Penembakan di Paris dan Momen Menjelang Pilpres Prancis

Arpan Rahman    •    Jumat, 21 Apr 2017 17:54 WIB
penembakan parispemilu prancis
Penembakan di Paris dan Momen Menjelang Pilpres Prancis
Polisi berpatroli di Champ Elysees, Paris, 21 April 2017, setelah terjadinya aksi penembakan. (Foto: AFP/PHILIPPE LOPEZ)

Metrotvnews.com, Paris: Pelaku bersenjata yang menembak mati seorang polisi di Paris, Kamis 20 April 2017, telah diidentifikasi dari sejumlah berkas yang tertinggal di mobilnya.

Media lokal mengatakan bahwa pria berusia 39 tahun itu tinggal di pinggiran kota, dan dinilai berpotensi menjadi ekstremis. Pria bersenjata tersebut melukai dua petugas polisi sebelum ditembak mati pasukan keamanan di Champs Elysees.

Sepucuk senapan dan sebilah pisau ditemukan di mobilnya, menurut laporan stasiun teleivisi BFMTV. Seorang pria lain yang diduga memiliki kemungkinan hubungan dengan serangan tersebut telah menyerahkan diri pada kepolisian Belgia.

Polisi Prancis juga telah membawa tiga anggota keluarga penembak ke tahanan, menurut lapor Reuters mengutip sumber resmi.

Perdana Menteri Bernard Cazeneuve menyerukan agar pasukan keamanan, termasuk unit elite, sepenuhnya dimobilisasi menjelang pemilihan presiden pada 23 April mendatang.

"Tidak ada yang boleh menghalangi proses demokrasi fundamental negara kita," katanya usai rapat kabinet keamanan darurat, seperti disitat  BBC, Jumat 21 April 2017.

Kelompok militan Islamic State (ISIS) mengatakan salah seorang "pejuangnya" melakukan serangan tersebut.



Apa yang terjadi Kamis di Champs-Elysees?

Sebuah mobil berhenti di samping sebuah bus polisi sebelum pukul 21:00 waktu setempat. Seorang pria keluar, melepaskan tembakan ke bus dengan senjata otomatis.

Setelah membunuh seorang perwira, pria tersebut berusaha melarikan diri saat menembaki petugas lainnya. Dua di antaranya terluka. Dia kemudian ditembak mati oleh pasukan keamanan.

Saksi mata yang ketakutan menceritakan situasi kepanikan saat mereka berlari ke sana-kemari setelah mendengar tembakan.

Seluruh Champs Elysees dievakuasi

Popularitasnya termashyur di seluruh dunia dan banyak dikunjungi wisatawan. Jalanan sekitar Champs Elysees telah lama dilihat sebagai target potensial, lapor reporter BBC Hugh Schofield di Paris.

Semalam, sebuah bangunan di pinggiran timur Paris di Chelles digeledah para penyidik terkait serangan teror.


Polisi memeriksa sebuah alamat di Chelles. (Foto: Reuters)

Apa yang diketahui tentang penyerang?

Jaksa Paris François Molins mengatakan tak lama setelah penembakan, "identitas penyerang diketahui dan telah diverifikasi".

"Saya tidak akan mengungkapkannya, karena investigasi dan penggerebekan sedang berlangsung, terutama untuk menentukan apakah ada bukti atau tidak adanya keterlibatan (dalam serangan ini)," katanya, seraya menambahkan bahwa lebih banyak informasi akan dirilis, pada Jumat.

Menurut media Prancis, penyerang menjalani hukuman beberapa tahun penjara karena menembaki petugas polisi dengan pistol di awal 2000-an. Baru-baru ini, dinas intelijen mengidentifikasinya sebagai individu yang berpotensi menjadi ektremis.

Sementara itu, ISIS menamakan penyerang tersebut sebagai Abu-Yusuf al-Baljiki, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan gerai berita Amaq.

Menteri Dalam Negeri Belgia berkata kepada stasiun penyiaran publik VRT bahwa pelaku adalah warga negara Prancis.

Mungkinkah serangan itu memengaruhi pilpres?

Serangan tersebut terjadi tatkala sebelas kandidat dalam pemilihan presiden muncul dalam penampilan debat TV terakhir.

Tiga dari empat kandidat utama, capres moderat Emmanuel Macron, sayap kanan Francois Fillon, dan tokoh sayap kanan Le Marine Le Pen, telah membatalkan kampanye yang dijadwalkan pada Jumat.

Le Pen mengatakan kepada sebuah stasiun radio Prancis bahwa dia khawatir akan adanya serangan lain di Prancis, dan mengatakan bahwa negaranya harus segera memulihkan pengawasan di perbatasan.

"Saya merasakan hal yang sama beserta pasukan keamanan kita, yang kembali menjadi target," tulis Le Pen di Twitter.

Sementara capres independen Emmanuel Macron mendesak warga negara Prancis untuk tidak "menyerah dalam ketakutan." 

Fillon, dari Partai Republik, juga menulis pesan di Twitter: "penghormatan kepada pasukan keamanan yang membaktikan hidup mereka demi melindungi kita."

Jean-Luc Melenchon, yang berhaluan kiri, menulis, "Saya sangat merasakan duka bersama polisi yang meninggal dan terluka beserta keluarga mereka."

 


(WIL)

OKI Didesak Turun Tangan Mengatasi Tragedi Al Aqsa

OKI Didesak Turun Tangan Mengatasi Tragedi Al Aqsa

5 hours Ago

OKI diharapkan aktif menghimpun kekuatan negara-negara lain di dunia untuk menghentikan tindakan…

BERITA LAINNYA