Teror Stockholm: Bocah 11 Tahun Tewas Ditabrak saat Pulang Sekolah

Arpan Rahman    •    Minggu, 09 Apr 2017 21:11 WIB
aksi teror
Teror Stockholm: Bocah 11 Tahun Tewas Ditabrak saat Pulang Sekolah
Polisi telah menangkap sopir truk yang diduga sebagai simpatisan ISIS. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Stockholm: Seorang bocah perempuan berusia 11 tahun menjadi satu dari empat korban yang tewas ditabrak sebuah truk di Stockholm, Swedia, Jumat 7 April 2017. 

Sopir truk diketahui sebagai simpatisan kelompok militan Islamic State (ISIS) yang berniat menewaskan banyak orang dengan menabrak kerumunan pejalan kaki.

Gadis itu berjalan kaki di jam pulang sekolah, saat seorang sopir truk sengaja melaju ke arah kerumunan orang di pusat kota Stockholm. Kerabat bocah itu mengonfirmasi kepada media lokal bahwa dia adalah salah satu korban dari serangan teror.

Korban sedang dalam perjalanan untuk menemui ibunya di stasiun kereta bawah tanah. Mereka berbicara di telepon sesaat sebelum serangan berlangsung. Itulah saat terakhir sang ibu dapat berbicara dengan putrinya.

Seorang anggota keluarga mengatakan kepada surat kabar Expressen bahwa polisi telah mengonfirmasi kematian bocah itu. Keluarga korban sebelumnya telah menyampaikan permohonan yang sangat menyedihkan di media sosial setelah mereka tidak bisa menemukan bocah perempuan itu usai serangan.

Sepupu ibu gadis itu berkata kepada Expressen bahwa keluarganya mengecek ke rumah-rumah sakit dan mencari bila dia masih berada di sekitar pusat kota. Polisi menyampaikan kabar buruk pada Sabtu 8 April sore.

"Sangat menyedihkan," kata kerabat korban, seperti dikutip Mirror, Minggu 9 April 2017. Sepuluh korban, termasuk seorang anak, masih dirawat di rumah sakit karena cedera.


Usai menabrak pejalan kaki, truk menghantam sebuah toko. (Foto: Reuters)

Simpatisan ISIS

Sementara itu polisi mengumumkan bahwa orang asal Uzbekistan, 39, yang ditawan di tahanan adalah terduga pengemudi truk bajakan. Pria itu semula diketahui intelijen Swedia sebagai sosok marjinal tanpa mata rantai yang jelas dengan berbagai kelompok ekstremis.

"Tidak ada yang menunjukkan bahwa kita menangkap orang yang salah, sebaliknya, kecurigaan tambah kuat saat penyelidikan berkembang," kata Dan Eliasson, kepala kepolisian nasional Swedia, kepada wartawan.

Pria itu ditangkap pada Jumat malam atas tuduhan terorisme. Sekarang polisi menyelidiki motif serangan, dan apakah ia memiliki kaki tangan.

Sejumlah laporan menyebutkan ia melarikan diri ke kereta bawah tanah setelah serangan. Ia lalu ditangkap setelah bertingkah "aneh" di sebuah toko di Marsta, pinggiran Stockholm.

Laman Facebook tersangka menunjukkan dia memberi tanda 'suka' pada video yang diterbitkan ISIS dan sebuah foto dari pembantaian yang diakibatkan bom di Boston Marathon pada 2013.

Serangan di jantung kota Stockholm mirip dengan serangan teror baru-baru ini di Nice, Berlin, dan London.

Raja Swedia Carl Gustaf, yang memperpendek perjalanan ke Brazil dan terbang pulang, mengatakan dalam pidato televisi bahwa, "mereka yang ingin membantu kita lebih banyak daripada mereka yang ingin mengganggu kita."

"Swedia, telah lama dan akan terus menjadi negara yang aman dan damai," ungkapnya.


(WIL)