Rusia Tuduh Pemberontak Suriah Gunakan Gas Beracun

Willy Haryono    •    Senin, 26 Nov 2018 10:00 WIB
krisis suriahrusiakonflik suriah
Rusia Tuduh Pemberontak Suriah Gunakan Gas Beracun
Seorang warga yang diduga terkena serangan gas beracun dirawat di sebuah rumah sakit di Aleppo, Suriah, 24 November 2018. (Foto: AFP)

Moskow: Rusia melancarkan serangan udara di beberapa wilayah pemberontak di Suriah, Minggu 25 November 2018. Serangan ini disebut sebagai respons atas penggunaan senjata kimia oleh pemberontak di kota Aleppo.

Suriah dan juga Rusia menuduh pemberontak menggunakan gas beracun yang telah melukai sekitar 100 orang di Aleppo pada Sabtu 24 November. Media nasional Suriah, SANA, memperlihatkan sejumlah foto warga Aleppo yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi sulit bernapas.

Pemberontak membantah melancarkan serangan kimia, dan menyebut tuduhan itu hanya alasan Suriah dan Rusia dalam melancarkan serangan ke beberapa wilayah oposisi. Sebagian Aleppo, termasuk provinsi Hama dan Idlib, dikuasai pemberontak yang didukung Turki serta sejumlah grup ekstremis.

"Pesawat jet tempur kami telah melancarkan serangan di posisi yang teridentifikasi sebagai lokasi artileri teroris. Artileri itu telah digunakan untuk menyerang warga sipil di Aleppo," ujar Kementerian Pertahahan Rusia, seperti disitat dari media BBC.

"Semua militan yang menjadi target kami telah dihancurkan," lanjutnya, tanpa menyebut ada berapa korban tewas atau luka.

Sebelumnya, grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan adanya sekitar 100 orang, termasuk wanita dan anak-anak, yang dirawat di rumah sakit atas keluhan sulit bernapas. Laporan SOHR muncul usai terjadinya sebuah serangan di bagian barat Aleppo pada Sabtu.

Pemerintah pusat Suriah di Damaskus dan juga mitranya Rusia menyebut para pemberontak telah menggunakan gas klorin.

Sejak September, sudah tidak ada lagi operasi militer berskala besar di Suriah. Itu terjadi usai Rusia dan Turki sepakat menciptakan "zona aman" untuk memisahkan pasukan pemerintah dari pemberontak di provinsi Idlib.

 


(WIL)