IOM: Mediterania Perbatasan Paling Berbahaya di Dunia bagi Imigran

Willy Haryono    •    Sabtu, 25 Nov 2017 18:04 WIB
imigran gelap
IOM: Mediterania Perbatasan Paling Berbahaya di Dunia bagi Imigran
Imigran gelap berbaris di Tripoli usai diselamatkan penjaga pantai Libya, 29 Agustus 2017. (Foto: AFP/MAHMUD TURKIA)

Jenewa: Lebih dari 33 ribu imigran tewas saat berusaha menyeberangi lautan untuk mencapai sejumlah negara Eropa, yang menjadikan Mediterania sebagai "perbatasan paling berbahaya sejauh ini," lapor agensi keimigrasian Perserikatan Bangsa-Bangsa (IOM), Jumat 24 November 2017. 

IOM menyebut setelah meledaknya jumlah kedatangan imigran dari 2014 ke 2016, perjanjian yang dibuat Uni Eropa dengan Turki dan patroli di perairan Libya telah berhasil mengurangi gelombang secara signifikan. 

Profesor Philippe Fargues dari European University Institute di Florence yang membuat laporan terbaru ini mengatakan angka-angka terbaru kemungkinan masih jauh dari jumlah sebenarnya.

"Laporan menyebutkan setidaknya 33.761 imigran dilaporkan tewas atau hilang di Mediterania antara tahun 2000 hingga 2017. Angka ini terhitung hingga 30 Juni," tutur Jorge Galindo dari IOM dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, seperti dikutip Middle East Monitor.

"Hal ini menyimpulkan bahwa perbatasan Eropa Mediterania merupakan yang paling berbahaya di dunia (bagi imigran)," lanjut dia.

Sejauh ini pada 2017 terdapat 161 ribu imigran dan pengungsi yang tiba di Eropa usai menyeberangi lautan, sekitar 75 persen dari mereka mendarat di Italia. Sementara sisanya di Yunani, Siprus dan Spanyol. Hampir 3.000 imigran dilaporkan tewas atau hilang, sebut IOM.

"Menutup rute yang yang lebih pendek dan tidak terlalu berbahaya dapat membuka rute yang lebih panjang dan berbahaya, yang dapat meningkatkan kemungkinan adanya kematian di laut," ungkap Fargues. 

"Kerja sama dengan Turki untuk memangkas gelombang imigran kini sedang diterapkan di Libya, negara utama tempat berangkatnya para imigran," tambah dia.


(WIL)