namun diharapkan kompetitif di pasar (commercially feasible)," pungkas Dubes Darmansjah. 
 
"Saya yakin kerja sama dengan IAEA akan dapat mewujudkan hal tersebut," lanjutnya.
 
IAEA adalah sebuah organisasi independen yang didirikan pada 29 Juli 1957 dengan tujuan mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai serta menangkal penggunaannya untuk keperluan militer. IAEA berfungsi sebagai forum antarpemerintah untuk kerjasama ilmiah dan teknis dalam penggunaan teknologi nuklir dan tenaga nuklir secara damai di seluruh dunia. Sekretariat IAEA berada di Wina, Austria, sedangkan jumlah anggotanya 168 negara. 
 
Konferensi Internasional Program Kerja Sama Teknis IAEA diselenggarakan untuk memperingati 60 tahun berdirinya IAEA, dan bertujuan untuk membahas capaian-capaian program kerja sama teknis IAEA serta strategi yang inovatif untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui area kompetensi IAEA.



(FJR)