Rusia Khawatir akan Kekuatan Senjata Nuklir AS yang Baru

Arpan Rahman    •    Rabu, 30 Aug 2017 18:07 WIB
nukliras-rusia
Rusia Khawatir akan Kekuatan Senjata Nuklir AS yang Baru
Rusia khawatir akan kemampuan senjata baru dari AS (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Moskow: Kementerian Luar Negeri Rusia khawatir model bom nuklir Amerika Serikat (AS) yang berpresisi tinggi akan menurunkan hambatan atas penggunaan senjata nuklir dalam perang. 
 
B61-12 menjadi senjata yang telah dikerjakan AS untuk beberapa lama melalui pengujian dari sebuah contoh pada 2015. Badan Keamanan Nuklir Nasional AS mengumumkan, pada Selasa, bahwa mereka telah melakukan uji coba non-nuklir lagi dari model 12 dan akan terus melakukannya dalam tiga tahun ke depan. 
 
Mereka berharap bisa menyempurnakannya untuk dipakai. Senjata tersebut dimaksudkan menjadi bom atom presisi pertama, dan Rusia tidak menyukai ini.
 
"Keuntungan dari modifikasi baru B61-12, menurut para ahli militer AS sendiri terletak pada kenyataan bahwa hal itu akan terjadi, seperti yang mereka katakan, 'lebih etis' dan 'lebih bermanfaat,'" kata Mikhail Ulyanov, kepala Departemen Pengendalian Nonproliferasi dan Kontrol Kementerian Luar Negeri Rusia kepada Tass, seperti dikutip Newsweek, Rabu 30 Agustus 2017.
 
Mengacu pada komentar yang dikeluarkan mantan Wakil Menteri Pertahanan James Miller dan ahli strategi nuklir untuk mantan Presiden Barack Obama, Jenderal James E. Cartwright, Ulyanov menyatakan kekhawatirannya AS dapat mengembangkan pandangan agar tidak campur tangan soal penggunaan senjata nuklir. Demi mengetahui bahwa hal tersebut "menyebabkan berkurangnya konsekuensi bencana bagi penduduk sipil."
 
"Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pembuatan bom semacam itu untuk digunakan secara obyektif dapat menyebabkan penurunan ambang batas bagi penggunaan senjata nuklir," kata Ulyanov. 
 
"Ini, bisa kita bayangkan, adalah dampak negatif utama dari modernisasi yang sedang berlangsung," bubuhnya.
 
Peningkatan tersebut, di mata beberapa pakar pertahanan AS, merupakan perubahan yang diperlukan sebagai bagian integral dari kemampuan nuklir AS yang desainnya dimulai pada 1960-an. 
Mantan Jenderal AS, Cartwright, membela program ini pada 2016, seraya mencatat bahwa peningkatan ketepatan dan penyusutan ukuran senjata berarti lebih sedikit yang dibutuhkan untuk bertindak dengan pencegahan diutamakan.
 
Ulyanov merasa AS dan sekutu NATO-nya mungkin mendapat keuntungan dari peningkatan tersebut dengan mengupayakan penyempurnaan potensial B61-12 sebagai tanggapan terhadap apa yang mereka anggap sebagai peranti nuklir Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin dan pejabat Rusia lainnya telah mengeluarkan beberapa peringatan verbal bahwa sumber daya nuklir Rusia ada demi mendukung kebijakan luar negerinya jika diperlukan.
 
Program rudal nuklir Korea Utara (Korut) telah menduduki puncak daftar masalah terakhir AS. Sebuah uji coba rudal Korut yang terbang di atas Jepang diluncurkan pada Selasa pagi. 
 
Meskipun Rusia secara resmi menentang program nuklir Korut, Moskow memilih sekali lagi untuk mengecam AS karena memprovokasi tes tersebut dengan melakukan latihan pertahanan tahunan gabungannya dengan sekutu regional, Korea Selatan.



(FJR)