Macron-Erdogan Makan Siang Bersama Sambil Bahas Kudeta

Arpan Rahman    •    Sabtu, 06 Jan 2018 12:48 WIB
turkiprancis
Macron-Erdogan Makan Siang Bersama Sambil Bahas Kudeta
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris (Foto: AFP).

Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron menunjukkan tindakan pengimbangan yang ganjil pada sebuah konferensi pers dengan mitranya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan. Mereka menghabiskan makan siang di Istana Elysee, pada Jumat 5 Januari 2018.
 
Sebelum kunjungan tersebut, setidaknya tujuh kelompok hak asasi manusia (HAM) dan partai politik Prancis menuntut agar Macron memprotes tindakan Presiden Turki. Erdogan menahan sekitar 50.000 orang yang dituduh memiliki hubungan dengan ulama Fethullah Gulen, yang tinggal di pengasingan di AS.
 
Menurut Erdogan Gulen adalah otak percobaan kudeta pada Juli 2016. Lebih dari 140.000 pegawai negeri Turki dipecat karena alasan yang sama. Sekitar 100 wartawan termasuk di antara para tahanan.
 
Macron katakan bahwa mereka membahas tuntutan terhadap akademisi dan mahasiswa di Universitas Galatasaray, yang didanai oleh Prancis, dan kasus spesifik politisi, LSM, dan jurnalis.
 
Kedua pemimpin tersebut mengungkapkan pandangan yang berbeda secara radikal tentang kebebasan berekspresi. 
 
"Terorisme tidak terjadi dengan sendirinya," kata Erdogan. "Ada juga para penyemai terorisme. Mereka dianggap sebagai kalangan pemikir. Mereka menulis di kolom surat kabar. Mereka adalah ideolog terorisme," sambungnya seperti dilansir Irish Times, Sabtu 6 Januari 2018.
 
Ditanya apa pendapatnya tentang "para penyemai terorisme," Macron menjawab bahwa "kebebasan berekspresi utuh. Itu tidak bisa dibagi. Inilah karakteristik dari aturan hukum. Pertarungan melawan terorisme adalah melawan orang-orang yang menghancurkan, yang membunuh," tegasnya.
 
"Tapi untuk mengungkapkan pendapat, jika bukan hasutan, jika tidak dimaksudkan untuk menghancurkan orang lain atau menjelaskan teori-teori teroris, maka itu adalah pendapat dan harusnya bebas. Kebebasan berpendapat, ekspresi dan hati nurani mutlak," ucapnya.
 
Ledakan pengungsi
 
Kehadiran 3,5 juta pengungsi Suriah merupakan beban yang besar, lanjut Erdogan. "Turki telah menghabiskan USD30 miliar untuk pengungsi Suriah," katanya. 
 
"Uni Eropa menjanjikan bantuan bagi kami. Kami belum menerimanya. Mereka bilang itu akan datang. Kami hanya menerima 900 juta Euro. UNHCR juga tidak memberikan banyak uang, hanya USD600 juta," ujarnya.
 
Hubungan Prancis dengan Turki lebih baik daripada kekuatan Uni Eropa lainnya. Polandia dan Yunani sampai Jumat menjadi satu-satunya negara Uni Eropa yang dikunjungi oleh Erdogan sejak kudeta yang gagal tersebut. Musim semi lalu dia mengecam "praktik Nazi" pemimpin Jerman yang melarang menteri kabinetnya berkampanye soal imigran ke Jerman. Kanselir Angela Merkel berkata pada September tentang keinginannya menghentikan negosiasi aksesi dengan Turki.
 
Kedua pemimpin menyetujui perlunya memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS). Macron senang Erdogan memberi label kelompok separatis Kurdi, PKK, "teroris".
 
Acara sempat terusik saat Erdogan dengan marah bereaksi kepada seorang jurnalis Prancis yang bertanya bagaimana Turki bisa dipercayai dalam perang melawan terorisme saat mereka memberi senjata militan dan akses ke Suriah. 
 
"AS mengirim 4.000 truk berisi senjata ke Suriah!" Seru Erdogan. "Mengapa Anda tidak bertanya ke AS?" sergahnya.
 
Koalisi pimpinan barat melawan ISIS telah menggunakan Kurdi sebagai proksi di Suriah utara. Erdogan menyebut Kurdi Suriah dari PYD dan YPG "sebagai lampiran PKK, NATO terus mengirim banyak senjata (ke Kurdi Suriah)," pungkasnya.



(FJR)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

16 hours Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA