Rusia Nilai Intervensi di Myanmar dapat Perburuk Konflik

Willy Haryono    •    Sabtu, 16 Sep 2017 18:37 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Rusia Nilai Intervensi di Myanmar dapat Perburuk Konflik
Jubir Kemenlu Rusia Maria Zakharova. (Foto: AFP/RUSSIAN FOREIGN MINISTRY)

Metrotvnews.com, Moskow: Rusia menilai intervensi terhadap urusan dalam negeri Myanmar, termasuk konflik di Rakhine, dapat memperburuk situasi saat ini. Moskow menilai intervensi hanya akan memperburuk konflik sektarian yang selama ini berkecamuk di Rakhine.

"Penting untuk diingat bahwa keinginan mengintervensi urusan dalam negeri sebuah negara berdaulat hanya akan memperburuk perselisihan antar agama," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, seperti dikutip kantor berita Tass, Jumat 15 September 2017. 

Zakharova menyebut, sikap Moskow terhadap konflik di Rakhine adalah "mendorong adanya dialog antar para pemuka agama di Myanmar."

Terkait hal itu, tambah dia, Moskow mengapresiasi komunitas multi-etnis di Myanmar yang mengecam aksi kekerasan oleh kelompok militan di Rakhine. 

"Kami mendukung pemerintah Myanmar dan menyerukan semua pihak agar tidak terprovokasi grup ekstremis," sebut Zakharova. 

Ia juga mendukung usaha pemerintah Myanmar dalam "mengimplementasikan rekomendasi dari komisi yang dipimpin mantan Sekjen PBB Kofi Anan."

Konflik terbaru di Rakhine meletus pada 25 Agustus, setelah kelompok militan Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA menyerang sejumlah pos polisi di perbatasan Myanmar. Militer Myanmar meresponsnya dengan operasi perburuan, yang berimbas buruk pada masyarakat sipil Rakhine. 


Pengungsi Rakhine di kamp Kutupalong Bangladesh. (Foto: AFP)

Ranjau Darat

Warga Rakhine, sebagian besar dari mereka adalah etnis Rohingya, melarikan diri dari operasi militer ke negara tetangga, Bangladesh. PBB memprediksi jumlah pengungsi dari Rakhine di Bangladesh dapat mencapai 1 juta di akhir tahun ini.

Sementara itu, muncul laporan dari Amnesty International mengenai adanya pemasangan ranjau darat di perbatasan Myanmar. Amnesty menduga ranjau itu sengaja dipasang militer Myanmar agar para pengungsi, terutama Rohingya, tidak kembali ke Rakhine.

Amnesty juga menyebutkan adanya dukungan sejumlah negara terhadap militer Myanmar. Rusia dan Israel disebut-sebut sebagai negara yang memasok senjata ke Myanmar. 

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin menegaskan kerja sama Negeri Beruang Merah dengan negara manapun di dunia ini, dilakukan sesuai aturan hukum.

"Saya tidak berada di posisi untuk berkomentar mengenai pasokan senjata dari Rusia ke Myanmar. Namun secara umum, Rusia punya kerja sama teknik dan militer dengan banyak negara, termasuk Indonesia," ujar Dubes Galuzin kepada Metrotvnews.com.

"Interaksi semacam ini juga diatur sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional," lanjut dia.

 


(WIL)