Belajar Kelapa Sawit, Dubes Lingkungan Prancis ke Pekanbaru

Marcheilla Ariesta    •    Kamis, 25 Jan 2018 21:06 WIB
kelapa sawitprancis
Belajar Kelapa Sawit, Dubes Lingkungan Prancis ke Pekanbaru
Duta Besar untuk Lingkungan dari Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis Xavier Sticker (kanan jas hitam) (Foto: Marcheilla Ariesta).

Jakarta: Duta Besar Lingkungan dari Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis Xavier Sticker akan berkunjung ke Pekanbaru, Riau untuk terjun langsung melihat industri kelapa sawit di sana.
 
Xavier menuturkan dia akan bertemu dengan para petani sawit dan pelaku industri produk kelapa sawit tersebut.
 
"Kita datang ke Indonesia karena kita ingin mendengarkan dan terlibat dengan mitra kita dan juga mengunjungi perkebunan untuk melihat apa yang telah mereka capai, tantangan dan peluang mereka," ujar dia saat ditemui di kantor Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, Kamis 25 Januari 2018.
 
 
Selain itu, dia akan melakukan penelitian mengenai kelapa sawit melalui Pusat Kerja Sama Internasional untuk Agronomi (CIRAD) milik Prancis. "Kehadiran pusat penelitian internasional untuk agronomi ini merupakan mitra yang kuat bagi Indonesia dan negara-negara di kawasan untuk mengembangkan mekanisme keberlanjutan berdasarkan lanskap pertanian," serunya.
 
Menurut dia, adalah baik berbagi pengetahuan lewat penelitian. Dengan demikian, bisa dinilai kebijakan terbaik untuk membantu memenuhi harapan para pemegang saham kecil dan produsen, serta menciptakan syarat untuk konservasi alam dalam membantu negara mencapai target.
 
"Ini adalah koalisi penuh yang dimobilisasi dan saya di sini untuk mendengarkan komitmen Indonesia mengenai masalah tersebut," imbuhnya.
 
Lewat CIRAD, Xavier berharap bisa mengembangkan kerja sama melalui dialog mengenai pelestarian kelapa sawit. Dan untuk terlibat dengan Indonesia, tuturnya, diperlukan penilaian intens dalam skala luas antara produsen dan konsumen.
 
Prancis sendiri akan mencoba mengajak Uni Eropa untuk melakukan upaya dalam melakukan dialog reguler dengan negara-negara produsen kelapa sawit, termasuk Indonesia.
 
"Penting ini untuk menangani masalah yang terkait dengan kelapa sawit, dan itu antara Indonesia dan Uni Eropa, dan secara luas antara Uni Eropa dengan negara-negara produsen kelapa sawit. Kami akan mendorong Uni Eropa mengembangkan rencana untuk menyelesaikan semua dengan berupaya bersama demi mendapatkan hasil yang baik," tutupnya.
 
Parlemen Eropa akan menghapus penggunaan biodiesel dari minyak nabati  pada 2030 dan dari minyak kelapa sawit, termasuk dari Indonesia, pada 2021. 
 
Upaya itu akan diwujudkan lewat pemungutan suara rancangan Proposal Energi bertajuk  "Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Sources" di kantor Parlemen Eropa, Strasbourg, Rabu 17 Januari. 
 
Indonesia berpandangan bahwa usulan Komite Lingkungan Hidup (ENVI) Parlemen Eropa tersebut bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas dan adil dan menjurus kepada terjadinya diskriminasi “crop apartheid” terhadap produk sawit di Eropa. 
 
Dalam ASEAN-EU Summit di Manila, November 2017, Presiden Joko Widodo menegaskan agar praktek diskriminasi dan kampanye hitam terhadap kelapa sawit Indonesia dihentikan, terutama di Eropa. 
 
Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi juga menekankan adanya keterkaitan erat antara kelapa sawit dan upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia, sesuai dengan aspirasi dalam komitmen SDGs 2030. 
 
Dalam pidato tahunannya, Menlu Retno menyatakan Indonesia tidak akan diam menghadapi kampanye negatif dan diskriminasi di Eropa dan Amerika Serikat terhadap kelapa sawit.



(FJR)